SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 21 Oktober 2014
BS logo

Hendropriyono: Penyerangan LP Cebongan Secara Moril Dibenarkan
Rabu, 17 April 2013 | 5:26

Hendropriyono. [Antara] Hendropriyono. [Antara]

[JAKARTA] Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal (Purn) Hendropriyono menyatakan, meski secara hukum salah, kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cebongan yang dilakukan oleh 11 anggota Grup II Kandang Menjangan Kopassus, secara moril dapat dibenarkan.

Hendropriyono membandingkan penyerangan Lapas Cebongan dan aparat yang menembak teroris yang lari sambil membawa bom.

"Yang menembak mati kalau secara hukum itu tetap harus dihukum tetapi dia bukan orang jelek. Secara moral orang baik. Begitupun yang terjadi disini (kasus Cebongan)," kata mantan Pangdam Jaya tersebut usai mengikuti peringatan ulang tahun ke 61 Kopassus di Balai Komando, Cijantung, Jakarta Timur, Selasa (16/4).

Hendropriyono meminta semua pihak untuk melihat kasus penyerangan yang dilakukan 11 anggota Kopassus itu dari berbagai sisi. Dikatakan, peristiwa yang menewaskan empat tahanan itu tidak dapat berdiri sendiri.

Setiap pihak harus melihat unsur sebab-akibat yang melatari penyerangan itu. "Jangan melihat kasus cebongan secara berdiri sendiri dan hanya dari satu sudut saja, kenapa itu bisa terjadi," katanya.

Apalagi, menurut Hendropriyono, saat ini muncul opini di masyarakat terutama di Jogjakarta yang menginginkan kebebasan dari rasa takut setelah sekian lama diinjak dan dibunuh hak asasinya oleh para preman. Dia menilai pihak yang melanggar HAM adalah para preman yang disebutnya sebagai penjahat yang berkolaborasi, berkolusi dengan pihak berwewenang atau penguasa.

"Itu coba kalian lihat dulu rekaman CCTV (Closed Circuit Television). Coba lihat melanggar HAM atau tidak? Apa orang tidak bebas untuk masuk kemana saja, ketika mati masih diseret-seret itu keterlaluan dan melanggar HAM. Jangan melihat pelanggaran HAM di kasus cebongan saja, lihat sebelumnya. Ini ada sebab akibat," jelasnya.

Untuk itu, sebagai negara yang menjunjung hukum, Hendropriyono berharap agar hukum dapat ditegakan. Pengadilan yang akan dihadapi para tersangka dapat menghasilkan keputusan yang adil.

Dalam kesempatan yang sama, mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla menyampaikan hal senada. Dikatakan, pengadilan kasus ini seharusnya menjadi ajang mencari keadilan, bukan hukuman.

"Dihukum tentu. Walaupun ada pertimbangan moral. Tapi itu bukan mencari hukuman, melainkan keadilan," kata pria yang akrab disapa JK.

Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) ini mengatakan semua pihak termasuk Komnas HAM memiliki pendapat berbeda terkait peristiwa itu. Meski demikian, JK mengingatkan, bahwa manusia bukan makhluk yang sempurna yang tidak bisa dilepaskan dari kesalahan.

"Manusia tidak ada yang 100 persen sempurna. Harus ada hal-hal yang memang harus kita selesaikan. Saya terkesan dengan pernyataan Hendropriyono (mantan Kepala BIN), secara hukum tentu ada kesalahan, tapi secara moral tentu lain pertimbangannya," katanya.

Seperti diketahui, hasil investigasi TNI AD menyebutkan, pada Sabtu (23/3) lalu, 11 anggota pasukan elite Kopassus menyerang Lapas Cebongan, Sleman, Jogjakarta.

Penyerangan ini menewaskan empat tahanan bernama Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Para penyerang menggunakan enam pucuk senjata, sebagian besar jenis AK 47, dan mendatangi lokasi naik Toyota Avanza dan Suzuki AVP.

Penyerangan itu disebut berlatar belakang jiwa korsa yang kuat terkait pembunuhan Serka Heru Santoso di Hugo's Cafe yang dilakukan oleh empat tahanan. [F-5]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!