SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 30 September 2014

Bulan Juli, Puncak Inflasi
Selasa, 2 Juli 2013 | 12:50

Ilustrasi inflasi [antara] Ilustrasi inflasi [antara]

[JAKARTA] Puncak inflasi tahun ini akan terjadi pada Juli 2013, di atas 2%. Lonjakan harga barang-barang didorong penaikan harga BBM bersubsidi, datangnya Bulan Ramadan, tahun ajaran baru, dan kenaikan tarif tenaga listrik tahap III. Kenaikan inflasi sudah terasa   Juni lalu yang mencapai 1,03%, padahal bulan sebelumnya deflasi 0,03%.

Dampak penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, per 22 Juni lalu, akan sangat terasa dua bulan ke depan. Pemerintah optimistis bisa menjaga inflasi tahun 2013 sebesar 7,2%. Sedangkan kalangan ekonom memperkirakan inflasi tahun ini sekitar 8,2%.  

Badan Pusat Statistik (BPS)  mengumumkan kemarin, pada Juni 2013 terjadi inflasi sebesar 1,03%, dengan inflasi komponen inti 0,32%. Inflasi tahun kalender (Januari-Juni) 2013 sebesar 3,35%, dengan inflasi komponen inti 1,32%. Sedangkan inflasi year on year (secara tahunan) 5,90%, dengan inflasi komponen inti  3,98%.  

Inflasi Juni lalu berasal dari kelompok bahan makanan 1,17%; makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,67%; perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,21%; kesehatan 0,23%; pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,04%; serta transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan 3,80%. Sedangkan kelompok sandang mengalami deflasi 0,29%.  

“Puncak inflasi 2013 yang bisa di atas 2% pada Juli ini masih sangat tergantung pada pasokan pangan. Kalau pasokan pangan terkendali, inflasi pada Juli bisa di bawah 2% atau bahkan di bawah 1,5%. Inflasi pada Ramadan biasanya sekitar 1%," ujar Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo di Jakarta, Senin (1/7).  

Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri menjelaskan, inflasi pada Juni lalu  sudah mulai meningkat akibat penaikan harga BBM bersubsidi per 22 Juni 2013. Namun, dampaknya akan lebih kuat pada Juli ini.  

“Inflasi akibat penaikan harga BBM bersubsidi tidak akan berlangsung lama. Inflasi Agustus 2013 akan mulai menurun dan September mendatang mulai reda, sehingga target tahunan inflasi bisa tercapai (7,2%),” ujar Menkeu di kantornya, Jakarta, Senin (1/7).

Sasmito mengatakan, untuk menjaga inflasi pada Juli ini, pemerintah harus mengendalikan harga kebutuhan pangan seperti beras, cabai, telur ayam, daging ayam ras, dan daging sapi. Untuk itu, pemerintah harus menjaga pasokan dan kelancaran distribusi kebutuhan pangan tersebut.  

"Untuk bulan-bulan menjelang puncak konsumsi ini, setidaknya  cabai harus segera mulai diimpor untuk menghadapi kecenderungan menjadi mahal. Ini akan menolong, minimal mengurangi inflasi dari sisi harga cabai yang akan naik terus," papar dia. Sedangkan inflasi pada Agustus nanti diperkirakan menurun dan bisa di bawah inflasi bulan Juni lalu atau kurang dari 1%. Bahkan, pada September mendatang dapat terjadi deflasi.  

"September bisa deflasi, tapi ini juga tergantung pada suplai barang di produsen apakah masih ada atau sudah habis," ujar dia.   Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk Anton Gunawan mengatakan, dampak penaikan harga BBM bersubsidi pada Juni lalu memang masih relatif kecil. Dampaknya akan sepenuhnya terasa pada Juli ini, ditambah dorongan inflasi pada harga pangan akibat momentum Bulan Puasa yang mendongkrak permintaan.  

Menurut Anton, inflasi inti pada Juni lalu rendah karena adanya penurunan harga emas dunia, walau rupiah terdepresiasi. Namun, di luar penurunan harga emas, inflasi inti tetap meningkat.   Ekonom Citigroup Helmi Arman menuturkan, harga pangan pada Juni lalu meningkat, tetapi tidak berbeda jauh dengan Juni 2012. Dampak penaikan harga BBM diperkirakan lebih terlihat pada dua bulan ke depan dan inflasi tahun ini sekitar 8,2%.  

Sedangkan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), BI rate, masih akan meningkat dari 6% menjadi 6,5% dalam tahun ini. Demikian pula suku bunga Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (Fasbi) masih akan meningkat dari 4,25% menjadi 4,75%. Juni lalu, BI  baru saja menaikkan BI rate dan Fasbi rate.  

Kebijakan Bauran BI

Dalam keterangan resminya, BI memperkirakan dampak penaikan harga BBM terhadap inflasi bersifat temporer, yang berlangsung sekitar tiga bulan. Puncaknya akan terjadi pada Juli 2013, kemudian menurun pada Agustus dan September mendatang.  

Perkiraan BI itu sudah menghitung pola musiman inflasi seiring kegiatan Ramadan dan Idul Fitri, serta dampak lanjutan penaikan harga BBM pada transportasi dan bahan pangan (volatile food).  Berbagai langkah tersebut diharapkan meredam tekanan inflasi. Dengan demikian, secara bertahap inflasi akan menurun ke sasaran sebesar 4,5±1% pada  2014.  

Kenaikan harga BBM sebesar Rp 2.000 per liter untuk premium dan Rp 1.000 per liter untuk solar, per 22 Juni 2013, telah mendorong kenaikan harga-harga barang, terutama kelompok administered prices dan volatile food. Menurut BI, inflasi pada kelompok  administered prices didorong oleh penyesuaian  tarif angkutan antarkota antarprovinsi sekitar 15% serta tarif angkutan sungai, danau, dan penyeberangan sekitar 17%. Inflasi pada kelompok bahan pangan sebesar 1,18% (month to month) atau 11,46% (yoy). [ID/Y-9]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!