SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 19 Desember 2014
BS logo

Rhoma Irama Ingkari Kebhinnekaan Indonesia
Kamis, 9 Agustus 2012 | 6:50

Rhoma Irama-[google] Rhoma Irama-[google]

[JAKARTA]  Meski sudah dimintai keterangan oleh Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) DKI Jakarta, bahkan menangis saat memberikan keterangan pers, Senin (6/8), kritikan terhadap Rhoma Irama tidak serta merta berhenti.

Ketua Yayasan Miraya Sumatra, Irma Hutabarat, misalnya, menuding apa yang dilakukan raja dangdut itu sebagai tindakan yang mengingkari ke-Bhinneka Tunggal Ika-an Indonesia. ”Saya mempertanyakan ke-Bhineka Tunggal Ika-an Rhoma. Sementara, lewat lagunya, Rhoma dulu kerap melontarkan pesan moral tentang pluralisme Indonesia,” kata Irma, Rabu (8/8/).

Pada era 1970-an, Rhoma Irama memang pernah populer saat mengusung hits bertajuk ”135 Juta”. Inilah lagu yang berkisah tentang potret Indonesia sebagai negeri yang terdiri dari banyak suku bangsa. ”Janganlah saling menghina, satu suku bangsa dengan lainnya. Karena kita satu bangsa dan satu bahasa Indonesia,” begitu antara lain bunyi lirik lagu tersebut. 

Irma Hutabarat menambahkan, Indonesia memiliki sejarah panjang soal keragaman suku, agama, ras, dan antar-golongan.

”Penduduk Indonesia bukan hanya orang Melayu. Ada juga keturunan India, keturunan Arab, keturunan Cina. Agama yang diakui negara juga tidak hanya satu. Keanekaragaman itulah yang justru membentuk Indonesia sebagai negara besar,” tegasnya.

Menurut aktivis perempuan ini, ceramah yang disampaikan Rhoma Irama bersifat provokatif dan berpotensi memicu keretakan dalam masyarakat. ”Kenapa Rhoma tidak berbicara soal lain, seperti poligami misalnya,” cetus Irma.

Terkait kontroversi seputar ceramah itu sendiri, Irma setuju menyerahkan permasalahan tersebut kepada pihak terkait, yang dapat menyikapi isi ceramah Rhoma dari perspektif Bhineka Tunggal Ika dan Undang-Undang Dasar 1945.

”Belajar dari pilkada DKI putaran pertama, ternyata orang Jakarta bisa menentukan sendiri idolanya. Penggunaan metode SARA seperti ini lama-lama tidak laku,” ujarnya.  

Irma mengatakan, masyarakat Jakarta yang pluralis telah terbukti mampu menyaring dan tidak terpengaruh dengan isu SARA. Bagi dia, mengusung isu SARA jelas sebuah pilihan yang gegabah.

”Masyarakat Jakarta pluralis dan menghargai perbedaan. Saya yakin, mereka tak akan berpaling. Yang penting dikedepankan itu isu pembaruan. Siapa yang mampu menawarkan perbedaan, dia yang akan dipilih,” tandasnya. [Ant/L-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!