SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 21 Desember 2014
BS logo

Cuci Tangan dengan Sabun Dapat Cegah Banyak Penyakit
Senin, 10 Oktober 2011 | 15:50

Ilustrasi cuci tangan dengan sabun [google] Ilustrasi cuci tangan dengan sabun [google]

[JAKARTA] Kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS) adalah perilaku sederhana yang paling murah dan mudah untuk dilakukan, namun faktanya tidak semua orang kelakukannya. Padahal, perilaku ini berdampak besar untuk menghindari atau mencegah berbagai penyakit.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukan sebagian besar atau hampir 55% penyakit penyebab kematian bayi usia 29 hari sampai 11 tahun dapat dicegah dengan intervensi lingkungan dan perilaku. Di antaranya  pneumonia atau penyakit radang paru-paru sebanyak 23% dan diare sekitar 31%. “Proporsinya sama pada anak usia 4-11 tahun,” kata Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di sela-sela acara gowes bersama di Istora Senayan Jakarta, akhir pekan lalu.

Gowes bersama ini melibatkan sedikitnya 1.000 pesepeda dari komunitas gowes, pejabat Kemenkes dan kemitraan. Acara ini merupakan rangkaian peringatan Hari CTPS Sedunia pada 15 Oktober ini, dan kampanye menyambut bulan sanitasi dunia.

Menurut Tjandra, kebiasaan CTPS terutama dilakukan pada 6 titik kritis, yakni sebelum mengolah makanan, sebelum makan, setelah buang air besar (BAB),sebelum mengurus bayi, setelah menceboki anak dan setelah memegang hewan.

Dia mengatakan, sebagian orang sudah CTPS, tetapinya hanya sekitar 24% yang melakukannya dengan benar. Bahkan perilaku para ibu sebelum menyusui anaknya dengan tidak mencuci tangan dan puting mencapai 62%. Yang belum berperilaku benar dalam CTPS, misalnya tidak menggunakan air bersih atau mengalir.

Hal ini terkait dengan buruknya sanitasi di Indonesia,bahkan mencapai 53% belum baik. Selain kurangnya akses rumah tangga terhjadap air bersih, buruknya sanitasi juga ditandai dengan 17% dari masyarakat masih BAB sembarangan. Mereka kebanyakan di daerah perifer perkotaan dan pedesaan. Akibatnya, masyarakat setempat cenderung menderita

gangguan saluran cerna, dan lebih berbahayanya mereka akan menularkan penyakit kepada penduduk lain.
Sementara itu, Coorporate Secretary PT Unilever Indonesia Sanjoyo Antariksa mengatakan, melalui brand sabun Lifebuoy, yang juga sebagai pemrakarsa program Gerakan 21 Hari untuk Membentuk Kebiasaan Sehat, telah mengkampanyekan CTPS setiap tahun.

Menurutnya, perubahan besar yang ingin dicapai dalam perilaku CTPS adalah mengurangi dua pertiga (70%) kematian anak di bawah usia 5 tahun pada 2015 mendatang, sebagai salah satu target Tujuan Pembangunan Milenium atau Millenium  Development Goals (MDGs).

Membudayakan CTPS pada saat penting seperti sebelum makan dan setelah dari toilet dapat menyelamatkan lebih banyak jiwa daripada melakukan vaksin atau intervensi medis lainnya. “Penyelenggaraan CTPS sangat penting bagi Indonesia mengingat kondisi kesehatan masyarakat yang umumnya masih memperihatinkan. Seperti tingkat kematian dan kesakitan akibat penyakit yang berkaitan dengan air, sanitasi serta perilaku hidup bersih dan sehat,” katanya.

Dia mengatakan, HCTPS difokuskan pada anak-anak karena mereka menderita diare dan insfeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara tidak proporsional. Selain itu, mereka juga merupakan kelompok paling enerjik, antusias, dan terbuka untuk ide-ide baru. Mereka juga dapat menjadi agen perubahan untuk meningkatkan budaya CTPS di komunitasnya. [D-13]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.