SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 1 November 2014
BS logo

PDI-P: Pencalegan untuk Membumikan Ideologi
Selasa, 30 April 2013 | 13:23

Lambang PDI-P. [Dok. SP] Lambang PDI-P. [Dok. SP]

[JAKARTA] Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto menyatakan, penjaringan dan penyaringan bakal calon anggota legislatif ditempatkan sebagai upaya peningkatan kinerja DPR. Hal ini sejalan dengan amanat Kongres III PDI-P yang  menegaskan bahwa pengelolaan kekuasaan pemerintahan negara ditujukan untuk meletakkan dasar-dasar bagi terwujudnya Indonesia yang berdaulat di bidang politik, Indonesia yang berdiri di atas kaki sendiri dan Indonesia yang berkepribadian dalam kebudayaan.

Hasto merespons kritik masyarakat terkait dengan kecenderungan nepotisme dalam penempatan calon legislatif (caleg). Berkaitan dengan hal tersebut, katanya, maka PDI-P telah mengeluarkan Peraturan Partai No 061/2013 dimana dalam Pasal 29 secara tegas dilakukan larangan dengan ketentuan,

A. Dalam satu keluarga yang terdiri dari orang tua, suami-isteri, anak, dilakukan pembatasan maksimum hanya 2 (dua) calon.

B. Suami isteri dilarang untuk dicalonkan pada tingkatan yang sama dan daerah pemilihan yang sama. Larangan ini kemudian diperluas menjadi ketentuan etis, dimana satu saudara kandung kakak dan adik, disarankan untuk tidak dicalonkan pada tingkatan yang sama. Kemudian, orang tua, suami-isteri, anak, tidak boleh sama-sama  dicalonkan sebagai angota legislatif dari Partai yang berbeda. Terakhir, dalam hal suami isteri dicalonkan pada tingkatan yang berbeda, maka proses pencalonannya dilakukan karena memenuhi kualifikasi sebagai calon anggota legislatif, bukan karena status hubungan suami-isteri.

“PDI-P tetap menyadari bahwa basis rekrutmen parpol salah satu jalur rekrutmen memang berasal dari keluarga. Survey yang dilakukan internal PDI-P menunjukkan bahwa lebih dari 78% responden internal Partai bergabung ke PDI-P karena menyatukan diri dengan ide, gagasan, dan perjuangan Bung Karno dan Ibu Megawati Soekarnoputri. Lebih dari 68% dari responden mengenal Bung Karno, Megawati Soekarnoputri dan PDI-P dari keluarga. Dengan demikian keluarga merupakan basis  kekuatan PDI-P. Karena itulah bagi PDI-P adalah hal yang wajar apabila muncul kader yang berasal dari keluarga Pdi-P dan kemudian dicalonkan. Yang harus dihindarkan adalah hubungan keluarga yang kemudian menciptakan subyektivitas di dalam pencalonan.

Terkait dengan rekrutmen artis atau selebritis, lanjutnya, PDI-P di dalam melakukan  rekrutmen  artis atau selebritis tidak menempuh jalan pragmatis. Artis yang direkrut selain memiliki kompetensi, juga memenuhi kriteria secara ideologis dan mampu menjalankan fungsi legislasi, anggaran, pengawasan dan representasi serta pengabdian di partai. Hal ini terlihat dari rekam jejak Edo Kondolangit, Rieka Dyah Pitaloka, Yessy Gusman, dan Nico Siahaan.

Seluruh artis yang direkrut tidak hanya mempertimbangkan elektabilitas, namun juga pemahaman di dalam membumikan ideologi. Prinsip kebangsaan sebagai contoh, diterjemahkan dengan sangat baik dalam tradisi kebudayaan oleh Edo dan Nico. Rieke Dyah Pitaloka memiliki basis buruh dan tokoh perempuan. Demikian halnya Yessy Gusman. Dalam kapasitasnya sebagai lawyer memiliki kemampuan untuk mewarnai politik legislasi yang sejalan dengan kebijakan partai.

Hasto menerangkan, seluruh proses penyaringan dilakukan dengan psikotes. Psikotes untuk memotret kemampuan seseorang ditinjau dari aspek kepemimpinan, kepribadian dan kemampuan menyelsaikan masalah. Psikotest dilaksanakan dengan bekerja sama Himpunan ahli Psikologi Indonesia (HIMPSI). Di seluruh Indonesia telah dilaksanakan psikotest dan diikuti oleh 17.362 bakal caleg. Data psikotes ini sangat penting bagi konsolidasi personil partai.

Dari proses penyaringan yang dilakukan, dapat direkrut calon dari eksternal yang memliki integritas dan kompetensi yang tidak perlu diragukan. Tokoh Jawa Barat  Jalaludin Rakhmat, atau yang lebih dikenal dengan Kang Jalal. Kang jalal selain ketokohannya, pakar komunikasi, juga memiliki integritas tinggi serta pemikiran tentang Islam Madani.

Demikian halnya Teten Masduki juga direkut untuk dicalonkan di Dapil Jabar 1, namun Teten Masduki lebih memilih untuk memperkuat Balitbang PDI-P. “Tugas yang diberikan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri  kepada saya untuk menjadi caleg DPR dan mendorong perubahan dari dalam parlemen, khususnya di dalam pemberantasan korupsi sangat berarti bagi saya. Namun pada kesempatan ini izinkan saya, untuk membantu Balitbang DPP PDI-P,” kata Teten.

Di luar itu, lanjutnya, juga direkrut tokoh petani, buruh, dan mereka yang memiliki pemahaman kuat untuk mendorng bekerjanya ekonomi kerakyatan. [W-12]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!