SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 25 Oktober 2014
BS logo

Bobol Bank Mandiri, Dua Karyawan Bank Dituntut Tujuh Tahun Penjara
Rabu, 23 Januari 2013 | 15:49

ATM Bank Mandiri. [google] ATM Bank Mandiri. [google]

[JAKARTA] Terbukti membobol Bank Mandiri, dua karyawan bank BUMN tersebut, yaitu Syofrigo dan Muhammad Fajar Junaedi dituntut dengan pidana penjara selama tujuh tahun dan denda Rp 500 juta subsider tiga bulan kurungan.

"Menyatakan terdakwa satu Syofrigo dan terdakwa dua, Fajar Junaedi terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana dalam Pasal 2 ayat 1 Jo Pasal 18 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana," kata jaksa Rudy dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (23/1).

Dalam pertimbangannya, jaksa menyatakan melakukan selaku karyawan Bank Mandiri Syofrigo terbukti membobol Bank Mandiri dengan melakukan akses ilegal terhadap rekening milik bank tersebut. Kemudian, memindahbukukan uang dalam rekening tersebut ke rekening yang sudah disiapkan oleh terdakwa Junaedi.

Sehingga, lanjut Rudy, terbukti memperkaya diri sendiri dan merugikan keuangan negara sebesar Rp 3,073 miliar.

Oleh karena itu, tegas Rudy, terhadap Syofrigo dan Junaedi juga dikenakan pidana pengganti, yaitu membayar Rp 1,133 miliar untuk terdakwa Syofrigo dan Rp 1,940 miliar untuk terdakwa Junaedi.

Atas tuntutan tersebut, baik Syofriogo dan penasehat hukumnya, serta Junaedi dan penasehat hukumnya akan mengajukan pledoi (nota pembelaan) yang akan dibacakan dalam sidang selanjutnya, yaitu pada Rabu (30/1) pekan depan.

Seperti diketahui, Syofrigo dan Fajar Junaedi didakwa melakukan tindak pidana korupsi karena meretas sistem dan merampok uang bank sebesar Rp 5 miliar.

Dalam dakwaan dijelaskan, peristiwa berawal dari Syofrigo yang merupakan karyawan Kantor Pusat Bank Mandiri bagian regional network grup dengan jabatan sign officer management information system-departemen performa dan dukungan dan Muhammad Fajar Junaedi adalah pegawai Bank Mandiri cabang Juanda, Bogor, Jawa Barat bagian verifikator hubungan Juanda, Bogor, bertemu di kantor Bank Mandiri cabang Juanda dalam acara sosialisasi produk perbankan pada 2008.

Selanjutnya, tiga tahun kemudian, mereka bertemu lagi saat mengambil uang di ATM di Bank Mandiri Juanda. Saat itu, keduanya merasa kecewa dengan perlakuan manajemen di kantor masing-masing. Sehingga, mencari cara untuk mendapatkan tambahan uang.

Gayung bersambut, kemudian keduanya berniat meretas sistem dalam Bank Mandiri. Dan Syofrigo bertindak sebagai peretas sistem.

Dengan cara itu, akhirnya, Syofrigo bisa mengambil dan memindahkan uang Rp 5,922 miliar dari rekening Suspend Aplikasi Deposit bank mandiri.

Dan Junaedi langsung mencari nomor rekening buat menampung uang hasil penggelapan itu dan memilih rekening nomor 1430011232913 atas nama Joni di Bank Mandiri cabang Kraksaan, Probolinggo.

Selanjutnya, Syofrigo kemudian mentransfer uang itu dari rekening Joni ke rekening nomor 1190000116002 milik Donny Cahyadi Foeng (pemilik toko emas My Jewel).

Setelah itu, Junaedi menggunakan uang itu buat membeli emas batangan sebanyak 115 keping dengan berat total 11,5 kilogram. Harga per kepingnya Rp 515 ribu.

Syofrigo dan Junaedi kemudian membagi dua emas batangan itu. Syofrigo mendapatkan 52 keping dan Junaedi membawa 57 keping.

Setelah selesai, Syofrigo kemudian pergi ke Padang, Sumatra Barat, membawa 22 keping emas dan menjualnya dengan harga per keping Rp 400 ribu. Total penjualan adalah Rp 880 juta, setelah itu dia kembali ke Jakarta.

Dari uang penjualan itu, Rp 600 juta dipakai buat membeli tanah dan rumah seluas 200 meter persegi milik Dadang di daerah Kedung Badak, Bogor, Jawa Barat, Rp 395 juta dipakai buat biaya berobat dan pemakaman, dan tahlilan ayahnya.  

Sisanya dipakai buat menyumbang pembangunan masjid di Gadog, Bogor, Jawa Barat, dan diberikan ke beberapa panti asuhan di Depok, Cirebon, dan Garut. Selain itu, uang itu dipakai jalan-jalan bersama keluarga di Jakarta.

Sementara itu, Junaedi menjual semua keping emas itu seharga Rp 950 juta dan dipakai buat membeli meja komputer, air soft gun, jam rolex, dan buat foya-foya antara lain karaoke, ke diskotik, main perempuan, dan lain-lain.

Atas perbuatan tersebut, keduanya dijerat dalam dakwaan pertama dengan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 jo Pasal 18 ayat (1) b UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Sedangkan, dakwaan kedua, dijerat dengan Pasal 3 jo Pasal 10 UU No.8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). [N-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!