SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 2 Oktober 2014
BS logo

Pertama di Siloam, Intervensi Karotis Tanpa Operasi
Senin, 3 Desember 2012 | 11:08

Ilustrasi Siloam Hospitals [google] Ilustrasi Siloam Hospitals [google]


[JAKARTA] Untuk pertama kalinya di Siloam Hospitals Lippo Village,melakukan intervensi terhadap penyempitan pembuluh darah di
bagian leher (karotis) tanpa operasi. Intervensi yang disebut stenting carotid ini adalah suatu prosedur non bedah namun invasif yang bertujuan melebarkan pembuluh darah karotis yang mengalami stenosis dengan menggunakan stent.

Spesialis jantung dan pembuluh darah Siloam Hospitals Lippo Village dr Sunanto,mengatakan,salah satu penyebab serangan otak atau stroke adalah terjadinya penyempitan (stenosis) pembuluh darah utama di leher (arteri karotis),akibat pengumpulan lemak (plak) dan pengapuran. Arteri karotis berfungsi menyuplai darah ke arah leher dan kepala. Jika pembuluh darah tersumbat aliran darah berhenti ke otak,atau karena potongan kecil dari emboli putus dari plak,sehingga menyebabkan stroke.

Biasanya, pasien karotis dilakukan melalui pembedahan atau operasi, di mana pembuluh darah dibuka atau dibelah untuk mengevakuasi trombos di dalamnya. Operasi karotis tergolong sulit dan beresiko tinggi. Dibandingkan dengan metode konvensional ini, stenting carotid lebih mudah,kecil resikonya dan hanya menggunakan bius lokal,bukan bius total.

Di samping itu,pasien lebih nyaman tanpa operasi,pengerjaannya lebih singkat,dan masa pemulihan pun cepat. Stent yang dimasukan ke dalam pembuluh darah untuk menormalisasi bentuknya seperti semula,juga memiliki filter sehingga trombos-trombos tersebut tidak lepas. Sebab jika lepas bisa menyebabkan stroke.

"Metode ini diawali dengan memasukan selang pada pangkal paha pasien (katerisasi) untuk mengetahui lokasi dan kondisi penyumbatan. Setelah itu baru dilakukan tindakan," kata Sunanto di sela-sela seminar tentang updates on carotid and upra-aortic diseases management and live demo di Siloam Hospitals Lippo Village,Karawaci,Tangerang,Sabtu (1/12). Untuk pertama kalinya,Siloam Hospitals melakukan prosedur non bedah untuk karotis oleh dr Paul Kao dari NTUH Taiwan dan dr Antonia AL dari Siloam Hospitals. Dalam kesempatan yang sama Paul Kao juga melakukan intervensi pembedahan tanpa alat operasi untuk penyakit
jantung koroner bersama dr Doni Firman dari RS Jantung Harapan Kita.

Lebih detil,Sunanto mengatakan,sumbatan pada pembuluh darah karotis dirobek dengan balon lalu dipasangkan stent untuk mencegah terjadinya stenosis ulang. Metode ini penting untuk mencegah stroke dan mencegah stroke kambuh kembali. Metode stenting carotid memperkecil risiko terjadinya stroke.

Tindakan ini hanya membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam, dan dalam kondisi pulih pasien bisa langsung diijinkan pulang.
Namun,lamanya intervensi ini tergantung pada ketebalan sumbatan. Butuh waktu untuk mencari celah dan menembusnya.

Besarnya biaya juga tergantung dari banyak sedikitnya sumbatan. Semakin banyak sumbatan,semakin banyak pula stent yang dipakai. Jika harus memasang tiga stent, biayanya setara dengan operasi bypass yakni sekitar Rp70 juta, belum termasuk biaya kamar dan perawatan.

"Keberhasilan katerisasi ini tergantung keahlian operator yaitu dokter. Biasanya kita cek dahulu kondisi pembuluh darahnya seperti
apa. Kalau kita yakin bisa,keberhasilannya bisa mencapai 90%," kata Sunanto.

Dr Hardja Priatna,yang juga adalah spesialis jantung dan pembuluh darah Siloam Hospitals,mengatakan,tidak semua kasus karotis dilakukan stenting. Harus ada indikasi tertentu,misalnya jika penyumbatannya lebih dari 50% dengan tujuan untuk mencegah pasien kembali stroke. Lain dari itu, dioperasi atau hanya diberi obat.

Jika darah yang beku akibat stenosis tersebut sudah menyebar luas ke tempat lain,sebaiknya dioperasi, sebab jika tidak darah merembes ke mana-mana. Setelah diketahui ada penyempitan karotis pada cabang yang menuju otak,maka intervensi stenting carotid dilakukan untuk pencegahan primer sebelum terjadi stroke dan pencegahan sekunder setelah stroke sehingga tidak berulang.

"Waktu pasien alami gangguan darah ke otak,seperti aliran darah terganggu secara sementara saja lalu kolaps,lalu sembuh lagi, ini
perlu diperiksa dengan USG untuk memastikan apakah betul ada penyempitan signifikan atau tidak. Jika betul,maka untuk mencegah
kejadian berulang atau stroke yang lebih parah dilakukan intervensi minimal invasif ini," katanya.

Menurutnya, stenosis karotis memberikan kontribusi sekitar 30% untuk terjadinya stroke, yang menyebabkan kelumpuhan dan kematian. Karotis lebih banyak dipicu penyakit degeneratif atau penyakit tidak menular yang berkaitan dengan gaya hidup, seperti diabetes,kencing manis,kolesterol,darah tinggi dan keturunan. Dengan gaya hidup modern saat ini,banyak penduduk Indonesia diperkirakan beresiko mengalami stenosis karotis.

Gejala pasien stenosis karotis antara lain tiba-tiba kolaps,lumpuh separuh,bicara melo,buta dan gangguan neurologi. Gangguan itu terjadi hanya sebentar saja lalu kembali normal. Sayangnya sebagian besar penderita tidak mengenal gejala ini,atau ada yang mengetahui tetapi malah diabaikan,sehingga ketika datang berobat ke dokter sudah stadium lanjut atau sudah stroke. Karotis bisa dideteksi dini dengan Ultrasonografi (USG).

Ia mengatakan, stenting carotid belum banyak dilakukan di Indonesia karena kasusnya relatif sedikit. Sedikitnya kasus untuk stenting
carotid ini dikarenakan sebagian besar pasien datang sudah stadium lanjut,sehingga tidak membutuhkan intervensi ini. Selain itu,sumber daya manusia yang melakukan tindakan ini pun masih terbatas.[D-13]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!