SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 22 Desember 2014
BS logo

Lonjakan Harga Daging di Jakarta Berdampak Negatif di Daerah
Rabu, 21 November 2012 | 10:55

Ilustrasi harga daging sapi naik [antara] Ilustrasi harga daging sapi naik [antara]

[YOGYAKARTA] Untuk mengatasi kelangkaan daging sapi akibat kebijakan pengetatan impor daging, pemerintah seharusnya membantu peternak dalam negeri, karena kelangkaan daging juga disebabkan oleh minimnya pasokan.  

Diungkapkan Kepala Dinas Pertanian DI Yogyakarta, Nanang Suwandi, sudah saatnya pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan subsidi bagi peternak sapi. Meski diakui dampaknya tidak bisa langsung dirasakan, namun menurut Nanang, jika Indonesia ingin melakukan swasembada daging dan susu maka, bentuk-bentuk perhatian kepada peternak harus ditingkatkan.  

“Komponen utama dalam kehidupan peternak adalah pakan. Sepanjang musim kemarau, rumput segar sulit didapat, karena itu banyak ternak yang tidak memenuhi standar bobot yang layak untuk dipotong,” ujarnya.  

Lonjakan harga daging di Jakarta, berdampak negatif bagi daerah lain. Nanang bahkan mensinyalir adanya keengganan peternak di daerah untuk mengirim daging ke Jakarta, jika nasib peternak tidak juga terperhatikan.  

“Contoh kasus, Nusa Tenggara Timur (NTT) pernah menjadi lumbung sapi. Tetapi, karena perhatian pemerintah sangat minim, sekarang daerah lumbung sapi itu tinggal nama. Termasuk mereka (peternak NTT) lebih memilih menjual ke daerah lain dalam bentuk hidup,” ujarnya.  

Menurut Nanang, lonjakan harga terjadi akibat pembatasan dan pengetatan impor daging sapi dan kenaikan harga sapi pada Idhul Adha lalu. Langkah jangka pendek dan panjang harus segera dilakukan, termasuk subsidi pakan yang menjadi komponen terbesar dalam produksi.  

"Sebelum Lebaran Haji, harga sapi hidup berkisar antara Rp 5 juta-8 juta/ekor. Saat lebaran, harga naik menjadi Rp 9 juta-12 juta. Akibatnya, banyak petani enggan menjual hewan ternaknya dengan harga murah, namun terus ingin mengikuti harga pasar," ungkapnya.  

Diketahui, selain Jakarta dan kota-kota lain di luar pulau Jawa, harga daging sapi di pasar tradisional Kota Yogyakarta juga mengalami kenaikan hingga 3% sejak minggu kedua bulan November.

Menurut Staf Seksi Pengadaan dan Penyaluran Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop) DIY, Sugiyono, harga mengalami kenaikan akibat meningkatnya  harga daging sapi nasional.  

Harga daging sapi di DIY untuk kualitas premium naik dari Rp 80.000 menjadi Rp 82.000/kg dan daging sapi medium naik dari Rp 75.000 menjadi Rp 77.400/kg. Meski kenaikan harga daging belum sampai di atas 5%, namun kenaikan harga daging ini cukup mengkhawatirkan.  

“Selama ini, pasokan daging di DIY mampu dipenuhi secara mandiri, meski saat perayaan hari besar keagamaan tetap di tambah dari Jawa Tengah, namun jumlahnya hanya 10%,” katanya.  

Namun, mengingat harga daging di Jakarta jauh lebih tinggi, ditengarai peternah DIY juga memilih menjual daging sapinya ke luar DIY. Menurutnya, hal ini wajar dan sesuai mekanise pasar.  

"Saat ini, kenaikan harga daging nasional yang fantastis, telah menciptakan model pasar baru. Peternak DIY pun memilih mengirimkan sapinya, dari pada pasar lokal. Akibatnya sirkulasi dalam daerah juga terganggu,” katanya. [152]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!