SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 25 Juni 2017
BS logo

Suriel Mofu, Putra Papua Penakluk Oxford
Kamis, 17 Februari 2011 | 16:23

Suriel Mofu [SP/Yuliantino Situmorang] Suriel Mofu [SP/Yuliantino Situmorang]
Siang hari, 7 Maret 2009 menjadi hari bersejarah bagi Suriel Mofu. Hari itu, anak muda asal Papua ini berhasil menaklukkan salah satu kampus ternama di dunia, Universitas Oxford. Suriel meraih gelar S-3 Doktor Filsafat dari universitas nomor satu di Inggris itu. Dia boleh berbangga, sebab gelar tersebut belum pernah diraih mahasiswa Papua ataupun mahasiswa-mahasiswa di Asia Pasifik. Gelar tertinggi sebelumnya yakni di level S-2 pernah diraih Kenneth Sumbuk, Rektor Universitas Papua Nugini.

“Dia kaget, karena dia yang satu-satunya pegang rekor. Ternyata ada saya yang bisa melewatinya. Ini suatu kebanggaan. Tidak hanya bagi Papua, tetapi juga Indonesia. Sebab, orang Indonesia yang kuliah di Oxford sangat langka. Saya tidak pernah membayangkan bisa diterima di Oxford dan lulus,” tutur Suriel saat ditemui SP di Jakarta baru-baru ini.

Pria kelahiran Biak, 22 Juli 1971 itu mengaku bangga, saat diwisuda hanya dia orang kulit hitam dari 250 wisudawan yang memenuhi Gedung Sheldonian Theatre, Universitas Oxford. Selebihnya adalah wisudawan kulit putih dan ada juga sejumlah wisudawan dari Tiongkok dan Jepang. Saat itu, hanya sekitar 50 orang yang diwisuda untuk gelar doktor, sisanya adalah untuk gelar master dan sarjana.

 “Saya bangga, sebab hanya saya sendiri yang berkulit hitam dan berambut keriting. Memang ada juga beberapa wisudawan dari Asia seperti Tiongkok dan Jepang. Ini kebanggaan yang luar biasa, Oxford yang menakutkan ternyata bisa saya taklukkan,” kenang Suriel.

 Awalnya, Suriel tidak menyangka bisa diterima di Oxford. Sekitar tahun 2003 saat masih menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra Universitas Negeri Papua (Unipa) dia melamar menjadi mahasiswa S-2 di Oxford. Ternyata diterima. Selama 2003-2005 dia tinggal di Inggris dan menyelesaikan Master of Philosophy (M.Phil).

Bahkan, tesisnya tentang Comparative Philology and General Linguistics mendapat nilai terbaik. Dengan hasil itu, ayah tiga anak ini langsung mendapat kesempatan melanjutkan studi doktor di Universitas Oxford tanpa melalui tes. Gelar doktornya dia selesaikan tahun 2009.  Selama enam tahun di Oxford, Suriel menyadari, ternyata tidak terlalu sukar.

 “Kuliah di mana saja sama dan bisa kita atasi kalau kita tahu aturan dan standar-standarnya. Selama di sana, saya berusaha memenuhi standar-standar itu,” ujarnya.

Bagi Suriel keberhasilannya itu sebenarnya hasil didikan panjang dari orang tuanya. Kedua orangtuanya sangat disiplin untuk masalah pendidikan. Ayahnya, Henokh Mofu, guru olahraga di sebuah sekolah di Biak Timur selalu menekankan agar Suriel selalu menjadi orang pintar.

 “Dia tidak ingin saya bermain bola. Padahal, ayah saya itu pemain sepakbola. Tetapi menurutnya, pemain bola di Indonesia nasibnya tidak mujur, selalu kandas,” tutur Suriel.

Ayahnya memang mantan pemain pertama Persipura. Henokh bersama legendaris sepakbola Papua lainnya pernah bertandang ke Tanah Jawa  tahun 1969.

“Didikannya keras. Soal pendidikan selalu nomor satu. Saya waktu kecil diharuskan tidur siang ketika teman-teman saya sibuk bermain. Sebab malamnya saya harus konsentrasi belajar. Disiplin diterapkan dari awal, perlakuan itu berbeda dengan anak-anak kampung sebaya saya lainnya,” kata dia.

Ternyata, didikan itulah yang membuat Suriel selalu menjadi juara 1 di sekolah, sejak di SMP hingga menjadi juara umum di Universitas Cendrawasih. Tetapi, bukan berarti Suriel terus berkutat dengan buku. Dia tetap memiliki hobi olahraga yakni sepak takraw. Bahkan, dia menjadi pemain sepak takraw andalan SMA 1 Biak untuk kejuaraan sepak takraw tingkat kabupaten.

Pertengahan Januari lalu, Suriel terpilih menjadi Rektor Unipa. “Pelantikannya bulan Maret, tunggu SK dari Mendiknas,” kata Suriel. Baginya, tugas menjadi rektor bukan hal mudah. Tetapi, cita-cita awalnya ketika menjadi salah satu penggagas terbentuknya Unipa tahun 2000 lalu, akan dia wujudkan. “Saya ingin menjadikan Unipa sekolah tinggi terbaik di ufuk timur Indonesia. Standar-standarnya jelas yakni kualitas. Kualitas akan menjadi ukuran. Sekalipun kami di timur, kalau kualitas, kami akan kejar peringkat nasional dan internasional,” kata dia.

Unipa merupakan satu dari tiga universitas negeri di Papua selain Universitas Musamus dan universitas tertua di Papua yakni Universitas Cendrawasih. Sebelum menjadi universitas, Unipa awalnya adalah Fakultas Pertanian Uncen. Saat ini, Unipa berada di peringkat 103 nasional. Dalam lima tahun masa kepemimpinannya, Suriel menargetkan Unipa masuk 20 besar nasional.

Dia menyiapkan tiga tema utama untuk kampusnya yakni Unipa yang mandiri, bermutu, dan sejahtera. Menurutnya, Unipa harus mandiri dalam melaksanakan berbagai aktivitas baik pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

“Kami selama ini terlalu bergantung pada pemerintah maupun sumber-sumber dana dari luar. Padahal kami punya potensi-potensi seperti peternakan sapi yang banyak, kebun percobaan yang menghasilkan hasil pertanian yang unggul seperti ubi. Kemudian kami juga memiliki tanah yang luas. Itu belum dimanfaatkan. Belum unit-unit usaha yang lain yang bisa dikelola untuk membiayai sendiri tiga tri dharma perguruan tinggi itu,” paparnya.

Menurut dia, seseorang yang mandiri itu adalah orang yang bermutu. Karena itu, kata Suriel, harus diterapkan pengelolaan yang bermutu dari segala tingkatan di kampus. Jika sudah mandiri, lalu bermutu, otomatis kesejahteraan akan diperoleh. Suriel mengaku tahu apa terbaik untuk Unipa.

 “Sebab saya tahu apa artinya terbaik karena saya pernah kuliah di salah satu universitas terbaik di dunia. Akreditasi harus ditingkatkan dari C, B, ke A. Sekarang kebanyakan C. Akreditasi tidak bisa ditingkatkan kalau tidak berkualitas,” tuturnya.

Saat ini sudah ada 4.563 mahasiswa yang kuliah di enam fakultas di Unipa yakni Pertanian dan Teknologi Pertanian, Kehutanan, Peternakan, Perikanan dan Ilmu kelautan, FMIPA, Ekonomi, dan Fakultas Sastra. Dijelaskan, basis utama Unipa adalah pertanian dan pelestarian lingkungan hidup. Hal itu didasari kondisi banyaknya kerusakan alam di Papua. Padahal, Papua adalah harapan terakhir paru-paru dunia.

“Jadi kita perlu menjaga itu. Makanya pola studi kami mengarah ke sana,” ujarnya.

Rencananya, ada dua fakultas baru yang akan dikembangkan yakni Fakultas Keguruan dan Teknik. Hal ini melihat potensi Papua yang kaya bahan tambang. Menurut Suriel, peluang itu harus dimanfaatkan.

“Anak Papua harus banyak yang dididik untuk menguasai teknik migas, pertambangan, geologi, sehingga perusahaan-perusahaan tambang di Papua harus menyerap tenaga kerja anak Papua,” ujarnya.

Sedangkan Fakultas Keguruan diperlukan karena SDM di Papua rendah dan tidak merata. Fakultas Keguruan nantinya bisa menghasilkan pendidik yang berkualitas dan bisa dikirim ke seluruh Tanah Papua untuk mengangkat SDM.

Semuanya itu demi mengubah Unipa. Baginya, mengubah Unipa berarti mengubah Papua.

“Unipa harus menjadi yang terbaik di Papua dan memberi yang terbaik bagi Papua. Anak Papua tidak perlu jauh-jauh kuliah di Jawa atau daerah lain, sebab di Papua ada universitas yang bagus. Dulu saya sekolah susah, guru tidak lengkap. Ini sekarang harus diubah, agar SDM Papua bisa meningkat. Universitas adalah pabrik tenaga SDM andal yang bisa mengubah keadaan itu. Saya melihat ini sebagai tantangan sekaligus peluang yang besar sekali untuk mengubah Papua,” kata Suriel. [SP/Yuliantino Situmorang]    



Kirim Komentar Anda


Pasang iklan disini via B1 Ads