SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 25 Oktober 2014
BS logo

Bupati Lebak Bilang Orang Baduy Itu Bodoh
Sabtu, 31 Agustus 2013 | 9:15

Anak-anak suku Baduy, Banten. [Antara] Anak-anak suku Baduy, Banten. [Antara]

[LEBAK] Bupati Lebak, Mulyadi Jayabaya dituding melakukan penistaan terhadap komunitas warga Baduy.

Ketika menjadi juru kampanye (jurkam) untuk pasangan Iti Octavia Jayabaya,  yang merupakan putri kandungnya sendiri dengan Ade Sumardi (Ide,) pada kampanye terakhir yang berlokasi di Pasir Ona, Rangkasbitung, Selasa (27/8) lalu,  Bupati Lebak mengeluarkan kata-kata kasar dan melecehkan.  

Pernyataan Jayabaya dengan menggunakan bahasa Sunda yang isinya merendahkan martabat masyarakat Baduy patut disayangkan oleh para mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kabupaten Lebak.

HMI memiliki bukti rekaman pernyataan Bupati Jayabaya pada saat menjadi jurkam untuk pasangan nomor urut 3 Iti-Ade (Ide).

Dalam pernyataannya, Jayabaya menyatakan: “lamun urang haying bodo, milih orang Baduy, lamun urang hayang bodo pilih budak Kanekes, budak Baduy mah eweuh nu sarakola barodo daek dipimpin ku jalema nu bodo?”

Pernyataan ini artinya: “Kalau kita mau bodoh pilih orang Baduy, kalau bodoh pilih orang Kanekes, orang Baduy itu tidak ada yang sekolah pada bodoh, mau dipimpin orang bodoh?”

“Pernyataan seorang bupati seperti itu sangat merendahkan martabat orang Baduy, yang merupakan bagian dari warga atau rakyat yang dipimpinnya,” ujar Ketua HMI Cabang Kabupaten Lebak, Abdul Rohman, di Lebak, Jumat (30/8).

Menurut Abdul Rohman, seharusnya seorang kepala daerah memberikan teladan yang baik dan menciptkan situasi demokrasi yang kondusif, bukan sebaliknya justru mendiskreditkan sekaligus menistakan calon wakil bupati yang notabene adalah warga Baduy.

Kendati Jayabaya sebagai salah satu kader PDI Perjuangan, yang mendukung pasangan calon nomor urut 3, namun Jayabaya melekat jabatannya sebagai bupati aktif, harus menghindari dan menjaga kondusivitas keamanan selama pelaksanaan pilkada di Lebak.

Tiga Pasang


Untuk diketahui, pilkada Lebak yang dilaksanakan Sabtu (31/8) ini diikuti oleh tiga pasangan calon yakni pasangan Pepep Faisaludin-Aang Rasidi (Panglima) dengan nomor urut 1 dari jalur independen.

Selain itu, pasangan nomor urut 2, Amir Hamzah-Kasmin (Hak) yang diusung Partai Golkar. Amr Hamzah merupakan wakil bupati Lebak aktif,  sementara Kasmin merupakan Ketua DPD II Partai Golkar Lebak, selaku anggota DPRD Banten. Kasmin merupkan warga Baduy.  

Sedangkan pasangan nomor urut 3 yakni Iti Octavia Jayabaya-Ade Sumardi (Ide)  diusung oleh tujuh partai  yaitu  Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P),  Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan Sejahtera (PKS),  Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Nahdatul Ulama (PKNU). 

Iti Octavia Jayabaya merupakan anak kandung Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya. Iti sebagai anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat selaku Ketua DPC Partai Demokrat Lebak.

Pertarungan pada pilkada Lebak, sebenarnya antara pasangan nomor urut 2 dan pasangan nomor urut 3 yakni antara pasangan Amir Hamzah-Kasmin dengan Iti Octavia Jayabaya-Ade Sumardi.

Pertarungan sesungguhnya yang terjadi adalah antara Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah dengan Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya,  yang sudah sejak lama tidak harmonis dan pecah kongsi.

Bupati Jayabaya mem-back up  penuh pasangan nomor urut 3. Pernyataannya yang bernada penistaan terhadap warga Baduy sebenarnya bertujuan untuk menjatuhkan pamor pasangan nomor urut 2 yakni Amir Hamzah-Kasmin.

Harus Minta Maaf
 

Lebih jauh Ketua HMI Cabang Kabupaten Lebak Abdul Rohman mendesak Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya untuk meminta maaf  kepada masyarakat adat Baduy baik secara lisan maupun tulisan, karena orasi politiknya telah menghina masyarakat Baduy.

“Kalau Bupati Jayabaya tidak meminta maaf, kami bersama masyarakat adat Baduy akan melakukan aksi besar-besaran,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kanekes, selaku tokoh adat Baduy Jaro Dainah mengatakan, masyarakat Baduy merasa terhina dan merasa direndahkan oleh Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya.

“Seharusnya seorang bupati tidak memanas-manasi suasana sehingga tidak menjadi bersahabat. Seorang pemimpin sebenarnya mengayomi, bukan sebaliknya menyampaikan pernyataan seolah-olah tidak berpendidikan,” ujarnya.

Jaro Dainah mengatakan, pihaknya sebenarnya mendatangi Kantor DPRD Lebak. Namun, massa yang hendak berangkat mencapai 400 orang.

“Kami terpaksa mengurungkan niat untuk mendatangi Kantor DPRD Lebak, karena khawatir terjadi gejolak amarah dari warga Baduy. Kami berencana untuk menggugat kasus ini secara hukum,” tegasnya.

Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya ketika dihubungi melalui telepon selulernya tidak menjawab pertanyaan dari SP, terkait tudingan yang menyatakan dirinya telah melakukan penistaan terhadap warga Baduy.

Pencoblosan

Sementara itu, terkait pelaksanaan pilkada Lebak yang diselenggarakan, Sabtu (31/8) ini, Ketua KPU Lebak, Agus Sutisna menjelaskan, seluruh logistik dan seluruh kebutuhan pilkada  sudah dalam keadaan siap. 

Pilkada Lebak, kata Agus, diikuti oleh tiga pasangan calon dengan jumlah pemilih berdasarkan daftar pemilih tetap (DPT) di Kabupaten Lebak sebanyak 894.394 dengan jumlah TPS sebanyak 1.987 yang tersebar di 28 Kecamatan.

“Saya berharap semua warga Lebak yang mempunyai hak pilih dapat menyalurkan hak suaranya. Kami targetkan 70 persen lebih tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan bupati dan wakil bupati kali ini,” kata Agus.  

Menurutnya, persiapan pencoblosan sudah sesuai dengan tahapan. Seluruh logistik seperti surat suara, kotak suara, bilik suara dan formulir C6 (surat undangan pemilih) sudah sampai di pantia pemgutuan suara (PPS).

“Warga yang tidak terdaftar pun masih bisa mencoblos, syaratnya datang ke TPS dan menunjukan KTP. Ini berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK),” katanya. [149]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!