SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 1 November 2014
BS logo

SBY Minta Kemenlu Siapkan Buku Putih
Kamis, 23 Februari 2012 | 14:41

Presiden SBY [google] Presiden SBY [google]

[JAKARTA] Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) diminta untuk menerbitkan buku putih tentang kebijakan luar negeri Republik Indonesia (RI) untuk satu periode pemerintahan. Permintaan itu dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bukan saja penting untuk para diplomat, namun juga para menteri, gubernur, hingga ke jajaran kepala daerah.

Dalam Rapat Kerja Kemenlu dan Perwakilan RI di kantor Kemenlu, Jakarta, Kamis (23/2), Kepala Negara mengatakan, buku putih itu akan memuat tujuan, strategi, dan kebijakan Kemenlu. Di mana, buku yang diharapkan akan selesai dan didistribusikan pada dua atau tiga bulan ke depan harus di-update tiap tahunnya.

“Our world so dynamic. Banyak sekali gubernur yang hadir di forum internasional. Jangan sampai pandangannya tidak segaris dengan apa yang didiplomasikan jajaran Kemenlu dan tidak segaris dengan kebijakan Presiden. itu namanya pecah kongsi. Apalagi kalau tabrakan antar duta besar,” ucapnya di hadapan  130 kepala perwakilan RI di luar negeri baik dubes, konsul jenderal, 4 konsul, serta 3 kuasa usaha ad-interim.

Dalam kesempatan itu, Presiden SBY juga menyatakan lima hal harapannya kepada para dubes dan diplomat RI. ”Pertama be confident, yang kedua have a global view, yang ketiga know your mission, yang keempat be achievement oriented, kemudian yang kelima always be ready, active and creative,” imbuhnya.
 
Menurutnya, para diplomat harus percaya diri bahwa bangsanya sudah berubah dari bangsa yang terpuruk menjadi bangsa yang dipandang dan sedang bertumbuh di tengah krisis global. “Diplomat Indonesia tidak boleh minder pada diplomat lain apalagi di jajaran Asean,” tegasnya.

Pada poin kedua, SBY mengharapkan para diplomat di era globalisasi memiliki pandangan global dalam suatu masalah. Hal itu penting dimiliki karena keputusan yang diambil negara lain bisa mempengaruhi kondisi di negeri ini. Misalnya saja,
ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat hingga membuat harga minyak dunia meroket.

”Dengan keadaan ini kita perlu menyesuaikan kembali APBN, fiskal dan subsidi kita. Yang tadinya tidak ingin naikkin harga jadi perlu ditinjau kembali, ini terpaksa tapi membawa keselamatan perekonomian di masa depan,” katanya yang juga mengaku kurang senang jikalau bangsa lain melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan bangsa lain.

Kemudian, para diplomat juga diminta Presiden untuk benar-benar betul mengetahui misi yang diemban dalam tugasnya. Salah satu poin yang termasuk dalam harapan Presiden ini antara lain, para dubes dapat menjaga hubungan baik dengan negara lain, menjaga warga Indonesia di luar negeri, serta mematahkan informasi buruk tentang Indonesia.

Presiden juga meminta agar para diplomat dapat menunjukkan kemajuan kerjanya. Di mana, kinerja itu dapat dilaporkan hanya dalam lima lembar tulisan. ”Jangan kebanyakan gledek atau gluduk tapi hujan tidak turun-turun,” tukas dia.
 
Terakhir, diplomat juga diminta untuk tidak hanya aktif, tetapi juga kreatif dalam bekerja. Presiden meminta agar diplomat mampu berpikir outside the box dan juga lebih menjangkau siapa atau masalah apapun secara langsung. Tentunya SBY juga meminta dubes untuk memimpin perubahan di forum-forum internasional.

Diluar lima harapan itu, Kepala Negara juga tak lupa berpesan agar konflik internal atau office politic antara pejabat dan staf bisa cepat diselesaikan. “Dengarkan baik-baik, saya masih mendengar ada insiden kekisruhan internal di perwakilan di luar negeri yang disebut office politic. Tabrakan, konslet antar pejabat dengan staf. Kalau itu terjadi, bikin habis waktu dan efektifitas habis,” imbuhnya.

Sementara itu, Menlu Marty M. Natalegawa mengutarakan, diplomasi yang diperjuangkan telah menempatkan Indonesia sebagai regional power. Tak pelak, Indonesia muncul sebagai negara yang memiliki global responsibilites dan global interest. Tidak ada satu pun isu global dan regional utama yang luput dari perhatian politik luar negeri Indonesia.
 
Lebih jauh, Indonesia semakin dituntut untuk terus menjadi kontributor dalam menciptakan lingkungan di kawasan dan global yang bersahabat dan kondusif. Pada saat yang bersamaan, diplomasi Indonesia juga diharapkan terus berperan sebagai net contributor pada upaya pembangunan nasional.

Oleh karena itu, Marty memastikan bahwa diplomasi Indonesia harus dapat mengelola dan mendorong perubahan. “Merupakan tanggung jawab Kemenlu dan para Kepala Perwakilan untuk mewujudkan program yang nyata di negara akreditasi masing-masing,” ungkapnya.
 
Program tersebut, lanjutnya, perlu memiliki fokus, dengan skala prioritas yang jelas dan upaya pelaksanaan yang dapat diukur tingkat keberhasilannya. Kemenlu juga menyatakan tengah mengembangkan potensi sumber daya manusianya saat ini sebagai aset utama diplomasi. Sebelumnya, Presiden SBY juga mengharapkan agar Kemenlu benar-benar menyiapkan penerjemah handal bukan hanya dalam bahasa Inggris, Mandarin, namun juga yang lainnya.
 
Sebagai informasi, acara pengarahan Presiden RI tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Rapat Kerja 2012 Kemenlu dan Perwakilan yang berlangsung di Jakarta, 20-24 Februari 2012. Tampak hadir dalam acara pengarahan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. [O-2]  




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!