SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 21 Oktober 2014
BS logo

Toleransi Memajukan Bangsa
Senin, 18 Juni 2012 | 10:31

Wakil Ketua Dewan Mufti Rusia Rushan Abbyasov (ketiga dari kanan) berfoto bersama Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Noer Fajrieansyah (ketiga dari kiri), Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Addin Jauharudin (kiri), Ketua Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma) Indonesia Dhika Yudhistira (kanan), dan Ketua Gerakan Ekayastra Unmada-Semangat Satu Bangsa, Putut Prabantoro di Moscow, Rusia, Minggu (17/6). [SP/Asni Ovier DP]



Wakil Ketua Dewan Mufti Rusia Rushan Abbyasov (ketiga dari kanan) berfoto bersama Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Noer Fajrieansyah (ketiga dari kiri), Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Addin Jauharudin (kiri), Ketua Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma) Indonesia Dhika Yudhistira (kanan), dan Ketua Gerakan Ekayastra Unmada-Semangat Satu Bangsa, Putut Prabantoro di Moscow, Rusia, Minggu (17/6). [SP/Asni Ovier DP]

[MOSKOW] Sikap toleransi antarumat beragama yang menciptakan suatu kerukunan warga negara justru bisa membuat suatu negara menjadi maju dan besar. Perpecahan di antara warga negara, termasuk perpecahan agama, justru akan semakin membuat negara itu terpuruk.

Pandangan itu disampaikan Wakil Ketua Dewan Mufti Rusia Rushan Abbyasov saat bertemu dengan Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Noer Fajrieansyah, Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Addin Jauharudin, dan Ketua Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma) Indonesia Dhika Yudhistira di Moscow, Rusia, Minggu (17/6).   Wartawan SP, Asni Ovier DP melaporkan, delegasi mahasiswa Indonesia tersebut didampingi Ketua Gerakan Ekayastra Unmada-Semangat Satu Bangsa, Putut Prabantoro.

"Sebenarnya, bagi Rusia istilah yang tepat bukan toleransi, melainkan persaudaraan. Kami banyak pengalaman hidup berdampingan selama lebih 1.000 tahun," ujar Rushan.

Dewan Mufti Rusia (Russia Muftis Council/RMC) adalah suatu organisasi kemasyarakata Islam, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. RMC sudah banyak membantu pemerintah dalam menjaga persatuan nasional Rusia.

Dikatakan, hidup berdampingan antara warga negara merupakan modal utama dan sangat penting dalam kemajuan suatu bangsa. Suatu negara dengan beragam suku bangsa dan agama, seperti Rusia, perlu terus menjaga persatuan melalui toleransi itu agar bisa menjadi negara besar.

"Persaudaran merupakan modal kekuatan kami untuk membangun negara.  Melalui persaudaraan itu juga kami menjalin hubungan erat dengan negara lain," katanya.

Terkait kebebasan beragama tersebut, Rushan menjelaskan, konstitusi Rusia memberikan kebebasan kepada setiap warga negara untuk beragama. Atas dasar itu, hukum negara dan hukum syariah berjalan beriringan.

"Di Rusia, syariah itu hubungannya antara umat dengan Allah. Kalau ada umat muslim yg melanggar syariah, yang mengurusnya adalah ulama atau organisasi keislaman. Mungkin, itu juga yang membuat kerukunan beragama berjalan baik di Rusia," katanya.

Terkait hubungan Indonesia dan Rusia, khususnya dalam dunia Islam, Rushan mengatakan, umat muslim di negaranya sangat berterima kasih dengan sosok Presiden pertama RI Soekarno. Dia menceritakan, Soekarno pernah mengunjungi masjid yang bersejarah di Rusia, padahal masjid tersebut ditutup oleh pemerintahaan saat itu.

"Saat diketahui bahwa Presiden Soekarno hendak berkunjung, masjid itu dibuka dan dibersihkan. Sejak kunjungan itu, masjid tersebut dibuka. Kami sangat berterima kasih kepada Presiden Soekarno dan bangsa Indonesia," ujar Rushan. ***




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!