SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 1 November 2014
BS logo

Bepe: Saya Adalah Generasi yang Gagal!
Rabu, 3 April 2013 | 11:28

Bambang Pamungkas [jakartaglobe] Bambang Pamungkas [jakartaglobe]

“Pada akhirnya saya memang harus menerima kenyataan, bahwa tidak ada satu gelar bergengsi yang mampu saya berikan untuk Indonesia. Dan, oleh karena itu seperti yang pernah saya janjikan, maka di akhir artikel ini saya akan berteriak dengan lantang, jika ‘Saya Adalah Generasi Yang Gagal!”  

Begitulah ungkapan legenda sepakbola Indonesia Bambang Pamungkas mengenai titian kariernya bersama tim nasional yang diungkapkan melalui situs resminya, bambangpamungkas20.com.

Mengenakan kostum berlambang Garuda di dada selama 14 tahun, Bepe, sapaan akrabnya, akhirnya memutuskan pensiun. Ajang Piala AFF 2012 menjadi titik akhir dirinya membela panji-panji Merah Putih.   

Kegagalan yang dimaksud sang bomber mengacu kepada nihilnya prestasi yang diberikannya selama membela negara.

Memulai debut pada 1999 di tim senior, pemilik 85 penampilan dengan 37 gol bersama timnas ini tidak mampu memberikan satu pun gelar di ajang resmi yang pernah diikuti Indonesia.

Prestasi terbaiknya hanya membawa Indonesia tiga kali menjadi runner-up Piala AFF.   Terlepas dari faktor prestasi, rekam jejak Bepe sebenarnya jauh dari kata gagal.

Terutama dalam kurun waktu dua tahun ini ketika dunia si kulit bundar Tanah Air dihantam oleh konflik berkepanjangan. Sikap yang ditunjukkan pemain yang khas dengan nomor punggung 20 ini pun patut dijadikan panutan bagi pemain lain.  

Ketika adanya pelarangan pemain ISL memperkuat timnas tahun lalu, Bepe yang ketika itu masih memperkuat Persija Jakarta, memilih menjadi pembangkang. Ia bersikukuh memenuhi panggilan negara daripada mengikuti aturan yang diterapkan KPSI.  

“Pilihan tersebut jelas bukan tanpa risiko, baik bagi saya secara pribadi maupun masa depan karier sepakbola saya. Banyak orang yang menganggap saya ingkar janji, tidak sedikit yang menganggap saya sebagai seorang pengkhianat. Akan tetapi saya adalah saya, pribadi yang selalu berusaha untuk berkata benar jika memang benar, dan mengatakan salah jika memang demikian adanya, dengan apa pun resikonya,” tulis Bepe.  

Ya
, pilihan dengan segudang risiko. Caci maki dan sumpah serapah mengalir deras dari mulut para pecinta sepakbola nasional terkait keputusan tersebut. Namun, jika ditelaah lebih dalam, pria kelahiran Semarang ini telah memberikan contoh kepada pemain lain bahwa panggilan membela negara berada di atas segalanya.  

Ketika banyak pemain ISL takut dipecat klubnya karena bergabung bersama tim “Garuda”, saat itu Bepe justru menjadi satu-satunya nama yang terdaftar sebagai pemain ISL di skuad asuhan Nilmaizar. Melalui sikapnya, ia menunjukkan jika pemain bukan hanya menjadi sapi perah bagi klub, melainkan harus memiliki prinsip yang jelas terhadap panggilan membela negara.  

“Mereka berpikir saya telah merusak kredibilitas dan reputasi dengan menumpahkan tinta hitam di atasnya. Tetapi, tidak demikian bagi saya pribadi. Saya merasa telah mengakhiri perjalanan panjang bersama tim nasional, dengan sebuah kebanggaan dan kehormatan, setidaknya sebagai sebuah pribadi yang merdeka,” ujarnya.  

Selama 14 tahun membela negara tanpa lelah bukanlah perkara mudah. Bepe mungkin memang gagal memberikan trofi, tetapi ia berhasil membuka mata dan pikiran masyarakat Indonesia betapa pentingnya membela negara dalam hal apapun. “Cepat atau lambat, jersey merah-putih itu pasti akan tanggal dari badanku. Akan tetapi satu hal yang pasti, lambang garuda itu akan tetap melekat di dada kiriku, tinggal di sana sampai akhir hayatku.”    

Terima kasih, Kapten! [SP/Haikal Pasya]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.