SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 23 Oktober 2014
BS logo

Abeh Sa’ari Koleksi Tumbuhan Langka karena Bunga Bangkai
Selasa, 9 Oktober 2012 | 15:43

Abeh Sa Abeh Sa'ari dan koleksi bunga bangkainya [SP/Fana fadzikrillah]

[JAKARTA] Bunga bangkai atau Amorphophallus titanum becc, kembali tumbuh di pekarangan rumah Abeh Sa'ari (62), di Jalan Pembinaan II RT 13/2 no. 5, Kelurahan Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur.  

Bunga yang memiliki ciri khas menyebarkan bau tak sedap ini sudah ketiga kalinya tumbuh di lahan yang sama. Saat tumbuh pertama kali, tanaman yang berbunga satu tahun sekali tersebut keluar begitu saja dari dalam konblok halaman rumahnya.

"Sebelum ini memang dua kali bunga bangkai tumbuh secara alami. Biasanya bulan Desember mekarnya," katanya.

Dijelaskan Abeh, bunga yang baru mekar ini tidak sama dengan bunga yang tumbuh sebelumnya. Ditemui di rumahnya yang asri, Abeh menuturkan bunga yang mekar kali ini merupakan hasil eksperimennya merawat tunas bunga bangkai yang diberi anak bungsunya Chaerudin.

"Anak saya lagi nganter besanan di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. Saya ga nitip oleh-oleh selain tumbuhan-tumbuhan langka. Dikasih bunga bangkai langsung saya rawat. Sengaja saya coba tanam di pot, dan ternyata berhasil," tutur ayah dari empat anak ini.

Selain tanaman yang hanya berbunga satu tahun sekali itu, Abeh mengungkapkan terdapat tiga tunas bunga bangkai lagi di halaman seluas sekitar 100 meter persegi miliknya. Dua tunas didapat dari rekannya dari Bogor, sementara satu lagi merupakan bonggol bunga bangkai yang mekar pertama kali di pekarangan rumah bercorak Betawi itu pada 2010 lalu.   Abeh mengungkapkan semenjak kemunculan bunga bangkai itu, dia terobsesi untuk membudidayakan bunga tersebut. Sebagai orang Betawi, bunga bangkai dikenal dengan nama suwek, dan sering dijadikan bahan makanan.

"Dulu banyak, tapi ga berkembang di Jakarta, karena setelah pohonnya mati, dan akan menjadi bunga sudah digali, dan diambil umbi-umbiannya untuk bikin sayur," katanya.

Dia mengaku penasaran dengan khasiat dari bunga bangkai ini.

"Saya ingin teliti, kalau ada khasiatnya jadi semakin semangat untuk membudidayakan tanaman ini," katanya.

Semenjak pekarangannya ditumbuhi bunga bangkai, kakek lima cucu ini mengalihkan hobinya bercocok tanam, dari yang semula tanaman apotik, menjadi tanaman langka.

Dikatakan, setiap kerabat atau kenalannya berangkat ke luar kota, dia selalu meminta dibawakan tanaman langka. Di pekarangannya, selain bunga bangkai telah ditanam beberapa tanaman langka seperti gandaria, ceremai, jambu bol, jeruk purut.

"Sebenarnya banyak tanaman yang asli Betawi ini. Beberapa nama daerah di Jakarta itu dari nama tanaman atau pohon kaya gandaria, menteng. Kalau sekarang saya lagi nyari buah nam-nam, sama pohon kemang," katanya.

Menurutnya proses penanaman bunga bangkai dan tanaman langka lain tergolong mudah dan sederhana. Menurutnya yang terpenting dibutuhkan kesabaran dalam merawat tanaman-tanaman itu.

"Tidak terlalu rumit kok, seperti menanam pohon yang lain, hanya dipastikan setiap tiga bulan sekali diberikan pupuk," jelasnya.

Dikarenakan hobinya ini, tidak ada warga di sekitar rumah Abeh yang protes ketika bunga bangkai mekar dan mengeluarkan bau tak sedap.

"Baunya bisa sampai 50 meter. Saya bilang saja, ada tikus yang mati," candanya.

Ditemui di tempat yang sama, Chaerudin, menjelaskan ayahnya memang memiliki kegemaran untuk menanam beragam jenis tanaman dan pohon terutama yang langka di halaman rumah.

"Memang suka menanam, terutama pohon-pohon yang sudah jarang ditemui," jelasnya.

Hal itu pula yang membuat dirinya teringat ketika mengunjungi daerah Tasikmalaya dan secara tidak sengaja menemukan tunas bunga bangkai di sekitar semak belukar.

"Sewaktu singgah di hutan saya sempat melihat ada tunas bunga yang diperkirakan seperti bunga bangkai yang tumbuh dirumah. Lalu saya ambil dan saya berikan ke bapak. Untung-untungan juga sebenarnya, karena tidak semua tunas pohon dapat memunculkan bunganya," tambah Chaerudin.

Chaerudin mengaku saat ini memiliki kegemaran yang sama dengan Abeh. Jika pergi ke daerah lain, dia berusaha untuk membawakan oleh-oleh favorit sang ayah.

"Untuk mengajarkan anak dan cucu kita kelak tentang kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia, agar bisa menikmatinya juga," jelasnya. [F-5]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!