SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 20 Desember 2014
BS logo

KTT APEC Rugikan Pengusaha Kecil Bali
Jumat, 4 Oktober 2013 | 7:36

Presiden meninjau kesiapan KTT APEC di Nua Dua, Bali. [merdeka.com] Presiden meninjau kesiapan KTT APEC di Nua Dua, Bali. [merdeka.com]

[DENPASAR] Pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi Kerjasama Ekonomi Asia Pasific (KTT APEC) yang berlangsung 1-8 Oktober ternyata tidak membuat rakyat kecil khususnya pengusaha kecil di Bali gembira.  

Kegiatan yang dihadiri 21 kepala negara justru menyebabkan pendapatan ekonominya berkurang atau tekor ketimbang tidak ada KTT APEC.  

Kerugian yang dialami para pengusaha di daerah pariwisata ini lantaran proses pengamanan yang dikatakan begitu ketat, bahkan dianggap berlebihan dengan sejumlah larangan terhadap warga atau pengusaha.

Kondisi itu tentu sangat disayangkan karena daerah ini sudah sering menggelar acdara internasional yang tidak kalah pentingnya dengan KTT APEC teapi tidak seketat sekarang.

“Beberapa waktu yang lalu di Bali pernah ada KTT tentang pemanasan global (lingkungan) tetapi tidak sekaetat sekarang. Sepengetahuan saya kalau dulu nggak ada larangan kalau ada KTT tidak boleh ada angkutan umum truk tidak boleh melintas di jalan Nusa Dua. Kalau sekarang malah dilarang,” ujar salah seorang pengusana kecil Anak Agung Dharma Putra di Denpasar, Kamis (3/10).

Sekaligus menjelaskan akibat KTT APEC pihaknya rugi ratusan juta rupiah.

Dharma Putra bahkan menyampaikan kalau pihaknya mendapat surat edaran dari pemerintah dalam hal ini Pemkab Badung, bahwa mulai tanggal 28 September sampai KTT APEC dilatang ada truk mengangkut lime stone atau pasir yang melinats di Nusa Dua.

Kebijakan itu tentu sangat menyakitkan karena dengan kebijakan itu truk miliknya terpaksa dikandangan dan buruhnya tidak bisa kerja.

“Katanya KTT APEC untuk meningkatkan perekonomian rakyat. Apa dengan kebijakan tersebut sudah membantu perekonomian rakyat, saya kira jawababnya keliru,” tegas Darma Putra seraya mengatakan, yang mengeluh dengan adanya KTT APEC di Bali bukan hanya dirinya, melainkan banyak orang khususnya pengusaha kecil karena terlalu ketatnya pengamanan  yang dilakukan termasuk kepada warga.

Ia melihat kalau KTT APEC lebih cendrung untuk arisan orang-orang kaya sehingga keluhan pengusaha kecil kurang mendapat perhatian dan justru menjadi korban kebijakan.

“Akibat dari kerugian rakyat kecil ini maka KTT APEC cendrung dikatakan kegiatan “apek” (baunya yang tidak sedap). Kami melihat secara umum justru KTT APEC ini belum menyentuh kepetingan rakyat kecil," katanya.

Selain membuat rugi para kontraktor, KTT APEC di Bali ini juga membawa dampak terhadap penghasilan pengusaha jasa wisata air, lantaran pengamanan ketat di kawasan Nusa Dua sehingga turis tidak bisa bebas berekreasi di pantai tersebut.

"Kami mengalami kerugian puluhan juta rupiah akibat dampak dari ketatnya keamanan di kawasan wisata Nusa Dua dan Tanjung Benoa," kata Dedy Sastrawan, seorang pengelola jasa wisata tirta di Tanjung Benoa, Bali, Kamis (3/10).

Menurut Dedy, para pengusaha jasa wisata air di kawasan tersebut mengeluh jika dalam beberapa hari ini usahanya menjadi sepi dan kerugian hingga puluhan juta rupiah. Iapun mengaku dalam sehari dia bisa meraup sekitar Rp 3,5 juta dari 10 orang wisatawan yang menggunakan jasa speedboat dan paralayang.

"Itu baru 10 orang wisatawan, biasanya dalam sehari kami melayani sedikitnya 20 orang. Namun akibat pengamanan KTT APEC yang  ketat, wisatawan yang datang sangat sedikit. Bahkan dalam dua hari terakhir ini sama sekali tidak ada kegiatan karena ada larangan bermain atau rekreasi di laut dan di udara," tegasnya.

Dedy mengatakan kondisi yang sama dialami oleh seluruh rekan-rekan lainnya yang memiliki usaha jasa rekreasi air.

"Semua jasa wisata air sepekan kayaknya tiarap. Sehingga akan berpengaruh terhadap gaji karyawan," katanya.

Selain pengusaha rekreasi wisata, pedagang yang berjualan di pasar seni kawasan Nusa Dua juga ikut terkena imbas karena ketatnya pengamanan KTT APEC.

Turis mancanegara yang biasanya dengan bebas datang ke pasar, menjadi berkurang karena malas mendapat pemeriksaan dan banyaknya larangan dan tidak bebas seperti biasanya.[137]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!