SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Maret 2017
BS logo

Wartawati Hamil Dibunuh Suami, Gubernur: Hukum Berat Pelaku
Senin, 20 Maret 2017 | 12:28

Maria Yeane Agustuti [facebook] Maria Yeane Agustuti [facebook]

[PALU] Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Longki Djanggola meminta pelaku pembunuhan wartawati Surat Kabar Harian Palu Ekspres, Maria Yeane Agustuti atau Maria, dihukum seberat-beratnya. Bahkan bila memungkinkan dari sisi hukum dapat dihukum mati.

Hal itu ditegaskan Gubernur Longki saat melayat ke rumah duka di Jalan Tanjung Manimbaya, Palu Selatan, Sulteng, Minggu (19/20) sore.

"Dari penyampaian keluarga mendiang Maria dalam keadan hamil tiga bulan. Ini artinya pelaku telah menghilangkan dua nyawa sekaligus, karena ia harus dihukum seberat-beratnya. Bila perlu dihukum mati," tegas Longki.

Ia juga menyampaikan ke depan Pemprov Sulteng akan semakin meningkatkan kampanye dan sosialisasi antikekerasan terhadap

perempuan. Sehingga kum perempuan lebih paham apa yang disebut sebagai kekerasan dalam rumah tangga yang dapat berupa kekerasan verbal atau tindakan fisik. “Bila mereka paham maka akan tahu bagaimana mengantisipasinya atau menghindarkan diri dari KDRT," kata Ketua DPD Partai Gerindra Sulteng ini.

Maria (34) ditemukan sudah tak bernyawa di kamar kosnya di Jalan Manimbaya, Palu, oleh adik korban, Frans, Jumat (18/3), sekitar pukul 11.00 Wita. Wartawati energik ini diduga tewas dibunuh suaminya sendiri bernama Rinu Yohanes. Di leher Maria terlihat bekas cekikan tali dan wajahnya membiru. Maria sempat dilarikan ke Rumah Sakit Bala Keselamatan Palu, namun pihak medis menyebutkan korban sudah meninggal ketika tiba di rumah sakit itu.

Yohanes yang melarikan diri seusai membunuh istrinya, berhasil ditangkap polisi di rumah salah satu keluarganya di Dusun Tolana, Desa Bega, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, pada Sabtu (18/3) sekitar pukul 22.00 Wita. Saat ini, tersangka sedang diperiksa intensif di Polres Palu.

Kapolresta Palu AKBP Christ Reinhard Pusung mengatakan, pihaknya polisi masih mendalami motif pembunuhan Maria, namun dari keterangan saksi, pembunuhan itu dipicu oleh pertengkaran antara tersangka dan korban sejak Kamis (16/3) malam, hingga Jumat (17/3) pagi. Kemudian Jumat sekitar pukul 10.00 Wita, tersangka meninggalkan rumah kos menggunakan sepeda motor dan membawa sejumlah uang milik korban.

"Tim penangkapan berhasil mengamankannya, dari tangan pelaku disita satu buah motor dan uang Rp 300.000," kata Christ.

Dalam pemeriksaa, Yohanes mengaku mencekik leher istrinya dengan selendang berwarna hijau hingga tidak sadarkan diri, lalu membaringkan korban dengan posisi menghadap ke dinding.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 44 ayat 3 UU 23/2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

Sementara itu, keluarga Maria menyatakan telah memaafkan Yohanes dan menyerahkan proses hukum pada polisi.

“Dari segi agama, kami memaafkan pelaku, namun dia juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum,” kata kakak kandung korban, Pastor Quirinus Soetrisno, di Palu, Senin (20/3) pagi, sesaat sebelum pemberangkatan jenazah ke kampung halamannya, di Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Quirinus yang merupakan seorang Pastor Katolik di Sumatera Utara itu mengatakan, keluarga sangat menyayangkan perbuatan suami Maria. Apa yang telah dilakukan merupakan tindakan yang cukup tragis yakni menghilangkan nyawa bukan hanya satu tetapi dua orang.

Dia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang yang telah membantu keluarga dalam proses pengurusan jenazah, hingga pemberangkatan ke NTT. [159]


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 




Kirim Komentar Anda


Pasang iklan disini via B1 Ads