SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 25 Juni 2017
BS logo

BPPT-Jepang Riset Limbah Biomasa Untuk Dijadikan Bioetanol
Kamis, 26 Juni 2014 | 15:59

Kompor  biomassa. [Google] Kompor biomassa. [Google]

[JAKARTA] Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama universitas, institusi penelitian dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Jepang mengembangkan sumber bahan bakar dengan memanfaatkan limbah biomasa menjadi bahan bakar bioetanol.

Kerja sama yang dituangkan dalam proyek Science and Techonology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS) ini mulai diimplementasi Kamis (26/6) dan berakhir tahun 2020.

Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan kerja sama ini dilakukan dengan memanfaatkan limbah biomasa yang termanfaatkan menjadi bahan bakar cair dan diharapkan bisa mensubtitusi bahan bakar minyak (BBM).

Nantinya limbah biomasa ini akan menghasil metanol yang bisa dipakai untuk pembuatan biodiesel.

"Bahan bakar biodiesel diharapkan bisa menggantikan solar atau BBM. Untuk membuat biodiesel diperlukan 90 persen minyak sawit dan 10 persen metanol," katanya di sela-sela 'kick off' SATREPS di Gedung BPPT, Jakarta, Kamis (26/6).

Menurut Unggul, selama ini jarang dipikirkan bagaimana membuat biodiesel skala besar dan bagaimana ketersediaan bahan baku. Kecenderungan saat ini jika berbicara minyak sawit dan konflik pangan.

Padahal produksi minyak sawit Indonesia 30 juta ton per tahun, hanya 8 juta ton per tahun saja yang dimanfaatkan untuk pangan dan sisanya diekspor.

Di sisi lain konsumsi BBM terus meningkat. Impor BBM tercatat sekitar 800.000 barel per hari. Sehingga diperlukan energi alternatif.

Sementara itu ketersediaan metanol yang selama ini dipasok dari Kalimantan Timur jumlahnya pun terbatas. Sebab selain untuk biodiesel, metanol juga digunakan sebagai bahan baku perekat kayu lapis. "Jangan sampai program ini terkendala pasokan metanol," ujarnya.

Oleh karena itu BPPT bersama Universitas Gunma, Asian People's Exchange (APEX) sebuah LSM Jepang dan Yayasan Dian Desa bekerja sama terkait pemanfaatan limbah biomasa menjadi bahan bakar cair. Proyek kerja sama ini pun didanai Japan International Cooperation dan Japan Science and Technology.

Nantinya kerja sama riset ini akan membuat metanol dari limbah biomasa seperti tandan kosong kelapa sawit, sabut kelapa sawit, tempurung kelapa sawit, serbuk gergaji dan sekam padi.

Direktur Eksekutif APEX Nao Tanaka mengungkapkan LSM yang dipimpinnya memang sudah lama terlibat dalam pengembangan teknologi tepat guna.

Ia menjelaskan dalam proses menghasilkan metanol dimulai dari reaktor yang diberi partikel tanah liat sebagai katalis dari bawah diinjeksi dengan uap yang suhunya mencapai 700 derajat celcius.

Kemudian dimasukkan limbah biomasa yang nantinya akan menghasilkan gas yang bisa dibakarkan. Kemudian ada reaktor tekanan tinggi dengan katalis tertentu dan menghasilkan metanol yang sudah cair.

Unggul berharap tahun 2020 bioetanol sudah dapat dikomersialisasi. Setelah nantinya melewati studi kelayakan diharapkan harga bahan bakar ini kompetitif sehingga tidak perlu lagi subsidi. [R-15/L-8]



Kirim Komentar Anda


Pasang iklan disini via B1 Ads
Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.