SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 19 Desember 2014
BS logo

Kasus Bentrokan Siswa SMAN 6 dengan Wartawan

Budaya Kekerasan Dipelihara dan Dibiarkan Secara Turun Temurun
Kamis, 22 September 2011 | 11:44

Arist Merdeka Sirait [google] Arist Merdeka Sirait [google]

[JAKARTA] Pihak Sekolah SMAN 6, dalam hal ini kepala sekolah dan guru harus bertanggung jawab penuh terhadap bentrokan yang terjadi antara wartawan dan siswa beberapa waktu yang lalu.

Selama ini, budaya kekerasan antara SMAN 6 dan SMAN 70 dipelihara dan dibiarkan terjadi secara turun temurun pada anak didik. Akibatnya, budaya kekerasan dua SMAN tersebut terus berlangsung dan mempengaruhi sikap siswa. Kasus bentrokan antara siswa SMAN 6 dan wartawan merupakan dampak dari kekerasan yang membudaya.

Untuk menyelesaikan kasus ini, tuntut-menuntut bukanlah satu-satunya jalan keluar yang bisa ditempuh. Kepolisian bisa mengedepankan pendekatan keadilan restorasi dengan tetap menerima laporan dari kedua belah pihak namun tidak meneruskannya ke pengadilan.

Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, Ariest Merdeka Sirait menjelaskan, kekerasan yang terjadi di SMAN 6 juga merupakan dampak dari perilaku kekerasan yang diajarkan oleh orang dewasa. Bisa dilihat, bagaimana saat ini upaya kekerasan dipertontonkan Organisasi Masyarakat (Ormas), masyarakat, elit politik, dan lain-lainnya

“Bentrokan antara siswa dan wartawan merupakan dampak dari kekerasan yang membudaya di sekolah. Pihak sekolah dalam hal ini memang harus bertanggung jawab karena terjadi pembiaran. Semua memiliki kontribusi terhadap perilaku kekerasan siswa,” kata Ariest Merdeka Sirait, Kamis (22/9) di Jakarta.

Dalam memediasi penyelesaian masalah antara siswa dan wartawan kemarin, Komnas Perlindungan Anak meminta Kepolisian dan Dewan Pers melakukan langkah pendekatan keadilan restorasi. Berangkat dari kasus ini pun, harus ada upaya rekonsiliasi nasional anti kekerasan anak didik.

“Pihak sekolah, termasuk guru dan kepala sekolah SMAN 6 harus bertanggung jawab terhadap masalah ini. Perlu ada rekonsiliasi nasional anti kekerasan agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari,” ucap Ariest.

Komnas Perlindungan Anak sendiri sejak kemarin hingga hari ini diminta kepolisian untuk mendampingi proses pemeriksaan seluruh siswa yang terlibat bentrokan. Dalam proses pemeriksaan tersebut, seluruh siswa mengaku tidak dapat membendung emosi manakala sejumlah wartawan mendatangi sekolahnya.

Sementara itu Kepala Sekolah SMA 6 Jakarta, Kadarwati Mardiutama mengaku siap dicopot dari posisinya jika tebukti bersalah dalam insiden bentrok antara pelajar dengan wartawan. Namun demikian, Kadarwati berkomitmen untuk menuntaskan konflik yang terjadi. Pada Rabu (21/9), Kepolisian Resort Metro Jakarta Selatan memeriksa sebanyak 10 siswa SMAN 6.

Mereka datang dengan menggunakan pakaian bebas dan didampingi oleh beberapa perwakilan Komnas Perlindungan Anak dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Di Mapolres, pemeriksaan pun berlangsung secara tertutup dan para siswa SMAN 6 diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi.

Mereka semua yang dipanggil adalah yang tertangkap kamera saat bentrokan terjadi. Seperti diberitakan sebelumnya, bentrok fisik antara wartawan dengan ratusan siswa SMA 6 terjadi pada Senin (19/9). Kontak fisik terjadi saat puluhan wartawan meminta pertanggungjawaban pihak sekolah atas pengeroyokan yang dilakukan siswa terhadap seorang jurnalis televisi swasta yang melakukan tugas peliputan saat aksi tawuran antara siswa SMAN 6 dengan SMAN 70. [Y-7]  




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!