SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 30 Oktober 2014
BS logo

SBY Minta Myanmar Lanjutkan Rekonsiliasi Etnis Ronhingya
Rabu, 24 April 2013 | 7:20

Kekerasan di Myanmar mengakibatkan sejumlah rumah dibakar. [Reuters] Kekerasan di Myanmar mengakibatkan sejumlah rumah dibakar. [Reuters]

[NAY PYI TAM] Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta Presiden Myanmar U Thein Sein agar terus melanjutkan proses rekonsiliasi antara etnis Ronhingya dan Rakhine.

Rekonsiliasi sangat penting untuk menumbuhkan perdamaian dan persahabatan di antara kedua belah pihak. Rekonsiliasi juga untuk mengakhiri aksi kekerasan terhadap etnis Ronhingya.

"Presiden secara khusus singgung masalah Ronhingya. Presiden sampaikan dorongan dan anjuran agar Myanmar lanjutkan rekonsiliasi etnis terkait yaitu Rohingya dan Rakhine," kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengutip pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di NayY Pyi Tam, ibukota Myanmar, Selasa (23/4).

Marty mengemukakan permintaan itu disampaikan SBY pada pertemuan bilateral dengan Thein Sein. Marty berada di Myanmar dalam rangka mendampingi Presiden SBY dalam kunjungan selama dua hari (23-24 April 2013) di negara tersebut.

Marty menjelaskan sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia, Indonesia mendorong rekonsiliasi dan penyelesaian konflik Ronhingya. Indonesia juga akan membantu percepatan pembangunan di daerah tersebut.

"Presiden mengajak BUMN untuk ikut bangun ekonomi di sana," tuturnya.

Menurutnya, Presiden Myanmar mengakui ada konflik komunal di negaranya. Karena itu, dia bertekad untuk mengatasi dan menyelesaikannya.

Thein Sein juga menyambut baik dan berterimakasih atas bantuan dari Indonesia. Dia pun setuju adanya investasi Indonesia di daerah tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya, kekerasan sektarian kembali terjadi di Myanmar. Dalam bentrokan itu, sepuluh orang muslim tewas dan ratusan rumah dibakar.

Muslim Myanmar mencapai lima persen dari 53 juta penduduk Myanmar. Kelompok terbesar muslim Myanmar adalah etnis-Bengali, umumnya dikenal sebagai Rohingya.

Mereka menetap di provinsi Rakhine. Sisanya adalah muslim keturunan India dan China masing-masing menetap di Yangon. [R-14]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!