SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 1 November 2014
BS logo

Ichsanuddin Noorsy: Perombakan Kabinet Tidak Selesaikan Masalah
Kamis, 20 Oktober 2011 | 8:24

Ichsanuddin Noorsy Ichsanuddin Noorsy

[JAKARTA] Pengamat Ekonomi Politik, Ichsanuddin Noorsy menilai reshuffle (perombakan) kabinet oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Selasa (18/1) lalu tidak akan menyelesaikan akar permasalahan selama ini, terutama dalam bidang perekonomian.

"Dilihat dari orang-orang yang dipilih, seperti Gita Wirjawan, Jero Wacik, dan Mari Elka Pangestu, maka seperti dugaan sejak awal, yaitu perombakan kabinet akan sia-sia jika dimaksudkan untuk menegakkan ekonomi konstitusi dan bangkitnya harkat martabat bangsa," kata Ichsanuddin Noorsy dalam siaran pers yang dikirim, Rabu (19/10).

Menurutnya, ketiga menteri terpilih tersebut adalah orang-orang yang memegang teguh paradigma perdagangan bebas. Dimana, dalam tahun 2008-2011 sudah dibuktikan ambruk oleh Paul Krugman dan
krisis ekonomi yang sedang melanda.

Oleh karena itu, Ichsanuddin menegaskan bahwa tim ekonomi hasil perombakan kabinet 19 Oktober 2011 pada hakikatnya tidak membawa perbaikan dan harapan. Walaupun Presiden menyatakan tidak bisa business as usual, dalam praktek hal itu justru hal itu yang akan terjadi.

Apalagi, lanjut Ichsanuddin, krisis Uni Eropa dan melambatnya perekonomian dunia akan berlanjut hingga 2012. Dan dampaknya di Indonesia akan terasa pada semester I tahun 2012. "Republik Rakyat Cina (RCC) sendiri sudah merasakan dampak itu. Sehingga, pertumbuhan ekonominya di kuartal II menjadi 9,8 persen atau menurun 0,4 persen. Ekspor Indonesia ke Uni Eropa sebesar 11 persen dan ke AS mencapai 9 persen. Sementara, impor dari Uni Eropa sebesar 7 persen dan dari AS sebanyak 6 persen. Angka relatif ini cukup signifikan terutama karena di bulan September saja cadangan devisa Indonesia terkuras 10,1 miliar dolar amerika menjadi 114,5 miliar dolar Amerika," ungkap Ichsanuddin.

Dari data tersebut, ungkap Ichsanuddin, maka pasar alternatif ekspor dan ketergantungan pada bahan baku (39 persen dari total impor), barang konsumsi (36 persen dari total impor) serta barang modal lainnya harus segera diatasi demi menjaga kesinambungan aktivitas perekonomian nasional.

Selain itu, Ichsanuddin juga menilai pergantian komposisi kabinet yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih berdasarkan koalisi. Contoh, pergantian Suharna dari Menristek yang menunjukkan bahwa Presiden tetap mempertimbangkan kepentingan PKS.

Demikian juga, lanjutnya, dengan dicopotnya Fadel Muhammad dan ditempatkannya Cicip Sharief Sutardjo sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Selain menunjukkan tetap membutuhkan Partai Golkar, tetapi juga memperhatikan suara Golkar yang lain.

"Isu yang beredar adalah, betapa seringnya SBY berbicara per telpon dengan Jusuf Kalla pada Sabtu dan Minggu. Spekulasi orang atas dialog pertelpon ini bisa saja membuahkan bahwa Agung Laksono dipertahankan sementara Fadel Muhammad digusur. Jika isu ini benar, maka nampak pengaruh luar masih tetap dominan atas
kepengurusan Golkar di bawah kendali Aburizal Bakrie," ujar Ichsanuddin. [N-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!