SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 21 Oktober 2014
BS logo

Kepentingan Asing Bisa Timbulkan Disintegrasi
Selasa, 19 Juni 2012 | 10:41

Direktur ASEAN Centre, MGIMO University, Moskwa, Dr Victor Sumsky (ketiga dari kiri) memperlihatkan sejumlah koran Indonesia yang menjadi bahan referensi mahasiswa di kampusnya, di Moskwa, Rusia, Senin (18/6). [SP/Asni Ovier DP] Direktur ASEAN Centre, MGIMO University, Moskwa, Dr Victor Sumsky (ketiga dari kiri) memperlihatkan sejumlah koran Indonesia yang menjadi bahan referensi mahasiswa di kampusnya, di Moskwa, Rusia, Senin (18/6). [SP/Asni Ovier DP]

[MOSKWA] Kawasan Asia-Pasifik saat ini memiliki posisi yang sangat penting dalam geopolitik dunia. Banyak kepentingan internasional yang bermain di negara-negara kawasan itu, termasuk di Indonesia.
Kepentingan asing itu harus bisa dikelola dengan baik. Jika tidak, hal tersebut bisa menimbulkan disintegrasi bangsa.

Pandangan itu disampaikan Dr Victor Sumsky, Direktur ASEAN Centre, MGIMO University, Moscow, saat menerima delegasi organisasi mahasiswa Indonesia di Moscow, Rusia, Senin (18/6).

Wartawan SP, Asni Ovier DP melaporkan, delegasi Indonesia terdiri dari Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Noer Fajrieansyah, Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Addin Jauharudin, dan Sekjen Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma) Indonesia Dhika Yudhistira. Mereka didampingi Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) Putut Prabantoro.

"Banyak pemain luar di Asia-Pasifik, sebuah kawasan yang dinamis dan memunculkan optimisme. Akibatnya, bakal ada bentrokan kepentingan. Kalau kawasan itu mau pertahankan dinamis dan optimisme itu, negara-negara di sana harus bisa menetralisasi kepentingan-kepentingan asing itu," ujar Viktor.

Dikatakan, kepentingan asing itu bisa menimbulkan bibit-bibit disintegrasi bangsa, termasuk di Indonesia. Untuk menghindarinya, harus ada keseimbangan antara "pemain-pemain" asing dan dalam negeri, terutama utk pengelolaan sumber daya alam. "Di sini, pengelolaan yang dilakukan negara sangat penting dan tetap diperlukan," ujarnya.

Harmonisasi

Sementara itu, Duta Besar Keliling Kementerian Luar Negeri Rusia untuk Negara-negara Islam Konstantin Shuvalov mengatakan, kerukunan umat beragama dan suku-suku menjadi modal utama untuk membangun bangsa. Paling tidak, ujarnya, hal itu dialami Rusia saat ini.

Terkait itu, negara tidak banyak ikut campur dalam urusan-urusan agama. "Rusia bukan negara agama. Semua lembaga agama di Rusia bebas melakukan kegiatan rohani. Meski demikian, di sini ada peraturan yang menentukan apakah suatu perkumpulan disebut agama atau sekadar asosiasi," ujarnya.

Dia menjelaskan, di Rusia ada empat agama tradisional, yakni Kristen Ortodoks, Islam, Yahudi, dan Buddha. Namun, pemerintah tidak keberatan kalau ada agama lain masuk. Yang penting, agama baru itu tidak banyak mempengaruhi secara negatif psikologi masyarakat Rusia.

Menurut Konstantin, persoalan yang terkait keagamaan juga kerap muncul di Rusia, seperti saat ada rumah ibadah yang akan didirikan. Tapi, ujarnya, pihak-pihak yang keberatan terhadap pendirian rumah ibadah itu bukan karena alasan agama.

"Orang-orang yang keberatan terhadap pendirian tempat ibadah lebih karena mereka merasa kenyamanannya terganggu. Misalnya, kehadiran rumah ibadah yang membuat jalanan macet atau suara lonceng gereja yang dianggap mengganggu mereka," katanya.

Persoalan-persoalan seperti itu langsung bisa diatasi dengan melibatkan tokoh-tokoh agama dan masyarajat setempat. Penyelesaiannya dilakukan melalui jalur musyawarah. Tapi, kalau ada unsur kriminal dalam persoalan itu, aparat keamanan yang segera bertindak.

Sedangkan, Putut Prabantoro mengatakan, kunjungan ke Rusia agar para calon pemimpin bangsa, seperti dari HMI dan PMII, memperoleh pandangan yang luas dalam rangka membangun Indonesia. Apalagi, Rusia mempunyai peranan yang penting di tingkat global, terutama di Timur Tengah dan memiliki hubungan yang erat dengan Indonesia.

"Ini bukan yang pertama. Kami juga sudah ke Vatikan. Masukan dari tokoh-tokoh di Rusia menambah ilmu kami untuk menjaga kerukunan umat beragama dan suku dalam rangka membangun Indonesia," katanya.

Ketua Umum HMI Noer Fajrieansyah menambahkan, pihaknya mendapatkan pelajaran yang berarti selama kunjungan ke Rusia. Meski terdiri dari beragam suku dan agama, Rusia ternyat bisa menyelaraskan politik tanpa melibatkan agama.

"Kehadiran kami tidak hanya berbicara soal agama, tapi juga studi komparasi sosial dan politik untuk bicara tentang nasionalisme. Rusia adalah contoh yg baik untuk membicarakan nasionalisme. Integritas yang dibangun negara ini bisa dijadikan contoh," katanya.*




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!