SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Maret 2017
BS logo

Turki Ancam Gelar Aksi Massa Lagi di Jerman
C-5 | Senin, 20 Maret 2017 | 12:26

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan  berbicara soal rencana referendum 16 April mendatang saat pertemuan dengan para pendukungnya di Istanbul, Minggu (19/3).[AP] Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara soal rencana referendum 16 April mendatang saat pertemuan dengan para pendukungnya di Istanbul, Minggu (19/3).[AP]

[ANKARA] Turki menyatakan para menterinya kemungkinan bisa merencanakan aksi massa lagi di Jerman menjelang referendum pada 16 April mendatang. Langkah itu dipastikan bisa meningkatkan ketegangan antara Ankara dan Berlin.

Hal itu disampaikan oleh juru bicara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Ibrahim Kalin, dalam wawancara dengan CNN Turki hari Minggu (19/3). Sebelumnya, Kalin mengkritik otoritas Jerman karena mengizinkan Partai Pekerja Kurdi (PKK) yang dilarang, untuk menggelar aksi massa di Jerman.

Sekitar 30.000 demonstran pro-Kurdi berkumpul di pusat kota Frankfurt pada Sabtu (18/3) untuk berunjuk rasa melawan referendum oleh Erdogan. Mereka menolak Turki memberikan kekuasan lebih besar kepada sang presiden.

Para demonstran di kota Jerman tersebut menyerukan “Erdogan teroris” dan “Pembebasan untuk Ocalan”, merujuk kepada pemimpin kelompok militan PKK yang dipenjarakan, Abdullah Ocalan. “Kami mengutuk keras otoritas Jerman karena mengizinkan demonstrasi oleh para pendukung teroris PKK,” kata Kalin.

Polisi Frankfurt beralasan aksi protes itu berjalan damai dan sebagian besar pengunjuk rasa telah memenuhi hukum Jerman. Turki telah terlibat dalam perselisihan diplomatik dengan Jerman dan Belanda setelah kedua negara itu mencegah para menteri Turki untuk menghadiri aksi massa bagi para warga Turki di sana, dengan alasan keamanan.

Erdogan merespons situasi itu dengan menyebut Jerman mepraktikkan Nazi dan menyalahkkan Belanda atas pembantaian Srebrenica tahun 1995 di Bosnia. Erdogan juga mengancam akan mengirimkan 15.000 migran ke Uni Eropa, serta akan membatalkan kesepakatan pada Maret 2016 untuk mengurangi aliran pengungsi ke Eropa. Jerman adalah rumah bagi lebih dari tiga juta warga asli Turki, tempat hampir setengah dari mereka memiliki hak suara untuk referendum.[RadioFreeEurope/CBCNews/C-5]




Kirim Komentar Anda


Pasang iklan disini via B1 Ads