SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 18 Desember 2014
BS logo

Pengendalian Infeksi Jadi Penilaian Akreditasi Rumah Sakit
Selasa, 8 November 2011 | 8:05

Endang Rahayu Sedyaningsih [Dok. SP] Endang Rahayu Sedyaningsih [Dok. SP]

[JAKARTA] Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menetapkan seluruh rumah sakit di Indonesia wajib menyelenggarakan program  Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di rumah sakit.  PPI ini sebagai salah satu komponen penilaian akreditasi rumah sakit, yang akan diberlakukan mulai 2012 mendatang.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan hal ini mengingat masalah penyakit infeksi kini menjadi masalah kesehatan serius. Meskipun hingga saat ini belum ada data pasti jumlah kejadian, Kemenkes menyebutnya sebagai penyebab utama kematian dan kesakitan di rumah sakit serta fasilitas kesehatan lainnya.

Di Indonesia, infeksi sebagai  salah satu penyebab utama kematian ibu dan bayi baru lahir. Selain itu menyebabkan perpanjangan masa masa rawat inap bagi penderita.

Resiko infeksi di rumah sakit atau yang biasa dikenal dengan infeksi nosokomial juga merupakan masalah penting di seluruh dunia. Infeksi ini terus meningkat dari 1% di beberapa negara Eropa dan Amerika, sampai lebih dari 40% di Asia, Amerika Latin serta Afrika.

"Rumah sakit adalah tempat paling berpotensi untuk sumber kuman. Orang-orang yang berada di lingkungan rumah sakit, seperti pasien, petugas kesehatan, penunggu atau pengunjung sangat berisiko terinfeksi," kata Menkes pada acara seminar mengenai perlindungan pasien dan PPI di Jakarta,Senin (7/11).

Menkes mengatakan, dengan program PPI permasalahan penyakit infeksi ini bisa diatasi sebagai bagian dari perlindungan pasien. Selain program PPI, setiap rumah sakit juga diwajibkan membentuk komite dan tim PPI.

Salah satu contoh PPI adalah kebijakan mengenai kebiasaan mencuci tangan di rumah sakit dengan menggunakan alkohol, dengan takaran yang sudah ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Kebiasaan mencuci tangan diwajibkan bagi semua orang di rumah sakit yakni pasien, tenaga kesehatan dan karyawan rumah sakit serta penunggu atau pengunjung.

Menurut Menkes, kesadaran mencuci tangan di rumah sakit masih rendah, termasuk dokter sendiri. "Terutama untuk tenaga di ICU harus cuci tangan 10-20 kali dalam sehari untuk  mencegah infeksi yang penularannya sangat cepat. Bisa dari pengunjung ke pasien, dokter ke pasien dan sebaliknya," ucap Menkes.

Menkes menambahkan, dalam lima tahun terakhir semakin banyak rumah sakit yang mendaftarkan diri untuk program PPI ini, namun pelaksanaannya di lapangan belum diawasi dan evaluasi. Untuk itu, dengan masuknya PPI sebagai salah satu komponen dalam akreditasi rumah sakit sekaligus sebagai kontrol pemerintah.
Untuk jaminan PPI yang baik, rumah sakit juga harus memiliki Infection Prevention and Control Nurse (IPCN).  Juga dilakukan survei secara berkala melalui metode tanya jawab.

Namun demikian, program PPI akan menghadapi tantangan di masa mendatang. Jumlah rumah sakit dan fasilitas layanan kesehatan bertambah banyak, sementara sumberr daya manusia yang terampil di bidang infeksi rumah sakit terbatas. [D-13]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!