SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Oktober 2014
BS logo

Sidang Kasus Alkes

Saksi Akui Perusahaan Kakak Harry Tanoesudibjo Suplai Alkes
Senin, 10 Juni 2013 | 15:24

Ilustrasi Pengadilan Tipikor [google] Ilustrasi Pengadilan Tipikor [google]

[JAKARTA] Tiga saksi yang berasal dari PT Rajawali Nusindo, yaitu Kepala Cabang Balikpapan, Suwanto, Kepala Cabang Banten, Iskak Putra dan mantan karyawan PT Prasasti Mitra, Gozali Abadi (sekarang staf HRD PT Dosni Roha) membenarkan bahwa perusahaan milik kakak taipan media Harry Tanoesudibjo, Bambang Rudijanto Tanoesoedibjo, yaitu PT Prasasti Mitra adalah salah satu perusahaan yang memasok alat kesehatan jenis ventilator merek Drager dalam pengadaan alat kesehatan dan perbekalan dalam rangka wabah flu burung tahun anggaran 2006-2007 di Kementerian Kesehatan.

Padahal, PT Rajawali Nusindo yang ditunjuk sebagai pemenang lelang dalam pengadaan alat kesehatan (alkes) tersebut.

"Hubungan PT Rajawali Nusindo dengan PT Prasasti karena dia salah satu supplier barang-barang yang diminta Kemenkes. Mereka yang menyediakan barang," kata Suwanto saat bersaksi di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (10/6).

Demikian juga, saksi Gozali mengatakan, PT Prasasti Mitra perusahaan tempat dia bekerja dulu adalah agen penjual alat-alat medis merek Drager asal Jerman.

Tetapi, anehnya, dalam surat dakwaan dikatakan PT Rajawali dianggap menyalahi peraturan pemerintah dalam pengadaan barang dan jasa. Sebab, melakukan sub-kontrak pekerjaan kepada beberapa perusahaan penyedia alat-alat medis, salah satunya PT Prasasti Mitra. Padahal, dalam klausul pengajuan kontrak, tidak tercantum soal adanya sub kontrak.

Dalam sidang sebelumnya, saksi Tatan Saefuddin yang merupakan panitia pengadaan alat kesehatan tahun 2006, mengatakan bahwa pernah mendengar pembicaraan antara terdakwa Ratna Dewi Umar selaku mantan Direktur Bina Pelayanan Medik Dasar dengan Rudi seputar proyek pengadaan alat kesehatan.

"Benar (pernah dengan terdakwa di telepon Rudi tentang alkes) karena dalam pembicaraan disebut nama itu (Rudi)," kata Tatan ketika bersaksi untuk terdakwa Ratna Dewi Umar dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (3/6).

Kemudian, lanjut Tatan, akhirnya diketahui bahwa Rudy berasal dari PT Prasasti Mitra setelah bertemu dengan Sutikno yang juga berasal dari perusahaan yang melaksanaan proyek pengadaan alkes tahun 2006. Padahal, perusahaan yang ditunjuk mengerjakan proyek adalah PT Rajawali Nusindo.

Lebih lanjut saksi Tatan mengatakan bahwa atas perintah terdakwa Ratna Dewi Umar PT Rajawali Nusindo ditunjuk sebagai perusahaan pemenang lelang tender pengadaan alat kesehatan dan perbekalan dalam rangka wabah flu burung tahun anggaran 2006-2007 di Kementerian Kesehatan.

Tetapi, agar proses lelang tampak sesuai prosedur, disertakan dua perusahaan pendamping, yakni PT Indofarma Global Medika dan PT Biofarma.

Dalam surat dakwaan, Ratna dianggap menyalahgunakan wewenang sebagai pejabat negara, dengan menunjuk langsung PT Rajawali Nusindo dalam proyek pengadaan alat kesehatan dan perbekalan dalam rangka wabah flu burung tahun anggaran 2006-2007 di Kementerian Kesehatan.

Namun, dalam prakteknya, dalam dakwaan Jaksa, PT Rajawali Nusindo justru menyerahkan pekerjaan kepada PT Prasasti Mitra, perusahaan milik Bambang Rudijanto Tanoesudibjo.

Pelaksanaannya PT Prasasti Mitra malah kembali mengalihkan pengadaan alat kesehatan itu dari beberapa agen tunggal. Yakni PT Fondaco Mitratama, PT Prasasti Mitra, PT Meditec Iasa Tronica, PT Airindo Sentra Medika, dan PT Kartika Sentamas dengan harga lebih murah. (N-8)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!