SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 21 Desember 2014
BS logo

Hadapi Persaingan Global Indonesia Butuh 15.000 Insinyur
Rabu, 15 Mei 2013 | 12:57

Ilustrasi persaingan global [google] Ilustrasi persaingan global [google]

[JAKARTA] Menghadapi persaingan global, kebutuhan insinyur profesional dan perekayasa perlu ditingkatkan. Indonesia pun masih membutuhkan 15.000 tenaga profesional itu menghadapi persaingan global seperti ASEAN Community 2015.

Persaingan global tersebut membuka pintu bagi masuknya tenaga asing di Indonesia. Kondisi ini menuntut Indonesia bisa mengenjot jumlah sumber daya manusianya yang handal di bidang teknik.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Marzan Aziz Iskandar mengatakan kompetensi perekayasa memiliki kedudukan yang sangat strategis sebagai bagian dari komponen pembangunan nasional Indonesia melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di berbagai sektor khususnya sektor industri.

"Kita memang membutuhkan kerjasama yang erat dalam hal ini di lingkungan pemerintah. Kita punya pejabat fungsional perekayasa dan di luar kantor pemerintah itu ada yang namanya insinyur profesional. Gabungan dari keduanya itu harus kita persiapkan bersama-sama agar bisa menghadapi era persaingan," katanya di sela forum perekayasa nasional BPPT di Jakarta, Rabu (15/5).

Saat ini Indonesia memiliki 2.126 perekayasa, 10.000 insinyur profesional. Secara Indonesia memiliki 37.000 sarjana teknik yang bekerja di bidang perekayasaan dan menjadi insinyur profesional.

Namun Marzan menambahkan Indonesia masih kekurangan sekitar 15.000 tenaga perekayasa dan insinyur profesional. Jumlah yang dinilai ideal itu dipenuhi dengan mengupayakan sejumlah langkah seperti menyampaikan kepada perguruan tinggi, memodifikasi kurikulum dan pelatihan (training).

Ia melanjutkan untuk mewujudkan profesionalisme perekayasa diperlukan acuan baku standar kompetensi perekayasa, penerapan kode etik perakayasa, pedoman formasi jabatan perekayasa, pemberlakuan sistem sertifikasi perekayasa dan uji kompetensi.

Marzan berharap sertifikasi perekayasa segera akan hadir. Upaya ini bertujuan untuk membela dan memberi tempat bagi insinyur Indonesia. Revitalisasi yang dilakukan diharapkan pula menciptakan insinyur Indonesia yang berdaya saing.

Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi Idwan Suhardi mengungkapkan Indonesia membutuhkan peneliti dan perekayasa 1 persen dari populasi penduduk untuk mendorong inovasi.

"Perekayasa diharapkan agent of transfer technology. BPPT diharapkan meningkatkan standar kompetensi perekayasa," ujarnya. [R-15] 




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!