SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Oktober 2014
BS logo

Film ‘Negeri Lima Menara’, Dari Pesantren Menggapai Dunia
Jumat, 17 Februari 2012 | 13:33

Adegan film Negeri Lima Menara [KG Production] Adegan film Negeri Lima Menara [KG Production]

[JAKARTA] Cerita tentang perjuangan mewujudkan mimpi bukanlah hal yang baru. Laskar Pelangi sukses menjadi film yang mengusung tema dari karya novelnya. Kisah Negeri Lima Menara pun berharap bisa mengikuti kesuksesan itu.  

Negeri Lima Menara
adalah sebuah karya novel yang ditulis Ahmad Fuadi, seorang mantan santri. Novel yang menceritakan tentang persahabatan para santri mewujudkan cita-cita itu menjadi salah satu buku best seller belakangan ini. Tak heran jika kisahnya pun diprediksi akan menuai sukses di layar lebar.  

Cerita Negeri Lima Menara ini mengisahkan enam santri yang bersahabat saat mereka menimba ilmu di Pondok Pesantren Madani Ponorogo, Jawa Timur. Keenam santri itu berasal dari kampung halaman yang berbeda, namun mereka memiliki satu visi yang sama. Ingin menjadi sukses dimasa depan nanti.  

Adalah Alif (Gazza Zubizareta) tinggal di sebuah kampung kecil di pinggir Danau Maninjau, Sumatera Barat. Dia yang tidak pernah menginjakkan kakinya ke luar Tanah Minang harus mengalahkan impiannya memenuhi keinginan sang bunda, Amak (Lulu Tobing). Amak menginginkan Alif masuk pesantren di Pulau Jawa, dan kelak bisa bermanfaat bagi banyak orang, seperti Bung Hatta dan Buya Hamka.  

Kepergian Alif ke Pulau Jawa memulai petualangannya di Pesantren Madani. Alif yang lebih senang menyendiri semakin remuk semangatnya karena peraturan yang sangat ketat. Namun seiring berjalannya waktu, Alif mulai bersahabat dengan teman sekamarnya, Baso dari Gowa, Sulawesi Selatan, Atang dari Bandung, Raja dari Medan, Said dari Surabaya, dan Dulmajid dari Madura.   Berawal dari kebiasaan berkumpul di bawah menara masjid, mereka berenam pun menamakan diri Sahibul Menara, alias pemilik menara.  Keenam sahabat ini memiliki impian masing-masing dan bertekad meraihnya.

Seperti Alif yang bertekad dapat mengunjungi Amerika, atau Baso yang bertekad menghafal 30 Juz Al Quran sebelum lulus. Mereka pun menyimbolkan kesuksesan mereka dengan mengirimkan foto mereka yang berlatar belakang menara di kota-kota besar dunia.   Seperti halnya kisah perjuangan yang memberi inspirastif, sejak kecil para sahabat itu selalu optimis mengatasi tantangan yang ada. Mereka berpendapat bahwa akan selalu ada jalan jika ingin berusaha.

Selain mengangkat pesan moral dalam film ini, sutradara Affandi A Rachman juga menampilkan keindahan panorama di kota Bukit Tinggi dan Danau Maninjau, Sumatera Barat.  

Film yang sarat dengan inspirasi tentang tekad, kerja keras, dan persaudaraan ini didukung bintang-bintang muda berbakat seperti Billy Sandy, Ernest Samudra, Rizki Ramdani, Jiofani Lubis, Aris Putra, Eriska Rein. Hanya saja, keenam bintang muda itu kurang mendapatan arahan yang maksimal dari sutradara. Sehingga kekuatan karakter dari masing-masing anggota Sahibul Menara itu tidak tampak jelas.  

Yang mungkin menjadi daya tarik dalam jajaran pemainnya adalah kehadiran Ikang Fawzi, Lulu Tobing, Andhika Pratama, dan Mario Irwinsyah. Bagi Lulu Tobing, ini adalah film pertamanya setelah ia absen dalam dunia akting selama enam tahun.  

“Hari pertama syuting itu saya keringat dingin, karena tidak tahu bagaimana cara akting. Kalau bisa pulang, saya ingin pulang. Saya tidak percaya diri. Tapi yang menyenangkan adalah saya bisa memberikan sesuatu yang berbeda. Film ini banyak memuat pesan yang baik,” ujarnya. [K-11]  

Film                 : Negeri Lima Menara

Sutradara         : Affandi Abdul Rahman

Pemain            : Donny Alamsyah, Lulu Tobing, dan Andika Pratama

Skenario          : Salman Aristo

Genre              : Drama

Produksi          : KG Production    




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!