SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 21 Oktober 2014
BS logo

BNN Tangkap Gembong Narkoba di Lapas
Rabu, 28 November 2012 | 12:13

Ilustrasi gembong narkoba [google] Ilustrasi gembong narkoba [google]

[JAKARTA] Ancaman hukuman mati dan kehidupan sempit di balik jeruji tak cukup membuat para residivis bertobat. Tujuh narapadina lembaga pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, dan seorang narapidana penghuni Lapas Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara diringkus petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) yang bekerja sama dengan Kementrian Hukum dan HAM, Selasa (27/11).  

Mereka ditangkap karena diketahui merupakan pengendali sindikat narkoba internasional. Dari delapan napi yang ditangkap, lima di antaranya merupakan terpidana mati kasus narkoba dan pembunuhan berencana.  

Tujuh tersangka yang diciduk di Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah langsung dibawa menuju Jakarta dan tiba di Kantor BNN sekitar pukul 02.00 WIB. Seorang tersangka yang ditangkap di Lapas Tanjung Gusta, Medan masih dalam perjalanan menuju Jakarta.  

"Delapan tersangka kita tangkap bersamaan di lokasi yang berbeda. Tersangka yang kita tangkap dari Nusakambangan sudah tiba, sedangkan tersangka dari Medan masih dalam perjalanan," kata Kepala Bagian Humas BNN, Sumirat, Rabu (28/11) dinihari.  

Dipaparkan Sumirat, terungkapnya para tersangka pengendali jaringan narkoba ini berdasar informasi sejumlah tersangka kasus narkoba yang sebelumnya ditangkap oleh BNN. Tiga orang pengendali merupakan otak penyelundupan kasus narkoba seberat 2.609,9 gram sabu yang melibatkan wartawati berinisial AC yang ditangkap BNN pada 5 November lalu di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat.

Ketiga tersangka pengendali kasus ini adalah dua orang warga Nigeria yang mendekam di Nusa Kambangan, dan seorang napi di Lapas Tanjung Gusta Medan bernama Samuel Obina Nwajagu yang kini mendekam di Lapas Batu, Nusakambangan diketahui sebagai pemilik sabu dibawa AC, sementara rekannya bernama Hillary K. Chimize yang mendekam di Lapas Pasir Putih, Nusakambangan diketahui mendapat sejumlah uang dari AC.

Samuel diduga kuat berperan sebagai pengendali jaringan narkoba dari dalam Lapas.  

Selain kasus yang melibatkan wartawati, para tersangka yang ditangkap merupakan pengendali kasus narkoba jenis sabu seberat 1.250,6 gram yang dikemas menjadi 97 kapsul di kawasan Depok, Jawa Barat, pada 13 September 2012. Satu kasus lainnya adalah pengungkapan penyelundupan sabu seberat 2.415,5 gram yang dibawa dari Papua Nugini menuju Indonesia melalui Pos Lintas Batas Sukauw, Jayapura.  

"Total ada tiga kasus besar yang sebelumnya kita ungkap, dan delapan orang yang kita tangkap adalah para pengendalinya," tutur Sumirat.  

Lebih jauh Sumirat mengungkapkan, para pengendali yang ditangkap sebagian besar merupakan terpidana mati. Disebutkan, delapan napi yang ditangkap antara lain Obina Nwajagu merupakan terpidana mati atas kepemilikan 400 gram heroin. Dalam penangkapan para pengendali ini, BNN juga meringkus seorang pengendali bernama Hadi Sunarto alias Yoyok.

Dengan sebutan di kalangan pengedar sebagai 'Jenderal Besar', Hadi merupakan napi yang terjerat berbagai kasus narkoba. Setelah divonis 20 tahun penjara yang membuatnya meringkuk di Lapas, Tersangka kembali ditangkap pada Februari 2011 karena kasus pengendalian sabu antarlapas.  

Pengendali lain yang ditangkap adalah Silvester Obiekwe Nwaolise alias Mustofa. Napi asal Nigeria yang mengendalikan narkoba dari dalam Lapas Batu, Nusa Kambangan ini merupakan terpidana mati kasus kepemilikan 1,2 kilogram heroin yang dimasukkan dalam 66 kapsul dan disembunyikan dalam anus.  

Penghuni lapas yang ditangkap dari Lapas Pasir Putih, Nusa Kambangan, Humphrey Ejike alias Doktor alias Koko merupakan terpidana mati atas kepemilikan heroin seberat 1,7 kilogram. Sedangkan rekannya sesama penghuni Lapas Pasir Putih, Hillary K. Chimize adalah terpidana mati atas kepemilikan 5,8 kilogram heroin.  

Hillary merupakan terpidana mati yang dibatalkan dan diganti dengan hukuman menjadi 12 tahun penjara setelah Mahkamah Agung (MA) mengabulkan Peninjauan Kembali (PK)-nya kasus ini. Hillary yang sudah mendekam penjara lebih dari 10 tahun itu, seharusnya tinggal dua tahun lagi mendekam di penjara.  

Terdapat juga nama Ruddi Cahyono, penghuni Lapas Narkotika Nusa Kambangan yang divonis hukuman 20 tahun penjara atas kasus narkoba. Sementara Yadi Mulyadi merupakan terpidana mati atas kasus pembunuhan dan kini terlibat mengendalikan bisnis Narkoba dari dalam sel. Sedangkan pengendali lain, Samuel yang menghuni Lapas Tanjung Gusta, Medan, sebelumnya telah divonis 20 tahun penjara.  

Selanjutnya, Sumirat menegaskan, pihaknya akan terus memeriksa dan mengawasi secara ketat sejumlah narapidana narkoba, termasuk terpidana mati kasus narkoba lain. Dikatakan, hingga 2012 jumlah terpidana mati terkait narkotika seluruhnya ada 66 orang. [F-5]      




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!