SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 23 Oktober 2014
BS logo

Tinju Perut Pamen, Kapolda Sumut Terancam Dipidanakan
Kamis, 6 Desember 2012 | 12:30

Kapolda Sumut Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro. [Antara] Kapolda Sumut Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro. [Antara]

[MEDAN] Wakil Direktur Sabhara Polda Sumut, AKBP Yohanes S berhak untuk membuat pengaduan melaporkan Kapolda Sumut Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro, yang meninju perutnya saat pengamanan demo buruh, Rabu (5/12), sekitar pukul 18.56 WIB.  

Pengaduan perwira menengah (Pamen) ini pun harus diterima penegak hukum, jika orang bersangkutan merasa keberatan atas ulah pimpinannya.

"Ini merupakan zaman keterbukaan, dan siapa saja berhak membuat pengaduan bila memang merasa dirugikan, apalagi dalam kasus penganiayaan terhadap aparat oleh pimpinannya, seperti yang terjadi Rabu petang itu," ujar praktisi hukum asal Medan, Roder Nababan kepada SP di Medan, Sumatera Utara (Sumut), Kamis (6/12).

Menurutnya, tidak layak jika seorang pimpinan yang berpangkat jenderal bintang dua meninju perut bawahan di depan umum. Apalagi, saat kejadian itu banyak buruh yang menyaksikan.  

Selain itu, perut Yohanes ditinju Kapolda Sumut di hadapan pasukan anti huru-hara. Mereka yang melihat dapat dijadikan saksi.

"Bila Yohanes merasa dirugikan dan dipermalukan begitu, sebaiknya melaporkan kejadian ke pimpinannya di Mabes Polri. Yang namanya kasus penganiayaan, bisa dijerat pidana. Hukum tidak memandang siapa orang tersebut, apakah penguasa maupun seorang Kapolda. Jika melanggar hukum maka harus diproses," tegasnya.

Kemarahan Irjen Wisjnu Amat Sastro karena ribuan buruh merobohkan pagar pintu kantor Gubernur. Kapolda Sumut sangat marah yang kemudian mengancam untuk menindak buruh jika bertindak anarkhis.  

"Kalau kalian anarkhis maka akan saya sikat," kata Kapolda. Sikap tegas itu kemudian disambut pasukan huru-hara dengan memukul tameng.

Suara bising itu membuat Kapolda semakin marah. Kemudian dia memaki-maki anak buahnya dengan perkataan "monyet" dan kotoran. Tidak lama kemudian, Yohanes yang menjadi pimpinan dari pasukan huru-hara itu, kena tinju. Yohanes hanya terdiam ketika pimpinannya melakukan kekerasan tersebut.

"Percuma kau perwira tapi tidak bisa atur anak buahmu. Perwira tai kau. Monyet kalian semua," kata Kapolda saat menghampiri barisan pasukan Sabhara tersebut. Saat itulah perut Yohanes kena tinju, dan seluruh anggotanya disebut monyet. Aksi Kapolda itu disaksikan pejabat utama Pemerintahan Provinsi Sumut.

Menurut Koordinator Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia (PMPHI), Gandi Parapat, tindakan Kapolda Sumut tidak mencerminkan seorang pemimpin. Kepemimpinan Kapolda justru bertolak belakang dengan pemimpin sebelumnya, Komjen Pol Oegroseno. Saat Oegroseno menjabat sebagai Kapolda dengan pangkat Irjen Pol, metode kepemimpinannya sangat membawa pengaruh positif.

"Jangankan seluruh anggota kepolisian, masyarakat pun berpikir seribu kali untuk melakukan anarkhis saat berdemo. Ini terwujud karena sentuhan Oegroseno bahwa jangan ada darah dan air mata mengalir di kantor Polisi. Perbedaan metode  kepemimpinan ini sangat jauh sekali," ungkapnya. [155]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!