SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 1 November 2014
BS logo

Puasa yang Sehat bagi Para Penderita Diabetes
Rabu, 3 Agustus 2011 | 14:07

Ilustrasi penderita diabetes [google] Ilustrasi penderita diabetes [google]

[JAKARTA] Bagi para penderita diabetes, semangat untuk menjalankan ibadah puasa harus dibarengi dengan pengetahuan cukup agar tidak menimbulkan kesulitan. Bagi penderita diabetes, puasa justru dapat membuat sehat bila dilakukan dengan cara yang benar.

Diabetes adalah penyakit yang terjadi akibat kerusakan pankreas, yakni kelenjar yang memproduksi insulin. Penyakit ini ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah (hiperglikemia). Gejala yang sering timbul adalah sering kencing malam (poliuria), dan sering makan (polifagia) tetapi berat badan tidak bertambah malah seringkali semakin kurus dan sering merasa haus (polidipsa).

Spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Premier Jatinegara, dr Suharko Soebardi, menjelaskan, pada dasarnya penderita diabetes diperbolehkan untuk berpuasa, hanya sebagian kecil saja yang disarankan untuk tidak melakukannya. Salah satu pertanda bagi penderita untuk dapat berpuasa adalah gula darah yang terkendali baik, ditandai dengan nilai Alc baik (di atas 7 persen).

Suharko menganjurkan penderita diabetes memeriksakan diri ke dokter sebelum melakukan puasa, untuk menentukan jadwal makan dan minum obat selama berpuasa. Dalam hal makanan, pada saat puasa terjadi perubahan jadwal, pola, dan jenisnya. Biasanya tiga porsi besar dalam sehari menjadi hanya dua porsi besar, yakni saat berbuka dan sahur.

Untuk sementara waktu sumber kalori dari makanan juga terputus, sehingga secara bertahap glukosa darah semakin menurun. “Penyandang diabetes terkendali baik dengan pengaturan makan saja, maka tidak ada masalah saat berpuasa. Hanya perlu mencermati perubahan jadwal, jenis, dan jumlah makanan,” tutur Suharko, pada seminar tentang diabetes bagi awam, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia juga menyarankan, pemantauan gula darah dilakukan sebelum makan sahur, dan dua jam setelahnya. Sebelum berbuka puasa, dan dua jam sesudahnya. Selain pada waktu-waktu ini, bila kapan saja penderita diabetes merasakan gejala hipoglikemi (kadar gula di bawah normal) maka harus segera memeriksakan diri.

Bila aktivitas siang banyak mengeluarkan air dalam bentuk keringat akibat bekerja di tempat panas dan kering maka ada kemungkinan terjadi dehidrasi. Dia mengatakan, menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur sampai sekitar 15 menit sebelum imsak adalah merupakan sunat puasa, sehingga menjaga badan tetap segar dan sehat. 

Pada waktu buka mulailah dengan makanan bergizi, seperti sari buah dan cocktail buah. Makan waktu berbuka jangan berlebihan, tetapi secara bertahap dan kunyah dengan baik. Lambung merupakan tempat penampungan makanan yang kemudian dicernakan dan disalurkan ke usus halus.

Sering dijumpai orang sakit perut karena makan terlalu kenyang sesudah perut/lambung dalam keadaan kosong. Perkiraan porsi makanan saat berpuasa adalah waktu makan dan distribusi makanan saat berpuasa sebaiknya diatur. Suharko menganjurkan, untuk buka puasa dengan 50% kebutuhan kalori sehari adalah sebelum sholat makan makanan ringan/segar, dan sesudah salat baru makanan utama.

Sedangkan pada waktu sesudah tarawih makanan kecil (10% kebutuhan kalori) dan saat sahur adalah 40% kebutuhan kalori sehari. Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menambahkan, untuk obat diabetes yang tadinya minum setiap pagi diubah waktunya menjadi ketika berbuka puasa, sedangkan dosis untuk sore hari dipindahkan menjadi saat makan sahur. Ini bertujuan untuk menghindari hipoglikemi.

Bagi mereka yang sudah minum obat dosis ganda, harus dilakukan pengaturan agar dosis obat yang lebih besar diminum saat berbuka. Mereka yang sudah menggunakan insulin dosis tunggal digunakan insulin kerja menengah saat berbuka puasa saja. Perlu pemantauan gula darah yang ketat pada pengguna insulin, dan bila ada tanda-tanda ke arah hipoglikemi maka hentikan puasanya.

Untuk pengguna insulin dosis ganda, termasuk penyandang diabetes 1, ibu hamil, diabetes dengan gula darah tidak terkendali, diabetes dengan komplikasi kerusakan organ berat dan akut, tidak dianjurkan untuk berpuasa dan membayar fidyah saja sebagai pengganti berpuasa.

“Yang harus diwaspadai saat berpuasa adalah keadaan hipoglikemi dengan gejala lemas, gemetar, berdebar, lapar, keringat dingin, bicara pelo, pandangan kabur, hingga akhirnya tidak sadar. Keadaan ini terjadi pada umumnya bila kadar gula darah di bawah 60 mg/dl. Jika terjadi keadaan seperti ini maka penyandang diabetes harus segera membatalkan puasanya dengan minuman manis, seperti teh manis dan sirup, lalu makan nasi seperti biasa,” ujarnya.

Selain hipoglikemi, menurut alumni Pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) ini, juga ada kecenderungan terjadi keadaan kekurangan cairan (dehidrasi) dengan gejala rasa haus yang berlebihan, lidah dan kulit kering, pikiran terganggu, dan penurunan berat badan di atas 3 kg. Keadaan ini sering terjadi pada penderita diabetes karena sering berkemih.

Jika kemudian diperiksa gula darah tinggi (di atas 300 mg/dl), maka harus segera membatalkan puasanya. Penderita diabetes usia lanjut sangat rentan dehidrasi, sehingga dianjurkan agar sebelum imsak mereka minum air yang banyak. Keadaan lain yang juga perlu diwaspadai adalah ketosis atau ketoasidosis. Pada keadaan ini, kadar gula darah sangat tinggi dan terbentuk benda keton sehingga darah menjadi bersifat asam. Gejalanya adalah sering berkemih, kekurangan cairan, mual, dan bisa tidak sadarkan diri. [D-13]  




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.