SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 29 November 2014
BS logo

Pelukis Nusantara Ramaikan Pameran Lukisan Betawi
Senin, 28 November 2011 | 8:24

Sejumlah lukisan dipajang pada Pameran Lukisan Betawi dan Jakarta Tempo Doeloe akhir pekan lalu. (Foto: SP/Hendro Situmorang) Sejumlah lukisan dipajang pada Pameran Lukisan Betawi dan Jakarta Tempo Doeloe akhir pekan lalu. (Foto: SP/Hendro Situmorang)

[JAKARTA] Ada yang unik dari Pameran Lukisan Seni Lukis Betawi dan Jakarta Tempo Doeloe. Tujuh pelukis asal Bukit Tinggi,Yogyakarta, Bali dan Surabaya mencoba menggoreskan kreativitas mengenai kehidupan orang Betawi dan problema di Jakarta.

Mereka berkolaborasi memamerkan hasil perekaman imajinasi, pemahaman, dan unek-unek-nya seputar kehidupan masyarakat Betawi di Jakarta dan segala pemasalahannya. Lelaki itu adalah Alex Lutfhi R asal Surabaya, Gusti Alit Cakra (Bali), Ibrahim (Bukit Tinggi), Nasirun (Cilacap), Ridi Winiarso (Yogya), Sarnadi Adam (Betawi), dan Totok Buchori asal Probolinggo dengan kurator Agus Dermawan T.

Ada 100 lukisan yang mereka pamerkan dengan bermacam aliran, ide dan tentu saja harga yang berkisaran antara Rp 25 juta sampai dengan Rp 180 juta per lukisan.

Koordinator para pelukis Sarnadi Adam menuturkan ini pameran pertama yang diselanggarakan Sudinbud Jaksel dengan menampilkan pelukis dari berbagai daerah dan bermacam aliran seperti Toto dengan raliran realisme-nya, Ridi dengan lukisan ceria, dan Ibrahim dengan aliran pure abstrak-nya.

Lukisan Alex penuh simbol yang mengandung banyak makna kritikan. Contoh lukisannya yang berjudul "Opera Jakarta" berukuran 120 x 120 Cm dengan cat minyak di atas kanvas menegaskan bahwa orang-orang yang berada di Senayan itu bak badut. Gambaran itu jelas terlihat sekali dalam lukisannya yang menggambarkan Gedung DPR/MPR RI dengan tiga badut di bawahnya.

“Bukan rahasia lagi toh banyak badut di sana,” tandas pelukis yang juga Dekan Fakultas Seni Media Rekam, ISI Jogja usai membuka pameran di Gandaria City Mall, Kebayoran Lama, Jakarta, akhir pekan lalu. Sementara lukisannya berjudul "Kado Reformasi" dibeli antropolog Amerika Serikat seharga Rp 30 juta pada 1999.

Alex yang memang kerap mengkritik lewat lukisannya tidak takut kehabisan daya kritisnya. Menurutnya selama dunia masih ada, masih banyak persoalan sosial, politik, budaya di dalamnya. “Tinggal bagimana kita membaca permasalahan yang ada lalu kita tuangkan ke kanvas, termasuk permasalahan yang ada di Jakarta ini,” jelasnya.

Lain lagi dengan Ibrahim, pelukis termuda di antara 6 pelukis yang ikut pemeran kali ini. Pemuda asal Bukit Tinggi, Sumatera Barat ini menuangkan kreativitasnya lewat goresan akrilik dan pensil di atas kanvas dalam aliran abstrak murni. Salah satu lukisannya bertajuk "Penari Betawi" berukuran 200 x 200 Cm terlihat begitu artistik, menggambarkan seorang penari perempuan Betawi yang sedang menari.

Ada lagi beberapa lukisan abstak Ibrahim lainnya yang tentu perlu “kaca mata” lebih untuk memahaminya seperti lukisan berjudul "Ambang Batas" dan "Di Bawah Menara".

Sementara Sarmadi Adam yang asli Betawi terlihat begitu kuat kebetawiannya dalam setiap lukisannya. Pemilik Betawi Studio Seni Rupa di Kawasan Kebayoran Lama, Jaksel ini terlihat amat memahami Betawi dengan pengaruh bermacam budaya.

Sekurangnya ada tiga lukisannya yang amat menonjolkan budaya Betawi seperti lukisan berjudul "Sepasang Ondel-Ondel" berukuran 200 x 280 Cm dengan akrilik di atas kanvas, "9 Penari Betawi" dengan cat minyak di atas kanvas, dan lukisan "Barisan Penari Cokek".

Pameran lukisan yang diselenggarakan Sudinbud Jaksel ini dibuka oleh Gubernur DKI Fauzi Bowo dengan dimeriahkan penampilan musik Keroncong Tugu. Bang Foke berharap pameran ini dapat memberikan kontribusi terhadap pariwisata Jakarta.

“Jakarta tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Betawi. Keduanya menjadi elemen sejarah kota ini. Jakarta dan masyarakat betawi adalah bagian dari identitas Negara Indonesia,” ungkap dia. [H-15]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!