SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 1 Oktober 2014

Pembantaian Satu Keluarga Di Sumut

Rencana Perayaan Ulang Tahun yang Berakhir di Kuburan ...
Selasa, 14 Mei 2013 | 6:24

Polisi melibatkan  anjing pelacak mencari jejak perampok sekaligus pembunuh satu keluarga di Desa Suka Mulia Hilir, Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut), Senin (13/5). [SP/Arnold Sianturi] Polisi melibatkan anjing pelacak mencari jejak perampok sekaligus pembunuh satu keluarga di Desa Suka Mulia Hilir, Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut), Senin (13/5). [SP/Arnold Sianturi]

Rumah permanen bercat putih di Desa Suka Mulia Hilir, Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut) itu, masih menjadi pusat perhatian.

Masyarakat terus berdatangan untuk mencari tahu perkembangan informasi atas penyelidikan polisi, apalagi sampai mengerahkan anjing pelacak. Ada juga yang hanya melihat-lihat lokasi, lalu pergi.

Namun, kerumunan warga yang datang tidak seperti hari-hari sebelum kasus pembantaian yang menggegerkan masyarakat pada Minggu (12/5) dini hari tersebut.  Rumah itu memang selalu ramai didatangi orang-orang sakit dan sehat untuk berobat.  

"Selama ini banyak orang yang datang untuk berobat alternatif. Adik saya, Patar Ginting memang bisa menyembuhkan orang yang sakit," ujar Nurmaya Ginting (54) kepada SP saat ditemui di Desa Suka Mulia Hilir, Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, Senin (13/5).  

Nurmaya merasa terpukul atas kematian Patar Ginting (50), Handayani (45), dan Siti Aisyah Ginting (8). Padahal, satu keluarga yang meliputi bapak, ibu serta anak tersebut, selama ini dikenal sangat baik kepada semua orang.

Bahkan, Patar tidak pernah menetapkan nilai uang saat mengobati pasien yang datang ke rumahnya.  

"Patar tidak pernah kecewa apalagi marah kalau ada pasien yang datang kemudian tidak memberikan uang atas perobatan itu. Dia pun ikhlas dalam setiap mengobati pasien yang datang berobat. Berapapun yang dikasih masyarakat itu dia terima. Banyak orang yang sembuh setelah berobat kepada adik tersebut," jelasnya.  

Dia menambahkan, tidak sedikit di antara masyarakat yang datang untuk berobat setiap harinya. Bila dihitung - hitung mencapai ratusan orang. Masyarakat banyak yang datang berobat karena almarhum semasa hidupnya, mengobati pasien tanpa menetapkan tarif perobatan. Meski pasien itu datang dengan mengendarai mobil mewah sekalipun.  

"Makanya saya heran, kenapa sampai ada orang yang tega membunuh mereka sekeluarga. Padahal, adik saya bersama istrinya itu, sama sekali tidak pernah bertengkar sama tetangga. Mereka dikenal sangat baik, bahkan sering membantu masyarakat setempat, termasuk saya sebagai kakaknya juga dibantu," ungkapnya.  

Pembantaian sadis oleh kawanan perampok yang menimpa keluarga Patar Ginting juga membuat Salizah (56), sebagai kakak tertua Handayani, sedih. Sebab, beberapa hari sebelum kejadian itu, Siti Aisyah yang turut menjadi korban, menghubungi Salizah melalui telepon.  

Merayakan HUT


Salizah diundang keponakannya itu untuk datang di hari ulang tahunnya, yang seharusnya genap berusia 8 tahun, 13 Mei 2013 ini.

Wanita warga Jl Belibis kawasan Perumnas Mandala Medan ini menyampaikan, bocah malang yang sangat bijak tersebut, tewas sehari sebelum perayaan ulang tahunnya tersebut.  

"Kedatangan saya bukan lagi untuk merayakan ulang tahun anak itu, tapi turut mengantarkan dirinya bersama ayah dan ibunya ke tempat peristirahatan terakhir. Mereka dikebumikan di pemakaman umum yang tidak jauh dari kawasan tempat tinggalnya. Saya mengharapkan, polisi segera menangkap pelakunya," katanya.  

Ia menceritakan, bahwa Siti Aisyah sangat dekat dengan ayahnya. Sehingga, kemanapun ayahnya pergi, dia selalu ikut. Termasuk ketika berada di dalam rumah, ayahnya yang selalu membuatkan anak itu minum susu. Maklum saja, ibunya, Handayani sehari - hari mengurus dagangan di rumah itu.  

"Saat kejadian, ketika listrik dalam rumah itu padam, Patar langsung keluar rumah untuk melakukan pengecekan meteran. Siti mungkin mengikuti langkah ayahnya yang keluar dari kamar. Ayahnya langsung digorok dan ditusuk senjata tajam, kemudian pelaku juga menggorok leher bocah malang tersebut. Handayani dihabisi di kamar mandi," ungkapnya.  

Salizah menduga, pelaku sadis yang membantai satu keluarga adiknya tersebut, sudah dikenal. Sebab, upaya pembunuhan itu untuk menghilangkan jejak dari identitas pelaku dari korban.  

Para pelaku sudah lama merencanakan aksi tersebut, mengingat keseharian keluarga korban itu, membuka tempat pengobatan alternatif.  

"Para pelaku itu pasti uda beberapa kali datang dengan berpura - pura mengantar pasien yang datang berobat ke rumah korban. Setidaknya, mereka berbaur dengan masyarakat setempat di tengah keramaian di depan rumah korban saat mengobati pasiennya. Pasti ada warga setempat yang terlibat," jelasnya.  

Anjing Pelacak


Kepolisian Resort (Polres) Deli Serdang mengerahkan anjing pelacak untuk melacak perampok sekaligus pembunuh Patar Ginting (50), Handayani (45) dan anaknya, Siti Aisyah Ginting (7) di Desa Suka Mulia Hilir, Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut).  

"Berbagai upaya akan dilakukan petugas untuk segera menuntaskan kasus tersebut. Termasuk menurunkan anjing pelacak, selain mengandalkan petugas yang melakukan penyelidikan. Anjing pelacak ini juga pernah ungkap kasus penculikan yang menewaskan seorang bocah," ujar Kapolres Deli Serdang, AKBP Dicky Patrianegara.  

Dia mengatakan, kasus kejahatan perampokan yang menewaskan satu keluarga tersebut masih dalam penyelidikan. Petugas yang turun ke tempat kejadian perkara (TKP) sudah meminta keterangan sejumlah saksi dari masyarakat setempat. Selain itu, petugas laboratorium forensik juga dikerahkan untuk turun ke lokasi.  

"Mereka diturunkan untuk mengidentifikasi sidik jari dari pelaku yang kemungkinan ada di dalam rumah korban. Temuan forensik itu nanti akan kita kembangkan lebih mendalam. Saat saat ini, belum ditemukan ada motif lain selain kejahatan perampokan tersebut. Para pelaku diduga menghabisi nyawa satu keluarga itu karena memberikan perlawanan," sebutnya. [155]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!