SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 25 Oktober 2014
BS logo

Mendikbud Janji Pangkas Harga Buku Pelajaran
Rabu, 12 Juni 2013 | 12:54

M Nuh. [google] M Nuh. [google]

[JAKARTA] Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh berniat menata ulang dan memangkas harga eceran buku pelajaran yang beredar di pasaran. Harga buku pelajaran seharusnya bisa terjangkau, namun saat ini justru menjadi komponen besar yang harus ditanggung oleh masyarakat.  

Pada Selasa (11/6), Nuh menunjukkan sejumlah contoh buku Kurikulum 2013. Kemarin pula, Kementerian Keuangan sudah mencairkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Kurikulum 2013 sebesar Rp 829 miliar. Maka, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan langsung menandatangani kontrak dengan percetakan buku.  

Mendikbud mengungkapkan, dalam tender percetakan disepakati para pemenang bukan hanya bertugas mencetak buku, tetapi juga harus mengantarkannya sampai ke sekolah. Namun, yang mengejutkan mendikbud, harga buku Kurikulum 2013 tetap jauh di bawah rata-rata. Buku paling mahal adalah Buku Matematika Siswa Kelas X setebal 392 halaman dengan harga satuan Rp 18.700.  

“Kami ingin potong mekanisme perbukuan, sehingga harga buku terjangkau. Ini goal. Yang untung bukan siapa-siapa tapi para tengkulak perbukuan,” ujar Nuh seusai Rapat Kerja dengan Komisi X DPR di Jakarta, Selasa (11/6) malam.  

Contoh lainnya adalah buku tematik untuk Kelas I SD berjudul “Diriku” yang penuh dengan gambar berwarna setebal 105 halaman dengan harga satuan Rp 12.000. Ada pula, buku Bahasa Indonesia Kelas X setebal 242 halaman seharga Rp 8.800.  

“Kenapa banyak yang tidak suka dengan program ini? Karena urusan perbukuan bisa bubar,” ujar Nuh.  

Nuh mengatakan, buku untuk Kurikulum 2013 akan diberikan secara gratis kepada siswa. Buku yang akan dicetak terdiri dari buku pegangan siswa dan buku pegangan guru. Nuh menjelaskan, khusus tahun ini, proses tender percetakan buku Kurikulum 2013 ditangani oleh Kemdikbud.  

Tapi tahun depan, Kemdikbud akan menyerahkan proses tender kepada pemerintah daerah. Syaratnya, isi buku mengikuti konten dari Kemdikbud dan secara harga, mengikuti harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Kemdikbud.  

Nuh mengatakan sekolah wajib menggunakan buku Kurikulum 2013. Buku lainnya boleh digunakan sebagai pengayaan. “Sebenarnya buku Kurikulum 2013 saja sudah cukup,” ujarnya.  

Terkait buku SD yang dicetak setiap tahun, Nuh mengatakan tujuannya adalah efektivitas. Siswa SD baru belajar membaca dan menulis, sehingga mereka bisa kesulitan jika buku teks dan buku kerja harus dipisah. Buku pegangan siswa SD terdiri dari berbagai aktivitas seperti menulis, membaca, dan menyanyi. “Misalnya mengajarkan menulis huruf. Lebih mudah, jika mereka diajarkan lalu langsung praktik di buku yang sama,” katanya.  

Didampingi BPKP dan Itjen Nuh menambahkan, sejak awal proses tender percetakan buku Kurikulum 2013 sudah diawasi oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Inspektorat Jenderal Kemdikbud. Hal itu dilakukan agar proses tender tidak melenceng.  

“Kalau ada yang bilang ini (tender buku) proyek, ya telat. Karena diawasi sejak awal. Mekanisme sudah memenuhi persyaratan,” ujarnya.  

Nuh mengungkapkan, proses tender buku memang sudah dilakukan jauh hari. Pemenang tender juga sudah ditetapkan sebelum penandatanganan kontrak. Hal itu dilakukan Kemdikbud mengacu kepada ketentuan Peraturan Presiden Nomor 70/2012 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Perpres tersebut mendorong proses tender dilakukan lebih awal untuk menghemat waktu.  

“Proses tender bisa habis 45 hari, kalau ada masa sanggah bisa dua bulan. Maka perpres mendorong dilakukan awal, kecuali tanda tangan kontrak dilakukan kalau DIPA sudah turun,” kata Nuh. [C-5]        




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!