SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 25 Oktober 2014
BS logo

Korban Longsor di Freeport Dapat Santunan Jamsostek
Kamis, 16 Mei 2013 | 6:15

Pintu terowongan Big Gosan, ruang kelas11 Quality Management Service (QMS) milik PT Freeport, Papua. [SP/Robert Isidorus] Pintu terowongan Big Gosan, ruang kelas11 Quality Management Service (QMS) milik PT Freeport, Papua. [SP/Robert Isidorus]

[JAKARTA]  Para pekerja tambang yang mengalami musibah di PT Freeport, Papua Barat, Selasa (14/5), dipastikan mendapatkan jaminan kecelakaan kerja dan kematian dari PT Jamsostek (Persero).

“Mereka semua anggota Jamsostek oleh karena itu pasti mendapat santunan Jamsostek,” kata Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jamsostek, Irianto Simbolon, kepada SP, Rabu (15/5) malam.  

Sebagaimana diberitakan, sekitar 40 orang pekerja PT Freeport Indonesia tertimbun material longsor saat sedang melakukan latihan keselamatan (training safety) di tambang bawah tanah Big Gossan, Tembagapura, Selasa (14/5).

Menurut Irianto, sampai Rabu (15/5) malam dilaporkan sebanyak tiga dipastikan meninggal dunia.  

Direktur Kepesertaan PT Jamsostek (Persero), Junaidi, mengatakan, semua karyawan PT Freeport adalah anggota Jamsostek.

Oleh karena itu, kata dia, semua yang mengalami musibah pasti mendapatkan santunan atau jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian dari PT Jamsostek.

“Besarnya santunan tentu sesuai dengan besarnya upah yang mereka laporkan ke PT Jamsostek. Aturannya jelas,” kata Junaidi.  

Irianto mengatakan, Rabu (15/5) sore pihaknya memanggil pihak PT Freeport ke kantornya untuk meminta penjelasan mengenai kasus tersebut.

“Dari pertemuan kami tadi disimpulkan kejadian itu adalah bencana alam, yakni longsor. Oleh karena itu yang didahulukan sekarang adalah evakuasi para korban,” kata Irianto.  

Sementara Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar mengatakan, sampai saat ini pihak Kemnakertrans masih berkoordinasi dan bekerja sama dengan Polri, Dinas Tenaga Kerja Provinsi Papua Barat dan Kementerian ESDM untuk mempercepat upaya penyelamatan dan menyelidiki penyebab utama terjadinya kecelakaan.

“Kita masih fokus pada upaya-upaya pencarian dan penyelamatan para korban yang masih tertimbun di lokasi serta  menyelidiki penyebab kecelakaan kerja yang terjadi, apakah itu akibat human error ataupun murni peristiwa bencana alam,”kata Muhaimin.  

Muhaimin mengatakan, pihaknya telah menginstuksikan Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan (PPK) untuk mengambil langkah-langkah terkait kecelakaan kerja freeport ini, termasuk berkoordinasi dengan Kementerian ESDM selaku pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di bidang pertambangan.

“Kita terus membantu dan mengawal proses evakuasi di lokasi kejadian. Bahkan untuk mempercepat proses evakuasi dan menyelidiki penyebab kecelakaan, dari pusat dilaporkan telah mengirimkan tiga orang instruktur tambang yang ahli menangani kasus serupa ini,” kata Muhaimin.  

Muhaimin mengatakan, resiko kecelakaan kerja didalam proses produksi di sektor pertambangan memang cukup tinggi. Oleh karena itu, kita terus ingatkan dan sosialisasikan kepada perusahaan-perusahaan tambang dan para pekerjanya agar selalu menaati prosedur K3 di  lokasi kerja.  

Berdasarkan laporan terkini,  diperoleh informasi, saat ini kegiatan operasi freeport sementara dihentikan untuk mengakomodir keinginan karyawan yg saat ini sedang berduka dan perusahaan dapat sepenuhnya fokus dalam upaya evakuasi dan penyelamatan karyawan yg masih terperangkap.  

Diperkirakan total karyawan yang menjadi korban longsor  saat mengikuti refresher course di tambang bawah tanah Big Gosan berjumlah 40 orang.

Para korban berada di fasilitas pelatihan bawah tanah, bukan di area tambang (500 m dari mulut tambang) dan terjebak longsor sejak Senin (13/5). [E-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!