SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 22 Oktober 2014
BS logo

Presiden: Ekonomi Indonesia 2013 Masih Rentan
Rabu, 12 Desember 2012 | 22:01

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. [Google] Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. [Google]

[KUTA] Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan prediksi ekonomi Indonesia tahun depan (2013). Prediksi itu disampaikan saat menjadi pembicara kunci pada acara  "Economic Outlook 2013" yang digelar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Kuta, Bali, Rabu (12/12).

Hadir pada acara itu, ibu negara Ani Yudhoyono, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Mensesneg Sudi Silalahi, Seskab Dipo Alam, Menperin MS Hidayat, Mentan Suswono, Menparekraf Mari Elka Pangestu, Menkop dan UKM Syarief Hasan, serta Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Hadir pula Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tandjung, Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Ketua Umum Kadin Bambang Soelisto, dan Ketua Umum Hipmi Raja Sapta Oktohari.

Dalam paparannya, Presiden SBY mengemukakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2013 masih rentan dari gangguan. Pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,3 persen tahun ini bisa saja lebih rendah tahun depan.

Target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8 persen tahun depan pun bisa saja tidak tercapai, karena masih banyaknya gangguan ekonomi regional dan global. Namun, dia optimistik jika semua komponen bangsa bersatu, maka ekonomi Indonesia bisa lebih baik dan pertumbuhan 6,8 persen bisa tercapai.

"Kita bisa memperkirakan ekonomi 2013 dengan basisi kecenderungan. Sepanjang tidak ada diskontinuitas, tidak ada kejutan pada perekonomian dunia dan kawasan atau kejutan di dalam negeri, ekonomi kita akan tumbuh," kata SBY dihadapan 1.000 anggota Hipmi yang hadir pada acara tersebut.

Ia mengajak semua pihak, terutama anggota Hipmi untuk memahami situasi global dan kawasan yang terjadi saat ini. Menurutnya, pertumbuhan global diperkirakan akan menurun tahun depan.

Hal itu mengacu ke prediksi IMF yang semula memprediksi ekonomi akan tumbuh 3,9 persen, namun dikoreksi menjadi 3,6 persen. Kemudian prediksi dari The Organization for Intra-Cultural Development (OICD) yang lebih ekstrim lagi, di mana semula memprediksi pertumbuhan ekonomi global 4,2 persen, tetapi dikoreksi menjadi hanya 3,4 persen.

Sedangkan WTO mengatakan, dalam 20 tahun ini rata-rata pertumbuhan perdagangan 5,4 persen, namun tahun depan diperkirakan hanya 4,5 persen.

"Anda tahu, sedikit saja terjadi krisis pada ekonomi global, akan mempengaruhi ekonomi kita. Ekonomi Amerika Serikat dan Eropa utamanya masih bergejolak. Maka pasti ada pengaruhnya ke ekonomi kita," tutur SBY.

Dia meminta semua komponen, terutama para pengusaha untuk bersama-sama menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pengusaha dan pemerintah harus bergandeng tangan memajukan ekonomi Indonesia.

"Kolaborasi pengusaha dengan pemerintah pusat dan daerah sangat penting guna melihat prospek ekonomi Indonesia tahun depan. Dengan kebersamaan kita bisa menggunakan momentum yang ada bagi pertumbuhan ekonomi di negeri kita ini," tegasnya.

Sebagai salah satu tulang punggung pergerakan ekonomi Indonesia, SBY mengajak Hipmi bekerja lebih keras menjaga kinerja perekonomian nasional sekaligus turut serta mengatasi permasalahan ekonomi pada tingkat kawasan Asia maupun dunia.

Ia meminta anggota Hipmi ikut berpartisipasi dalam perekonomian global dan mengambil keuntungan dari perdagangan internasional.
Pada kesempatan itu, Presiden SBY meminta para pengusaha mapan agar memberi ruang kepada pengusaha pemula dan pengusaha muda di daerah untuk berkembang. Pengusahan mapan dan besar diharapkan tidak monopoli dan menguasai lahan-lahan bisnis di daerah sampai ke bisnis-bisnis kecil.

Menurutnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sudah sepakat memberi kesempatan pengusaha daerah bahwa untuk proyek senilai di bawah Rp 20 miliar diserahkan ke pengusaha pemula. Para gubenur, bupati dan walikota diharapkan menyetujui usulan BUMN tersebut.

Ditegaskannya, kesepakatan itu bukan berarti anti kepada dunia usaha yang besar-besar karena usaha yang besar itu juga menciptkan lapangan pekerjaan, membayar pajak, dan menggerakan yang lain. Namun kesepakatan itu untuk memberi kesempatan kepada para pengusaha pemula bisa berkembang. Kesepakatan itu juga tidak perlu pengaturan melalui keputusan presiden (Keppres).

"Ini imbauan moral, rakyat saya pikir bisa mendukung, pers bisa mendukung. Dengan demikian yang sudah mapan dan kuat bersainglah dengan yang kuat, dengan luar negeri. Yang masih awal kasihlah kesempatan supaya menjadi besar. Tidak boleh bertentangan kelas, yang kecil lawan yang besar. Rakyat lawan bisnis. Tidak boleh," tegasnya.

Ketua Umum Hipmi Pusat Raja Sapta Oktohari dalam pidatonya menyampaikan bahwa dengan kategori Investment Grade yang disandang Indonesia saat ini, foreign direct investment meningkat secara signifikan. Menurutnya, konsistensi pertumbuhan di atas 6 persen selama kurun waktu 5 tahun terakhir menunjukan stabilitas perekonoimian nasional.
 
"Wajar jika banyak lembaga riset dunia meletakan Indonesia sebagai rising star, bahkan diprediksi tahun 2025 nanti Indonesia akan mejadi raksasa perekonomian dunia," kata Okto.[R-14]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!