SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 25 Juni 2017
BS logo

3 Mahasiswa Prasetya Mulya, Merintis Jadi Pengembang
Rabu, 30 April 2014 | 19:59

Ilustrasi town house. [MahoganyPlace3.net] Ilustrasi town house. [MahoganyPlace3.net]
Memulai bisnis tidak harus selesai kuliah dulu. Di bangku mahasiswa pun, tak sedikit yang mampu mengembangkan bisnisnya, meskipun masih dalam skala kecil.

Hal itu dilakukan oleh tiga mahasiswa Prasetiya Mulya. Mereka merintis membangun Town House Nabila Residence di Jalan Musyawarah, Parung Benying, Serua, Ciputat, Tangerang Selatan.

Dion Maulana Mohamad, salah satu mahasiswa Prasetiya Mulya di Tangerang, mengatakan, bisnis properti ini dirintisnya bersama dengan dua rekannya, yakni Andhika Pratama dan Aditya Julio.

"Bisnis ini merupakan kelanjutan dari yang telah kami lakukan sebelumnya di wilayah Cinere dengan membangun tujuh unit," kata Dion Maulana Mohammad, selaku Marketing Manager Nabila Residence.

Untuk pembangunan Town House Nabila Residence, Dion bersama dua rekannya menanamkan investasi RP 300 juta untuk membangun sembilan unit.

Saat ini, sudah tiga unit rumah yang terjual.

Dion, yang kini masih berstatus mahasiswa semester delapan, menambahkan, Nabila Residence dijual seharga Rp 430 juta dengan tipe LB 50 dan LT 80.

"Kami menargetkan penjualan town house ini dapat laku dalam waktu enam bulan ke depan karena memiliki akses yang mudah, seperti stasiun kereta api, Tol JORR, dan pusat belanja," katanya.

Ia menambahkan, untuk meningkatkan animo warga, pihaknya membuat promo menarik untuk calon pembeli rumahnya.

Selama masa promo, Pembeli berhak mendapatkan Paket Liburan ke Bali untuk dua orang selama tiga hari dua malam, TV LCD 32 inch, dan Air Conditioner.

"Hanya dengan booking fee Rp 2,5 juta," tegasnya.

Andhika Pratama, mahasiswa Prasetya Mulya lainnya menuturkan, tren industri properti selalu mengalami pertumbuhan.

Bahkan dari tahun 2012, sektor residensial mengalami kenaikan yang cukup pesat, yakni sebesar 10 persen. Kebutuhan akan perumahan masyarakat kelas menengah meningkat, menyebabkan Backlog mencapai 15 Juta unit.

Apalagi, masyarakat kini sulit mendapatkan rumah yang terjangkau, namun berkualitas.

Ditambah lagi dengan maraknya pengembang properti yang hanya asal menjualkan rumah, tanpa memperhatikan kenyamanan dengan pembelinya.

"Karena itulah kami merasa mempunyai kewajiban moral untuk memenuhi kebutuhan tersebut," terangnya. [Ant/N-6]



Kirim Komentar Anda


Pasang iklan disini via B1 Ads
Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.