SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 28 November 2014
BS logo

Akibat Cuaca Buruk, Penghasilan Nelayan Menurun
Senin, 30 Januari 2012 | 6:34



[SERANG]  Cuaca buruk yang melanda perairan Selat Sunda dan perairan Banten menyebabkan penghasilan para nelayan menurun drastis.

Angin kencang disertai gelombang tinggi air laut menyebabkan para nelayan hanya mampu berlayar dekat bahkan ada sebagian memilih untuk tidak melaut. Para nelayan di Pelabuhan Karangantu, Kecamatan Kasemen,

Kota Serang misalnya, mengaku hanya melaut di sekitar Perairan Karangantu karena kapal tangkapan ikan yang mereka gunakan sangat kecil, sehingga tidak mampu menahan gelombang yang tinggi dan angina kencang. Penghasilan para nelayan di Pelabuhan Karangantu, pada hari-hari normal biasanya mencapai 20 kg hingga 30 kg per hari. Namun, selama cuaca buruk ini, para nelayan mengaku hanya memperoleh tangkapan ikan sebanyak 5 kg hingga 10 kg saja.

“Selama dua pekan terakhir ini, cuaca sangat tidak bersahabat. Gelombang tinggi dan angin kencang melanda Perairan Banten. Para nelayan tetap melaut karena tuntutan hidup, kendati hasil tangkapan ikan sangat sedikit. Itu pun melaut tidak terlalu jauh dari Pelabuhan Karangantu,” ujar salah seorang nelayan, Ujang (45), Senin (30/1) pagi.

Ujang mengatakan, pilihan untuk tetap melaut karena tuntutan hidup untuk menafkahi keluarga. Sebab, para nelayan di Pelabuhan Karangantu, tidak memiliki pekerjaan lain selain menangkap ikan.

“Kalau pada cuaca normal, biasanya kami menginap di tengah laut. Namun, pada cuaca buruk seperti ini kami bisa  melaut  dan langsung pulang. Kami  membutuhkan biaya operasional yang tinggi karena harus membeli banyak persediaan  bahan bakar solar. Sebab, kapal tidak pernah berhenti,” ujarnya.

Dia mengatakan,  para nelayan tidak bisa bermalam di laut karena ombaknya besar. Setelah memasang jaring pada sore hari, para nelayan harus kembali ke rumah dan mengambilnya pada pagi esok harinya.

Dijelaskan Ujang, padahal biasanya saat cuaca normal pera nelayan di Karangantu lainnya selalu menginap di tengah laut sambil menunggu jaring yang dipasang.

”Saat cuaca seperti ini tidak bisa terlalu jauh ke tengah laut untuk mencari ikan. Jadi hanya daerah pesisir yang lebih aman saja karena ombaknya tidak terlalu besar,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan nelayan lainnya, Asep (38). Menurutnya, kendati musim hujan dan cuaca buruk sudah mulai sekitar dua bulan lalu, tetapi angin kencang dan ombak tinggi dalam sepekan terakhir lebih besar dari biasanya.

“Pilihan untuk tetap melaut hanya terpaksa saja, karena tuntutan hidup. Itu pun kami hanya menangkap ikan di daerah pesisir saja karena gelombangnya tidak terlalu besar,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Banten Sabrawijaya mengatakan, akibat cuaca ekstrim yang terjadi beberapa pekan terakhir di Perairan Banten, mengakibatkan ribuan kepala keluarga (KK) nelayan se-Banten mengalami paceklik karena tidak bisa melaut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Bahkan, saat ini jumlah nelayan di wilayah Banten ada sekitar 14 ribu orang yang tersebar di Panimbang, Pasauran, Labuan, Anyer, Carita, Cilegon dan Tangerang.

“Biasanya cuaca buruk seperti ini nelayan yang tidak melaut mengisi waktu untuk memperbaiki jaring atau perahu. Ada sebagian nelayan terpaksa mengutang untuk memenuhi  kebutuhan sehari-hari. Utang tersebut dibayar setelah nanti bisa melaut kembali,” katanya. [149]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!