SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 1 November 2014
BS logo

Perlu Validasi Peta Angin di Indonesia
Selasa, 14 Mei 2013 | 18:01

Ilustrasi peta angin di Indonesia. [Antara] Ilustrasi peta angin di Indonesia. [Antara]

[JAKARTA] Peta dan data potensi angin di Indonesia perlu divalidasi. Kepastian data tersebut sangat menentukan pengembangan pembangkit listrik tenaga angin atau bayu di Indonesia.  

Tahun 2010, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyampaikan potensi energi angin di Indonesia sebesar 9,29 Gigawatt.

Ketua Masyarakat Energi Angin Indonesia (MEAI) Soeripno Martosaputro mengatakan peta potensi angin sangat diperlukan. Sebab sebelumnya, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional memetakan adanya 160 titik, dimana 35-40 titik punya potensi kecepatan rata di atas 5 meter per detik.

"Untuk skala komersial dibutuhkan potensi angin di atas 5 meter per detik," katanya di sela workshop Potensi Energi Angin dan Teknologi Wind Hybrid Power Generation (WHyPGen) di Indonesia, di Jakarta, Selasa (14/5).

Soeripno yang juga menjabat sebagai National Project Manager WHyPGen ini mengingatkan agar pihak-pihak yang memiliki kewajiban memetakan, atau pun berinisiatif seperti daerah bisa lebih tepat sasaran.

Saat ini pemerintah daerah mulai aware mengidentifikasi sumber energi di daerah. Namun pembiayaan proyek itu sering kali salah sasaran.

Hal senada diungkapkan Bendahara MEAI Roy B Samuel. Ia menilai pemanfaatan energi angin di Indonesia masih membutuhkan perhatian serius.

"Sejak delapan tahun lalu, saya berharap angin harus menjadi satu poin yang harus diseriusi lebih oleh pemerintah. Proyek pengukuran angin oleh pemerintah daerah tidak valid dan perlu arahan-arahan khusus," ungkapnya.

Selain validasi data tambahnya, untuk memajukan pengembangan energi angin diperlukan kemampuan industrialisasi agar mengurangi impor dan memperbanyak teknologi kandungan dalam negeri. Sehingga setiap kerusakan dan pemeliharaan bisa dilakukan sendiri.

Di negara-negara lain di dunia, pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB)telah memberikan kontribusi besar terhadap pemenuhan kebutuhan listrik dan telah terpasang sebesar 237,016 Gigawatt. Lima besar negara pengguna PLTB terbesar adalah Tiongkok, Amerika, Jerman, Spanyol dan India.

Di Indonesia pembangkit listrik bertenaga angin yang baru dimanfaatkan hanya 2 MW, itu pun hanya hasil uji coba penelitian.

Proyek WHyPGen yang sudah dimulai tahun 2012 dan berlangsung hingga 2015 menargetkan pembangkit listrik berbasis energi listrik berbasis teknologi WHyPGen sebesar 18,115 GWh setara dengan pengurangan emisi CO2 sebesar 16.050 metric ton dari aplikasi terpasang 9,4 Megawatt (MW). [R-15]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!