SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 23 Oktober 2014
BS logo

Pemerintah Sepakat Turunkan BM Kedelai
Jumat, 27 Juli 2012 | 5:00

Harga kedelai naik memicu perajin tempe dan tahu di Jabodetabek melakukan aksi mogok [SP/Adi Marsiela] Harga kedelai naik memicu perajin tempe dan tahu di Jabodetabek melakukan aksi mogok [SP/Adi Marsiela]

[JAKARTA]  Pemerintah sepakat untuk menurunkan bea masuk impor kedelai dari 5% menjadi 0% hingga bulan Desember 2012. Hal itu dilakukan untuk meredam kenaikan harga kedelai di dalam negeri.

“Kebijakan ini sifatnya jangka pendek dan sementara, dan ini harus diupayakan dengan penyesuaian konsumsi, mengingat kenaikan harga internasional yang sudah cukup tinggi,” kata Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, Kamis (26/7).  

Ia mengatakan seperti itu untuk memberikan tanggapan mengenai dampak kenaikan harga kedelai yang signifikan di tingkat internasional. Kenaikan tersebut sangat mempengaruhi harga kedelai dalam negeri karena 70% kebutuhan kedelai dalam negeri dipenuhi dari kedelai impor,” katanya. 

 Adapun kenaikan harga internasional, kata dia, disebabkan karena anomali cuaca yang terjadi di Amerika Serikat dan Amerika Selatan (Brasil dan Argentina). Anomali cuaca ini tidak hanya berdampak terhadap pasokan tetapi juga harga.  

Ia mengatakan, selain menurunkan bea masuk, langkah jangka pendek lainnya yang diambil pemerintah adalah memfasilitasi Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Kopti) untuk dapat melakukan importasi sendiri, termasuk juga kemungkinan kerjasama dengan Bulog.  

Sementara itu untuk jangka panjang, Gita menilai Pemerintah harus menetapkan peningkatan produksi sebagai prioritas utama dalam rangka menjaga stabilitas pasokan dan harga di tingkat para perajin tahu-tempe.  

Gita menjelaskan, upaya pemenuhan kebutuhan kedelai di dalam negeri sudah diantisipasi Pemerintah melalui peningkatan produksi kedelai, namun masih terkendala faktor lahan yang berkompetisi dengan jagung, tebu, beras dan konversi lahan untuk kebutuhan lainnya.

Disamping itu, terdapat kendala iklim dimana Indonesia beriklim tropis, sementara kedelai dapat tumbuh baik di daerah beriklim sub-tropis. 

Upaya tersebut terlihat dalam kurun lima tahun terakhir dimana, berdasarkan data statistik Kementerian Pertanian, terdapat kecenderungan peningkatan terhadap rata-rata produksi kedelai sebesar 4,38%, produktivitas 1,04% dan luas lahan untuk tanam kedelai 3,1%. “Namun memang, peningkatan produksi dan produktivitas tersebut belum dapat mengalahkan tingkat,” kata dia.  

Berdasarkan data BPS, tahun 2011 produksi kedelai lokal hanya sebesar 851.286 ton atau 29% dari total kebutuhan, sehingga Indonesia harus mengimpor kedelai sebanyak 2.087.986 ton untuk memenuhi 71% kebutuhan kedelai dalam negeri.  

Pada 2012, total kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,2 juta ton. Jumlah tersebut akan diserap untuk pangan/pengrajin sebesar 83,7% (1.849.843 ton); Industri Kecap, Tauco, dan lainnya sebesar 14,7% (325.220 ton); benih sebesar 1,2% (25.843 ton); dan untuk pakan 0,4% (8.319 ton).  

Harga kedelai internasional pada Minggu III Juli 2012 sudah mencapai USD 622/ton atau Rp. 8.345/kg untuk harga paritas impornya di dalam negeri. Harga ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan harga tertinggi pada 2011, yaitu bulan Februari yang berkisar USD 513/ton atau harga paritas impornya di dalam negeri sekitar Rp. 6.536/kg.  

Impor kedelai terbesar Indonesia tahun 2011 berasal dari Amerika Serikat dengan jumlah 1.847.900 ton, Malaysia 120.074 ton, Argentina 73.037 ton, Uruguay 16.825 ton dan Brasil 13.550 ton. Hingga saat ini, AS merupakan produsen terbesar kedelai di dunia dimana kedelai AS diserap oleh China sebanyak 61,5%, Meksiko 8,74%, Jepang 5,24% dan Indonesia sebesar 5,11%. [E-8]    




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!