SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 25 Juni 2017
BS logo

Permukaan Air Laut Indonesia Naik 2-8 mm per Tahun
Rabu, 14 November 2012 | 14:52

Ilustrasi air laut [google] Ilustrasi air laut [google]

[BOGOR] Indikasi menguatnya perubahan iklim terlihat dalam berbagai fenomena alam. Kenaikan muka air laut salah satunya. Meski penelitian penyebab dominan masih terus diteliti, kenaikan muka air laut harus diwaspadai. Dalam kondisi global kenaikan muka air laut 3 milimeter (mm) per tahun, sedangkan di Indonesia mencapai 2-8 mm per tahun.

Untuk itulah Badan Informasi Geospasial (BIG) bersama Projek Riset Reconstruction of Sea Level Change in South Asia Using Satellite Altimetry and Tide Gauge Data (RESELECASEA) sejak tahun 2011 melakukan riset untuk merekonstruksi peta kenaikan permukaan laut dan pasang surut laut di Asia Tenggara dengan data satelit altimeter.

Kepala BIG Asep Karsidi mengatakan dari sisi fisik bumi mengalami pemanasan global yang semakin nyata. Terjadinya perubahan iklim ditandai semakin meningkatnya bencana meteorologi dan hidrologi.

"Tuntutan pemantauan kenaikan tinggi muka air laut di lokal (Indonesia) sangat penting dengan pemanfaatan altimetri. Sebab indikasinya wilayah timur Indonesia kenaikan muka lautnya lebih tinggi dibanding wilayah barat," katanya di sela workshop Coastal Satelite Altimetry di Bogor, Rabu (14/11).

Untuk mengetahui secara lebih cermat Indonesia membutuhkan kehadiran satelit altimetri. Asep pun berharap Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) bisa mengembangkan satelit tersebut. Sebab kenaikan muka air laut membawa sejumlah implikasi seperti tenggelamnya wilayah daratan, ketahanan pangan karena terganggunya iklim dan banjir.

Deputi Bidang Kedirgantaraan Lapan Ing Soewarto menyatakan Indonesia berpotensi memiliki satelit altimetri. Lapan menurutnya sudah menguasai pembuatan satelit, hanya perlu melengkapi muatannya untuk monitoring altimetri.

"Lapan sejauh ini sudah menghasilkan satelit A1 untuk penerapan teknologi,Lapan A2 atau Lapan Orari, Lapan A3 atau Lapan IPB-Sat untuk ketahanan pangan dan penelitian daerah pesisir," ucapnya.

Deputi Bidang Informasi Geospasial Dasar BIG Poentodewo mengungkapkan dengan mengetahui data tentang laut, muncul sudut pandang dalam proses pembangunan yang bertitik pangkal pada laut tidak hanya daratan.

Ia mencontohkan fenomena banjir Jakarta bukan hanya masalah yang terjadi di belakang laut. "Perlu diingatkan bahwa pembangunan di sepanjang pesisir, bagaimana kebijakan pembangunan kawasan pantai semuanya terkait dengan penataan kawasan pesisir. Selama ini kita miskin data untuk itu. Oleh karena itu penelitian maritim ini penting," jelasnya. [R-15]



Kirim Komentar Anda


Pasang iklan disini via B1 Ads