SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 24 November 2014
BS logo

Drama Wayang “Sumpah Abimanyu”

Menuju Opera Terbaik Dunia
Sabtu, 27 April 2013 | 9:55

Suryandoro & Artis Pendukung Pendiri The Indonesian Opera Drama Wayang Swargaloka. [Istimewa] Suryandoro & Artis Pendukung Pendiri The Indonesian Opera Drama Wayang Swargaloka. [Istimewa]

[JAKARTA] Indonesia berkepentingan menjaga dan melestarikan beragam seni budaya, agar terus dapat dinikmati oleh generasi berikutnya. Untuk itu perlu adanya serangkaian kebijakan serta upaya yang terencana, komprehensif, dan terintegrasi dari semua elemen.  

Menurut Ketua Umum Himpunan Seni Budaya bangsa Indonesia (HISBI) Erman Suparno, melestarikan seni budaya bangsa, khususnya seni tradisional Indonesia, bukan semata-mata menjadi kepentingan dan tanggung jawab pemerintah.

Tetapi juga kewajiban semua lapisan masyarakat, termasuk para senimannya.   Hal ini terkait dengan rencana pementasan The Indonesian Opera Drama Wayang Swargaloka di bawah binaannya.

Membawakan lakon“Sumpah Abimanyu” (The 13th Day of Barathayuda), yang akan digelar di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Selasa 30 April 2013 pukul 20.00 WIB mendatang.  

Opera Wayang  “Sumpah Abimanyu” sebelumnya sukses dipentaskan dan sempat membuat terharu sekitar 1.000 orang penonton, di Taman Budaya Yogyakarta, 22 Desember 2012 lalu.

The Indonesian Opera Drama Wayang Swargaloka, adalah sebuah penyajian seni tradisional dalam kemasan baru. Perpaduan wayang orang, wayang kulit, seni musik, seni rupa dan teater modern, yang didukung oleh 150 seniman dan disajikan dalam bahasa Indonesia.  

Pentas Selasa (30/4) mendatang, menghadirkan para bintang panggung dari Jakarta, Yogyakarta, dan Surakarta. Diantaranya Dewi Sulastri (Dewi Utari), Ali Marsudi (Abimanyu), Agus Prasetyo (Resi Bisma), Eny Sulistyowati (Srikandi),  Ida Riyani (Sembodro), Siti Maryuni (Kunti), Koko Sudarmaji (Resi Durna), Achmad Dipoyono (Gatotkaca), Irwan Riyadi (Basukarna), Bathara (Sumitra), dan puluhan pemain pendukung lainnya. Didukung para penari dan pemusik alumnus perguruan tinggi seni, yang memiliki reputasi dan prestasi dunia.  

Mencontoh Totalitas Kabuki Erman Suparno, mengambil contoh totalitas seniman Kabuki (kesenian tradisi Jepang yang mengedepankan unsur musik atau lagu, tarian dan akting). Jepang itu negera maju dan modern.  

”Meski demikian mereka tetap menjaga kelestarian, keutuhan budaya tradisinya. Totalitas para seniman Kabuki itu bisa menjadi acuan bagi kita. Meski Jepang sudah canggih, tapi tetap melestarikan budaya tradisionalnya hingga usianya empat ratus tahun lebih,” ujar mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi itu.  

Bila dibanding Jepang, kata Erman, khasanah seni dan budaya Indonesia justru lebih kaya. Bangsa Indonesia lebih dari 300 kelompok etnik. Ada lebih dari 1.340 suku. Potensi ini yang menjadikan bangsa ini sangat kaya dengan keragaman budaya bila dibanding bangsa manapun.  

”Bila potensi ini mampu kita eksplor secara maksimal maka akan mejadi kekuatan kultural bagi bangsa ini,” ucap dia.  

Sebagai generator HISBI, bagi Erman, menjadi keharusan mendukung berbagai upaya para seniman, termasuk apa yang sudah dilakukan oleh para seniman yang tergabung di Swargaloka Art and Culture Foundation. 

“Swargaloka  selama ini dinilai berhasil menggiatkan seni tradisi dengan berbagai strateginya.   Upaya kreatif yang terus membuka cakrawala pemikiran kita. Menyajikan seni tradisionil dengan kemasan baru kolosal dan spektakuler. Memadukan wayang orang, wayang kulit, seni musik, seni rupa, teater modern, dengan sentuhan multimedia, dan memakai pengantar bahasa Indonesia,” ujar salah satu Pembina Swargaloka Art and Culture Foundation, yang juga dosen di beberapa universitas ini.  

Untuk mendukung gerakan kebudayaan ini, The Indonesian Opera Drama Wayang Swargaloka, juga sempat melibatkan beberapa artis penyanyi, aktor, aktris film, dan komedian. Diantaranya Sruti Respati, Inul Daratista, Endah Laras, Ageng Kiwi, Ray Sahetapy, Pong Hardjatmo, Eddie Adelia, Yaty Surachman, Didi Nini Thowok, Marwoto, dan para artis lainnya.  

Ringkasan Cerita

Abimanyu ksatria muda terdidik sebagai prajurit sejati. Masa kecil hidup penuh penderitaan. Namun langkahnya pasti karena berbekal ‘Laku Brata’ (mengikuti kehendak Tuhan).

Perseteruan Pandawa dan Kurawa yang tak kunjung berakhir menjadi catatan dalam benak Abimanyu. Kenapa harus Utari putri Wiratha yang menjadi pilihanmu Abimanyu?  

Itulah rahasia cinta Abimanyu. Atau mungkin Pandawa telah sepakat dalam satu jawaban karena melihat Kurawa mempunyai bala tentara yang luar biasa besar. Meski pilihan itu memakan korban Kala Bendana raksasa jujur dari Pringgandani.

Ia menilai bahwa saat ini; di negeri ini banyak Ksatria, wakil rakyat dan para menteri yang menjadi harapan rakyat, namun tidak berani jujur lagi.    

“Ya..., jujur itu berat! Tetapi harus aku lakukan,” ungkap Kala Bendana lirih.  

Akhirnya Abimanyu mengangkat Gendewa karena Bharatayuda telah terjadi. Meski hari itu bukan saat yang tepat Abimanyu ke medan laga. Namun sebagai kesatria sejati ia harus memutuskan untuk maju.

Abimanyu mengerti jika dia harus berhadapan dengan Durna, Karna, Duryudana, Adipati Sindu, dan para senopati besar Kurawa lainnya.  

Tekadnya sudah bulat menyelamatkan Prabu Puntadewa dari kepungan musuh. Gelar Cakra Byuha telah mengepung Abimanyu yang terlepas dari pengawalan prajurit Pandawa dan sendirian menghadapi kepungan para Prajurit Kurawa. [H-15]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!