SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 1 November 2014
BS logo

Jaga Pasokan Barang dan BBM

Kenaikan Harga BBM Bersubsidi, 7 Juni
Selasa, 28 Mei 2013 | 11:43

Ilustrasi subsidi BBM [google] Ilustrasi subsidi BBM [google]

[STOCKHOLM] Harga baru bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi kemungkinan diumumkan, Jumat (7/6). Kesepakatan pemerintah dan DPR diperkirakan tercapai Kamis (30/5) atau Jumat (31/5) akhir pekan ini.

“Hari Rabu, 29 Mei malam, Menkeu akan melaporkan perkembangan pembahasan di DPR lewat telepon. Saat itu, Presiden akan memutuskan sikap pemerintah,” kata Menteri Perindustrian MS Hidayat kepada wartawan SP, Primus Dorimulu, Senin (27/5) malam, sesaat tiba di Stockholm, Swedia, bersama rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebagian anggota fraksi di DPR tidak setuju Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) diberikan selama enam bulan. Mereka menyarankan maksimal dua hingga tiga bulan. “Saya kira titik kompromi nantinya lima bulan,” ungkap Hidayat.

Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri menuturkan, per Juni 2013, pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 2.000 per liter untuk premium, menjadi Rp 6.500. Sedangkan untuk solar naik Rp 1.000 per liter, menjadi Rp 5.500.
“Meski harga BBM bersubsidi akan dinaikkan, pemerintah mengusulkan kenaikan subsidi BBM dari Rp 193,8 triliun dalam APBN 2013 menjadi Rp 209,9 triliun dalam RAPBN-P 2013. Sedangkan volume BBM bersubsidi bertambah menjadi 48 juta kiloliter (dari 46,01 juta kiloliter),” kata Menkeu, pekan lalu.

Ekonom senior dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Pande Radja Silalahi menyambut baik langkah pemerintah untuk cepat mengumumkan kenaikan harga BBM dan besaran kenaikannya. “Lebih cepat lebih baik kenaikannya meskipun seharusnya naik dari Januari kemarin. Akan ada yang diirit Rp 40 triliun,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat sudah dari jauh-jauh hari mengetahui akan adanya kenaikan tapi yang menjadi masalah adalah ketidakpastian waktu dan harga. Para ekonom, sambungnya, juga menyuarakan bahwa penyaluran BBM bersubsidi sudah tidak sehat dan bisa memboroskan keuangan negara karena tidak tepat sasaran.

Jaga Pasokan Barang
Ke depan, yang paling penting kata Pande di tengah kenaikan harga BBM adalah ketersediaan pasokan. “Yang paling penting jangan ada ketidakcukupan pasokan. Itu yang bisa mancing masyarakat marah, sudah naik tidak ada barang,” tegasnya.

Meski minyak tak lepas dari kepentingan ekonomi sekaligus politik, Pande berharap langkah penaikan harga BBM bersubsidi tidak dipolitisasi secara tidak sehat.

Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Sri Adiningsih juga meminta agar pemerintah menjaga ketersediaan pasokan BBM. “Yang patut dicermati dampaknya sudah mendekati puasa. Supaya dijaga pasokan ketersediaan barang-barang. Kalau tidak harganya bisa melambung tinggi,” katanya.

Penyesuaian kenaikan akan makan waktu satu hingga dua bulan, berarti masuk bulan puasa dan lebaran. “Pemerintah, Bulog harus jaga ketersediaannya supaya tidak menimbulkan harga yang tinggi,” tambah dia.

Terkait harga yang naik sekitar 45 persen dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.500 untuk premium, menurutnya, itu cukup besar. Dampaknya akan cukup tinggi karena tarif transportasi dan harga lainnya akan menyesuaikan.

“Tidak mudah diterima jika naiknya 45 persen, dan akan ada penolakan. Dari hasil studi di UGM kalau naiknya Rp 1.500 akan lebih mudah. Tapi mau tidak mau harga BBM harus naik. Semakin diundur mendekati puasa, semakin besar pula dampaknya,” katanya.

Chatib mengatakan, dalam skenario terburuk APBN 2013, jika tidak dilakukan penaikan harga BBM, subsidi dapat membengkak menjadi Rp 297,7 triliun.

Menurut Wakil Ketua Badan Anggaran DPR dari Fraksi PKS Tamsil Limrung, sesuai UU APBN Tahun 2013, penaikan harga BBM bersubsidi kini sudah menjadi wewenang pemerintah. Setelah APBN-P disetujui, pemerintah dapat langsung menaikkan harga BBM pada Juni 2013. Proses pembahasan APBN-P, sesuai aturan, tidak boleh melebih satu bulan.

“Untuk volume BBM bersubsidi memang tidak bisa dibatasi. Tapi, dengan adanya penaikan harga BBM, masyarakat akan lebih hemat menggunakan BBM,” ujar dia.

Chatib menjelaskan, tanpa penaikan harga BBM bersubsidi, disparitas harga dengan BBM nonsubsidi akan meningkat karena harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) naik lebih tinggi dari asumsi APBN 2013 dan melemahnya nilai tukar rupiah. Tingginya disparitas mendorong volume BBM bersubsidi meningkat dan anggaran yang harus dikeluarkan pemerintah membengkak.

Pemerintah memperkirakan ICP tahun ini US$ 108 per barel, dari asumsi semula US$ 100.  Sedangkan  nilai tukar rupiah dalam asumsi makro RAPBN-P 2013 diusulkan menjadi Rp 9.600 per dolar AS dari sebelumnya Rp 9.300.

“Jika harga BBM bersubsidi tidak dinaikkan, hal tersebut juga mendorong peningkatan impor migas dan menekan neraca pembayaran. Ini akibatnya mendorong defisit transaksi berjalan dan neraca pembayaran. Akhirnya, fiskal defisit, neraca pembayaran defisit, dan cadangan devisa akan melemah,” ujar dia.

Selain itu, lembaga pemeringkat Standard & Poor's (S&P) juga telah merevisi outlook surat utang Indonesia, dari positif ke stabil, karena mengkhawatirkan kondisi ekonomi makro Indonesia akibat lonjakan subsidi BBM. Hal tersebut dapat berdampak menurunkan kepercayaan investor, sehingga arus modal yang masuk ke Indonesia terganggu.

“Kalau arus modal asing atau arus modal turun, impor migas naik, dan ekspor turun, rupiah akan melemah. Pelemahan rupiah berakibat meningkatkan inflasi karena tekanan impor.  Sekarang, rupiah berkisar Rp 9.600-9.700 per dolar AS,” ungkap dia.

Selain itu, lanjut dia, penurunan outlook S&P dapat menaikkan yield (imbal hasil) surat utang pemerintah maupun korporasi. Akibatnya, beban korporasi yang memiliki utang di luar negeri meningkat dan menurunkan kinerja perusahaan.
“Ini bisa menurunkan penerimaan pajak dan menaikkan pengangguran, yang pada akhirnya menambah kemiskinan,” ucap dia. 

Dia mengungkapkan, struktur subsidi BBM saat ini tidak berpihak kepada kelompok miskin, karena lebih banyak dinikmati pemilik mobil. Untuk itu, sebagian anggaran subsidi BBM harus dipindahkan ke anggaran yang lebih prorakyat miskin.

“Dengan penaikan harga BBM bersubsidi, inflasi dalam RAPBN-P 2013 ditargetkan 7,2 persen (dalam APBN 2013 hanya ditargetkan 4,9 persen). Sedangkan, inflasi tanpa penaikan harga BBM diperkirakan sebesar 5,6 persen,” imbuh dia.

Sedangkan Bank Indonesia (BI) memperkirakan, inflasi dapat mencapai sekitar 7,76 persen jika dilakukan kebijakan penyesuaian harga BBM dan tidak adanya pelonggaran kebijakan terkait pembatasan holtikultura. Sedangkan, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan hanya mencapai sekitar 6,2 persen.

Gubernur BI Agus Martowardojo menuturkan, inflasi pada tahun ini akan tinggi jika tidak ada kebijakan lebih lanjut terkait pembatasan holtikultura dan diperkirakan berada pada kisaran 5,58 persen. Namun, jika dilakukan kenaikan harga pada BBM, akan memberikan tambahan inflasi sebesar 2,46 persen.

“Kenaikan harga BBM akan memberikan dampak langsung dan dampak lanjutannya ke barang lain, seperti biaya transportasi dan kenaikan harga pangan seiring kenaikan biaya transportasi. Untuk itu, sepanjang tahun ini inflasi diperkirakan mencapai 7,76 persen,” ujar Agus, Senin (27/5).

Setelah kenaikan harga BBM, menurut dia, tarif angkutan darat luar kota diperkirakan meningkat 19 persen, dan tarif angkutan dalam kota meningkat sebesar 10 persen. Bahkan, Organda DKI Jakarta saat ini berencana menaikkan tarif 20persen, demikian pula taksi.

Sementara itu, hasil survei terbaru Lembaga Survei Nasional (LSN) menyebutkan, mayoritas publik menolak penaikan harga BBM bersubsidi karena akan memberatkan ekonomi rumah tangga masyarakat. Publik juga menyadari, penaikan harga BBM merupakan pintu masuk yang paling logis untuk peluncuran BLSM, yang sarat dengan muatan politik praktis menjelang Pemilu 2014.

Menurut Direktur Eksekutif LSN, Umar S Bakry, sebanyak 86,1 persen responden dengan tegas menyatakan tidak setuju dan hanya 12,4 persen yang mengaku setuju penaikan harga BBM. Sebanyak 1,5 persen responden menyatakan tidak tahu. [O-2/M-6/Y-7]  




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!