SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 31 Oktober 2014
BS logo

Musik Sasando Sebagai Budaya NTT
Rabu, 12 September 2012 | 9:27

Alat musik sasando Alat musik sasando

[KUPANG] Alat musik tradisional sasando sebagai budaya peninggalan masa silam yang bernilai tinggi, sekaligus mengisahkan leluhur penciptanya yang memiliki kecerdasan yang luar biasa terhadap bangsa ini.

Dengan demikian, keberadaannya diharapkan menjadi inspirasi, terutama bagi kaum muda guna memacu diri mejadi generasi hebat berkemampuan meninggalkan karya karya monumental.

Pandangan itu mengemuka dalam dialog budaya bertema: "Sasando, Dulu, Kini dan Akan Datang", di Kampus Universitas Negeri Nusa Cendana di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (11/9) siang.

Dialog yang dipandu Kepala Museum NTT, Leonard Nahak, merupakan rangkaian kegiatan Pekan Nasional Cinta Sejarah Nasional di Kupang, 10 - 15 September 2012, dengan Narasumber dialog menampilkan dua pemerhati sekaligus penggiat sasando, yakni Djony LK Teedens dan Nyongki Welvaart.

Sasando merupakan alat musik petik peninggalan leluhur Rote di NTT. Alat musik kuno itu berbahan baku daun lontar yang dilengkungkan hingga membentuk setengah bundaran. Kedua ujungnya diikat pada ujung potongan bambu yang seolah menjadi garis tengah permukaan bundaran daun lontar.

Dalam bentuk aslinya dulu, tali pendentingnya langsung dari cungkilan kulit potongan bambu tersebut. Selanjutnya, tali-tali cungkilan di antara kedua buku potongan bambu tadi diganjal dengan potongan kayu yang disebut sasenda hingga mendapatkan nada yang diinginkan.

Dalam perkembangan selanjutnya, tali cungkilan kulit bambu diganti dengan senar dari kawat halus. Sementara di kedua ujung bambu dipasangi potongan kayu keras yang akan ditancapi sejumlah potongan skrup pengikat senar.

Sejak tahun 1980-an, tampilan sasando semakin bervariasi dengan ditemukannya sasando listrik. "Leluhur pencipta sasando adalah mereka yang memiliki kecerdasan tinggi serta layak disejajarkan dengan bangsa dunia lainnya dan NTT semakin dikenal oleh negara lain," kata Djony.

Ia menambahkan, keberhasilan leluhur menciptakan sasando atau peninggalan budaya bernilai tinggi lainnya, menempatkan manusia sebagai makluk berbudaya yang mengubah wajah dunia murung menjadi riang gembira. Atau dunia gersang menjadi menyegarkan, yang gelap gulita menjadi terang menderang, tambah Djony.   (YOS)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!