SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Oktober 2014
BS logo

Menperin: Mobnas Sebaiknya Berkapasitas 700 cc
Selasa, 31 Januari 2012 | 14:52

MS Hidayat. [Dok.SP] MS Hidayat. [Dok.SP]

[JAKARTA] Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, untuk tahap awal mobil nasional (mobnas) sebaiknya berkapasitas 700cc karena itu merupakan pilihan yang paling baik dan memiliki pasar sendiri.

"Untuk mobnas, sebaiknya berkapasitas 700cc dan secara bertahap bisa dinaikkan, karena apabila langsung memproduksi mobil dengan kapasitas 1500cc kita langsung berhadapan dengan semua merek mobil terkenal di dunia," kata Hidayat, di Jakarta, Selasa (31/1).

Menperin mengatakan, dengan memproduksi mobil dengan kapasitas 700cc merupakan salah satu strategi awal agar tidak kalah bersaing dengan merek mobil dunia yang telah memiliki pengalaman berpuluh-puluh tahun dan menjaga kelangsungan produksi mobnas itu sendiri.

"Apabila keinginan rakyat adalah untuk membuat mobil nasional bisa kita mulai, namun harus realistis agar tidak kalah bersaing," tambah Hidayat.

Hidayat mengatakan bahwa mobil nasional sebaiknya dimulai secara bertahap, dari 700 cc ke 1000cc dan untuk nantinya bisa ke 1500 cc. Industri mobil merupakan industri yang padat modal dan teknologi yang terkait dengan pasar global.

Sementara itu, menanggapi pertanyaan seputar pengenaan tarif bea masuk sebesar sepuluh persen untuk mesin utama (main engine) bagi produsen otomotif dalam negeri, Hidayat mengatakan bahwa hal tersebut telah sesuai dengan Buku Tarif Kepabeanan Indonesia 2012.

"Untuk tarif bea masuk mesin utama secara utuh sebesar 10 persen, namun apabila untuk pasokan dan dirakit di Indonesia dikenakan bea masuk 2,5 persen, hal tersebut dilakukan agar industri rakitan dalam negeri bisa tumbuh," katanya.

Ia mengatakan bahwa apabila mesin utama tidak dikenakan bea impor sebesar sepuluh persen, maka yang akan diuntungkan adalah prinsipal industri mereka, sedangkan industri di Indonesia tidak akan berkembang.

"Nantinya, kita harap bisa menciptakan sendiri bukan hanya merakit saja, karena Indonesia mempunyai kemampuan untuk bersaing dengan Thailand dan menjadi pusat industri," katanya. [Ant/L-9]





Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!