SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Maret 2017
BS logo

Kartunis ‘Suara Pembaruan’ Raih Adinegoro
Selasa, 21 Januari 2014 | 9:07

Karikatur berjudul “Rest in Peace (RIP) Penegakan Hukum" karya Hendrikus David Arie Mulyatno dari Suara Pembaruan meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2013. [Istimewa] Karikatur berjudul “Rest in Peace (RIP) Penegakan Hukum" karya Hendrikus David Arie Mulyatno dari Suara Pembaruan meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2013. [Istimewa]

[JAKARTA] Karikatur berjudul “Rest in Peace (RIP) Penegakan Hukum" karya Hendrikus David Arie Mulyatno dari Suara Pembaruan meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2013.

Hendrikus pun berhak mendapat hadiah berupa uang Rp 50 juta.

Karya tersebut meraih nilai 280 dari tiga orang juri yaitu karikaturis kawakan Pramono R. Pramoedjo, budayawan Mudji Soetrisno dan dosen Institut Kesenian Jakarta serta pemahat Dolorosa Sinaga, demikian keterangan pers Panitia Tetap Anugerah Jurnalistik Adinegoro, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Senin (20/1).

Hendrikus membuat karikatur demokrasi dalam sosok pria berkaki buntung yang sedang berziarah ke makam “penegak hukum” yang dimuat di Suara Pembaruan pada 17 Oktober 2013.

Pemenang mampu menghasilkan karya yang melepaskan diri dari kesulitan untuk mengungkapkan “kepedihan” yang dirasakan di negeri ini. Pesannya luar biasa kuat dan baru meskipun ada juga kelemahannya,” kata Pramono.

Dolorosa mengaku memberi nilai tinggi pada karya tersebut karena mampu menggambarkan citra bangsa yang saat ini sangat menyedihkan dan menyesakkan hati.

Ia berharap karya ini bisa menggugah mereka yang menjadi pengelola negeri ini agar citra seperti yang digambarkan ini tidak akan terlihat lagi.

Mudji Sutrisno menghargai karya ini yang bisa sampai ke tingkat membawa publik untuk berpikir dan merenung bahwa demokrasi "sedang buntung” dan mewaspadai bahwa “uang” bisa membawa ke liang kubur.

Secara keseluruhan Pramono mengamati bahwa karikatur memberi kebebasan pada karikaturis untuk berpendapat melalui karya-karya mereka, namun selama era reformasi ini kecenderungannya menurun apalagi bila dibandingkan dengan masa Orde Baru.

“Tugas kitalah untuk melatih para karikaturis muda untuk meningkatkan diri,” katanya.

Tema penilaian Anugerah Adinegoro 2013 adalah Demokrasi dan Citra Bangsa, diikuti oleh 42 karya dari 10 media dengan 10 unggulan masing-masing lima karya bertema demokrasi dan lima karya bertema citra bangsa.

"Penerapan tema tersebut mungkin dapat diuji selama tiga tahun ke depan, bagaimana para karikaturis bisa menghasilkan karya yang memberi pesan serta mengajak pembaca untuk berpikir dan merenung lebih dalam," ujar Pramono.

Pemenang anugerah Adinegoro mendapat piagam, trofi dan uang tunai Rp50 juta pada acara puncak Hari Pers Nasional (HPN) di Bengkulu pada 9 Februari 2014, yang dijadwalkan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Anugerah jurnalistik Adinegoro diselenggarakan setiap tahun untuk memberi penghargaan pada karya terbaik jurnalistik investigasi, jurnalistik foto, jurnalistik karikatur, jurnalistik televisi, jurnalistik tajuk rencana, dan jurnalistik karikatur.
 
Selain itu, panitia Hari Pers Nasional juga menyelenggarakan dua penghargaan "Inovasi Jurnalisme" media siber dan infotainmen.[RS/L-8]



Kirim Komentar Anda


Pasang iklan disini via B1 Ads