SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 24 November 2014
BS logo

Kembangkan Energi Laut
Selasa, 25 September 2012 | 11:25

Ilustrasi air laut [google] Ilustrasi air laut [google]

[JAKARTA] Di tengah krisis energi yang melanda Indonesia, pemerintah diminta untuk mengembangkan potensi energi laut yang masih cukup besar. Prospek energi yang berasal dari laut tersebut semakin banyak diminati dan dikembangkan oleh negara-negara maju, khususnya di Eropa.  

Demikian disampaikan Ketua Asosiasi Energi Laut Indonesia (Aseli) yang juga guru besar Institut Teknologi Surabaya Mukhtasor kepada SP baru-baru ini di Jakarta. Mukhtasor menjelaskan, komitmen dan kebijakan sudah ada dari pimpinan pemerintah, khususnya di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Namun, kebijakan itu kurang disambut para jajaran birokrasi di bawah Menteri ESDM yang seharusnya bertugas mengembangkan industri energi laut secara berkelanjutan.  

“Prospek energi laut ini sudah banyak dikembangkan di Eropa dan Indonesia menyimpan potensi yang cukup besar. Teknologi yang dikembangkan sudah bisa membuat energi laut lebih murah dari bahan bakar minyak,” papar anggota Dewan Energi Nasional (DEN) ini.

Dia menyayangkan, sampai sekarang belum ada roadmap implementasi sebagai tindak lanjut kebijakan pemerintah dan uji coba (pilot project) untuk mempersiapkan industri besar energi laut. Situasi ini menggambarkan adanya kegamangan dari pemerintah untuk serius pada energi alternatif ini. 

 “Seharusnya ESDM tidak gamang mengembangkan energi laut. Sebagai negara kelautan, tidak pantas kalau tidak memiliki prioritas bidang ini. Sekarang peta potensi energi laut saja tidak ada yang dipublikasi resmi, seperti sumber energi lain, roadmap pengembangan industrinya juga tidak ada. Apalagi uji coba yang pantas dalam skala kecil juga tidak ada,” ujarnya.  

Dikatakan, kegamangan tersebut disebabkan belum adanya informasi yang tepat. Bahkan,  ada yang menganggap energi laut tidak prospek. Pengembangan energi laut adalah amanat UU 30/2007 tentang Energi dan UU 17/2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN). Dalam RPJPN, energi laut diamanatkan agar sudah dapat dimanfaatkan dalam rencana pembangunan jangka menengah ketiga 2009-2014.

Sesuai data ASELI,  investasi yang diperlukan antara US$ 3 juta-5 juta untuk memproduksi listrik 1 megawatt (MW) dari energi laut. Potensi saat ini bisa mendapatkan 6.000 MW dari laut Indonesia.  

Sementara itu, Direktur Ocean Watch Indonesia (OWI) menegaskan bahwa kegamangan pemerintah tersebut semakin memperkuat bukti minimnya keberpihakan pada sektor kelautan. Jangan energi, untuk mengembangkan potensi laut lainnya yang masih cukup besar pun nyaris tidak ada tindak lanjut yang berarti.  

“Jauh sebelum disadari bahwa energi laut menjadi potensi besar, pemerintah juga tidak memperhatikan potensi kelautan dan perairan lainnya. Ini soal mendasar dan keberpihakan pemerintah yang sangat minim untuk memberdayakan segala potensi dan pelaku sektor kelautan,” ujar Herman.

Menurut Herman, sebagian besar kawasan laut Indonesia, khususnya di Bali, Nusa Tenggara, dan Riau, mempunyai potensi yang sangat besar.   Menurut Mukhtasor, untuk mendorong pembangunan pembangkit energi, pemerintah diharapkan mendorong proyek uji coba pembangkit listrik tenaga energi laut 1 megawatt (MW).  

Di Asia, Korea Selatan dapat menjadi contoh karena negeri ini telah membangun pembangkit listrik dari gelombang laut hingga kapasitas 254 MW dan arus laut 50 MW. Potensi energi yang bisa dikembangkan itu seperti arus laut, gelombang laut, maupun panas laut. Sejak 1980-an Indonesia telah mulai menyiapkan program energi laut ini, dalam bentuk studi kelayakan hingga penyusunan desain secara detail. Sayangnya, akibat persoalan kerjasama luar negeri dan krisis ekonomi, program energi laut nasional tidak berkembang sampai saat ini. [H-12]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!