SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Oktober 2014
BS logo

Bali Ogah Deklarasikan KLB Flu Burung
Senin, 31 Oktober 2011 | 8:19

Ilustrasi-flu burung Ilustrasi-flu burung

[DENPASAR] Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali memilih untuk tidak mengumumkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) flu burung pada manusia. Sebab secara umum flu burung telah endemis di Bali sejak 2007. Status KLB flu burung juga tidak diumumkan untuk menghindari timbulnya keresahan di tengah masyarakat di Bali.

“Selain alasan citra pariwisata, status KLB flu burung juga tidak diumumkan. Karena secara umum flu burung telah endemis di Bali sejak 2007,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Bali dr Nyoman Sutedja ketika dikonfirmasi SP, Senin  (31/10).

Menurut Suteja, kalau kasus flu burung dibesar-besarkan nantinya akan meresahkan masyarakat dan mereka tidak mau makan ayam. Dampak buruknya adalah peternak ayam bisa bangkrut. Begitu pula masyarakat menjadi tidak mau makan ayam, sehingga gizinya menjadi kurang karena mengalami gizi buruk.

“Walaupun tidak diumumkan status KLB flu burung, namun standar pelayanan dan penanggulangan terhadap flu burung di Bali sesuai dengan standar dan protokol KLB,” tegas Suteja seraya mengatakan, ada tiga rumah sakit di daerah ini yang sudah siap melayani pasien flu burung yakni, RSUP Sanglah Denpasar, RS Sanjiwani Gianyar dan RS Tabanan dengan tenaga medis yang memadai.

Sementara di tempat terpisah, Kepala Dinas Peternakan Pemprov Bali, Putu Sumantra mengatakan, Bali membutuhkan dana hingga Rp 3 Miliar per tahun  khusus untuk penanggulangan flu burung. Sedangkan sekarang ini Bali baru  menyediakan dana mencapai Rp. 50 juta yang hanya di khususkan bagi pembelian disinfektan untuk program penyemprotan.

Sumantra mengatakan, Bali sangat membutuhkan bantuan dari lembaga-lembaga internasional untuk penanggulangan flu burung.  Selama ini Bali hanya mendapatkan bantuan dari Organisasi Pangan dunia (FAO) atau lembaga kesehatan dunia. Bantuan tersebut berupa bahan dan peralatan untuk rapid test atau tes cepat, sedangkan dana operasional tidak tersedia.

“Sebenarnya biaya juga cukup tinggi dan kita sudah berupaya untuk mendapatkan itu. Apapun juga sudah kita upayakan, dan bahan-bahan yang digunakan bukan bahan-bahan yang sangat sederhana tetapi bahan-bahan harus betul-betul diyakini sehingga biayanya cukup mahal,” kata Sumantra.[137]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!