SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 1 November 2014
BS logo

Hamas Tolak Sikap Arab Soal Pertukaran Tanah Dengan Israel
Jumat, 3 Mei 2013 | 9:05

Ismail Haniya. [Google] Ismail Haniya. [Google]

[KOTA GAZA]  Perdana Menteri Hamas, Ismail Haneya, Kamis (2/5), menolak sikap dukungan negara-negara Arab bagi pertukaran tanah guna menyelesaikan konflik Palestina-Israel.

"Perbatasan kami adalah tanah Palestina, yang bersejarah, dan tanah itu adalah tanah kami dan kami menolak gagasan Arab," kata Haneya dalam satu pernyataan singkat.

Pada Selasa (30/4), para menteri Arab,  yang dipimpin oleh menteri luar negeri Qatar,  memberitahu Menteri Luar Negeri AS John Kerry bahwa Liga Arab tak keberatan dengan kesepakatan pertukaran tanah terbatas yang disepakati antara Israel dan Palestina.

Sikap Arab tersebut dimaksudkan untuk mendukung pemimpin Palestina yang berpusat di Tepi Barat Sungai Jordan bagi kemungkinan dilanjutkannya pembicaraan perdamaian dengan Israel, yang ditaja oleh Amerika Serikat dan dilandasi atas penyelesaian dua-negara.

"Ini adalah konsesi yang tak bisa diterima," kata Haneya sebagaimana dilaporkan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat pagi. Ia menyalahkan pesaingnya di Pemerintah Otonomi Nasional Palestina (PNA) karena memberi lampu hijau bagi gagasan pertukaran tanah.

Haneya kembali menyampaikan pendirian Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS), yang dipimpinnya, perlawanan bersenjata "adalah pilihan strategis bagi rakyat Palestina dan apa yang telah diambil melalui kekerasan hanya dapat direbut kembali melalui kekuatan".

Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah menyatakan sikap Liga Arab belum lama ini, yaitu menerima pertukaran tanah yang sama, terbatas dan disepakati antara Israel dan Palestina, adalah hasil dari saling pengertian yang dicapai antara Abbas dan Kerry selama pertemuan mereka belum lama ini di Kota Ramllah, Tepi Barat Sungai Jordan, kata seorang pejabat PNA.

Pembicaraan perdamaian antara Israel dan Palestina telah berhenti pada 2010 karena masalah pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat.

Abbas mengatakan kepada Kerry ia menyambut baik gagasan mengenai pertemuan puncak empat-pihak, tapi sebelum menghadiri pertemuan tingkat tinggi apa pun, Israel harus melaksanakan komitmennya.

Abbas, Selasa (30/4), mengatakan di Wina bahwa negaranya takkan melanjutkan pembicaraan perdamaian dengan Israel kecuali negara Yahudi itu menghentikan pembangunan permukiman di Tepi Barat dan Jerusalem Timur.

Abbas berharap Amerika Serikat akan menekan Israel agar menerima baik dilanjutkannya pembicaraan perdamaian dengan dasar penyelesaian dua negara, kata seorang pejabat Palestina, Kamis. [Ant/L-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!