SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 23 Oktober 2014
BS logo

12 Terdakwa Kasus Cikeusik Dituntut 5-7 Bulan Penjara
Jumat, 8 Juli 2011 | 6:18

Sidang kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah di Cikeusik [SP/Laurens Dami] Sidang kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah di Cikeusik [SP/Laurens Dami]

[SERANG]  Sebanyak 12 terdakwa dalam kasus penyerangan terhadap Jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) antara 5-7 bulan penjara. Tuntutan JPU ini jauh lebih rendah ketimbang ancaman hukuman dalam dakwaan yang disusun oleh JPU sendiri yakni  antara 5-7 tahun penjara.  

Tuntutan JPU itu dibacakan dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Serang, Kamis (7/7). Sidang dengan agenda mendengarkan pembacaan tuntutan JPU ini, Yusri bin Bisri, Muhamad Rohidin bin Eman, Yusuf Abidin alias Asmat bin Kamsa, KH Ujang Muhamad Arif Bin bin Abuya Surya, KH Muhamad Munir bin Bisri, Ujang bin Sahari, Kyai Endang bin Sidik, , Adam Damini bin Armad, Saad Bahrudin bin Sapri, dan Muhamad bin Syarif, masing-masing dituntut 7 bulan penjara.  

Sementara Idris alias Idis bin Madhani dituntut 6 bulan penjara  dan Dani bin Misra dituntut 5 bulan penjara.   Salah satu anggota JPU,  Andri Saputra, SH  mengatakan bahwa  tuntuntan kepada para terdakwa lebih ringan daripada ancaman dalam dakwaan karena kasus penyerangan terhadap Jemaah Ahmadiyah itu dipicu oleh sikap anggota Jemaah Ahmadiyah itu sendiri.

Bentrokan itu terjadi karena telah direcanakan sebelumnya oleh pihak Jemaah Ahmadiyah. Beberapa bukti yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) berupa senjata yang dibawa oleh para anggota Ahmadiyah. Selanjutnya, pihak Ahmadiyah sendiri dengan sengaja mendokumentasikan kejadian itu lalu menyebarluaskan ke seluruh dunia melalui media internet. 

 “Tindakan seperti ini sangat mencoreng citra Indonesia di mata dunia khususnya terkait penistaan agama,” katanya.  

Mendengar tuntutan JPU yang sangat ringan itu, tim kuasa hukum para terdakwa dari Tim Pembela Muslim Sulistiawati, langsung memberikan pembelaan secara lisan. Dia berharap, hakim mengeluarkan vonis perkara ini dengan mempertimbangkan faktor sebab dan akibat dari kejadian tersebut.  

Sulistiawati menjelaskan bahwa bentrokan yang mengakibatkan tiga orang dari Jemaah Ahmadiyah meninggal itu, berawal dari kedatangan 17 orang Ahmadiyah yang dipimpin oleh Deden Sudjana ke Cikeusik, Pandeglang, Banten.

Para anggota Jemaah Ahmadiyah yang datang menggunakan  mobil APV dan Innova,  tersebut langsung menuju ke  kediaman pimpinan Ahmadiyah Cikeusik,  Suparman, di Kampung Pasir Peuteuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten.

 “ Sebelum bentrokan terjadi, 17 anggota Jemaah Ahmadiyah itu  telah mempersiapkan parang, tombak, dan batu di rumah Suparman untuk melawan warga. Senjata tersebut kemudian diamankan sebagai barang bukti. Anggota Ahmadiyah juga yang memulai penganiayaan terhadap salah seorang warga bernama Sarta Jaya (41 tahun).  Ribuan masyarakat melakukan penyerangan setelah adanya kasus penganiyaan itu,” ujarnya.  

Sulistiawati juga meminta majelis hakim untuk  membertimbangkan hak umat Islam yang melakukan pembelaan terhadap agamanya karena telah dinodai oleh Ahmadiyah. Dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri mengenai Ahmadiyah jelas-jelas  melarang Jemaah Ahmadiyah untuk menyebarluaskan ajarannya. [149]    




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!