SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 2 Oktober 2014
BS logo

Boediono: Pemerintah Siap Hadapi Krisis
Senin, 12 Desember 2011 | 10:17

Wapres Boediono (tengah) didampingi Dewi Fortuna Anwar (kiri) dan Bambang Darmono [SP/Debora Manja] Wapres Boediono (tengah) didampingi Dewi Fortuna Anwar (kiri) dan Bambang Darmono [SP/Debora Manja]

[JAKARTA] Indonesia siap menghadapi krisis Eropa dan Amerika. Bahkan, pemerintah sudah menyiapkan beberapa
skenario bilamana krisis Eropa memburuk dan menghantam perekonomian Indonesia.

Wakil Presiden RI Boediono mengatakan, dari setiap indikator yang diperlihatkan hingga akhir tahun ini, ekonomi Indonesia menunjukkan hasil yang melegakan. Kendati demikian, pemerintah menurutnya harus tetap waspada mengingat Indonesia merupakan bagian dari komunitas ekonomi global.

"Bukan pesimis, tapi waspada. Yang bisa saya katakan, pemerintah siap untuk mengantisipasi apapun yang terjadi nanti (memburuknya krisis Eropa). Kita sudah punya pengalaman yang memprihatinkan di 97/98 dan itu dampaknya luar biasa, ditambah lagi krisis 2008 yang lebih besar," ungkapnya dalam seminar BNI Economic Outlook 2012 di Jakarta, Senin (12/12).

Dalam momemtum ekonomi Asia terutama Indonesia yang menjadi pusat pertumbuhan dunia, diharapkan Indonesia dapat memposisikan diri secara tepat. Apalagi, Indonesia memiliki amunisi yang masih banyak seperti cadangan devisa yang besar dan pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya tengah menanjak dibandingkan negara lainnya termasuk Tiongkok dan India.

Namun begitu, diakuinya dalam jangka pendek, Indonesia memiliki kendala yang harus segera ditangani yakni terkait masalah infrastruktur. "Dalam 5-10 tahun kendala kita adalah infrastruktur, kalau ingin tumbuh 7% setiap tahun maka ini harus dibenahi. Lalu, dalam lima tahun keatas ada juga yang harus konsen yakni sumber daya manusia yang terampil," tukas dia.

Boediono menambahkan, selain pemerintah yang sudah siap hadapi krisis, diharapkan masyarakat dan dunia usaha, serta dunia politik juga bisa bersama-sama siap hadapi krisis. "Kta harus siap bersama-sama hadapi
kedepan, kita dalam satu kapal," imbuhnya.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo sebelumnya memprediksi ketahanan ekonomi Indonesia, khususnya sektor keuangan tahun depan masih kuat. Namun, tegasnya, tetap perlu diantisipasi kondisi global ekonomi yang bisa berdampak pada Indonesia, yakni krisis Eropa dan Amerika.

"Kita di pemerintah terus melakukan kajian, persiapan, dan antar-kementerian. Bahkan sudah lebih dari koordinasi di tingkat Menko, sudah sampai koordinasi di tingkat presiden dan di sidang paripurna. Kita mempersiapkan diri untuk jika kondisi global yang buruk itu berdampak kepada indonesia," ungkapnya.

Meski begitu, diakuinya yang harus diwaspadai tahun depan adalah harga dan lifting minyak yang bisa mempengaruhi APBN 2012. Tetapi secara umum APBN 2012 menurutnya masih memadai. Pemerintah pun sudah selama dua bulan ini mempersiapkan diri kalau kondisi global memburuk. "Kami telah membuat segala skenario dampak krisis ekonomi global kepada Indonesia dan respon apa yang akan diambil," ucapnya.

Bahkan, dirinya optmistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tetap sampai 6,7%. "Kita waspada ini berdampak kepada Indonesia, pertumbuhan ekonomi tidak naik sampai 6,7%. Tapi kita sudah siap mengantisipasi," tambahnya.

Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Bidang Kebijakan Moneter dan Hubungan Internasional Hartadi A Sarwono meyakini, ekonomi Indonesia pun diyakini bakal lebih tahan dalam menghadapi krisis ekonomi Eropa dan Amerika ketimbang negara regional lainnya termasuk Tiongkok dan India. Lebih lanjut, ekonomi Indonesia tahun depan bisa mencapai 6,7% atau sesuai dengan target pemerintah jika sumber pertumbuhan ekonomi bisa dimaksimalkan.

Di tempat yang sama, Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo mengatakan, pihaknya masih melihat outlook ekonomi tahun depan masih cukup baik buat perkembangan perbankan nasional, bahkan menurut dia sudah sepantasnya jikalau Indonesia menerima investment grade  sejak tahun lalu. Industri perbankan, sambungnya, sudah mengalami kemajuan yang luar biasa, misalnya saja LDR di tahun 2000 baru mencapai 35% dan melambung ke 81% pada 10 tahun berikutnya.

Sementara hingga kuartal III 2011 kredit perbankan mencatatkan kenaikan 25,3% dengan total dana pihak ketiga (DPK) naik 18,7%. Bahkan, dengan tingkat CAR yang tinggi dan rendahnya NPL maka perbankan nasional dinilai bisa tahan krisis Eropa.

"Secara internal, perbankan internal lebih siap hadapi krisis Eropa yang akan terjadi. Bahkan, kinerja perbankan akan terdorong lebih baik jika MP3EI dapat segera terlaksana sehingga fungsi intermediasi menjadi lebih baik lagi," ujarnya. [O-2]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!