SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 25 Oktober 2014
BS logo

Mesum di Pura, Dua Turis Dipolisikan
Sabtu, 9 Maret 2013 | 7:26

[DENPASAR]  Bupati Gianyar, Anak Agung Bharata menganggap peristiwa mesum pasangan suami-istri asal Estonia di Pura Keramat Mengening sebagai bencana moral.
Agar bencana moral itu tidak terjadi lagi atau terulang kembali  maka mulai sekarang pura harus mendapatkan penjagaan khusus.

“Penjaga pura akan mendapat honorarium yang diambilkan dari perolehan pajak hotel dan restoran di kabupaten itu. Penjagaan pura ini juga perlu untuk menghindari terjadinya pencurian benda keramat dan kasus lainnya seperti mesum di pura," tegas Gung  Bharata Jumat (8/3)

Beratha yang juga politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu juga menawarkan bantuan kamera sirkuit (CCTV) untuk dipasang di setiap pura. Terkait upacara penyucian Pura Keramat Mengening, menurut Bupati, pemerintah daerah siap menanggung biayanya.

"Saat ini biar masyarakat desa pakraman dulu yang menggelar ngicalang mala  (membersihkan kotoran)," kata Bharata. Sebelumnya, pasangan suami-istri asal Estonia, Silman Urmas (43) dan Silman Katrin (23) dilaporkan oleh warga saat kedapatan melakukan mesum berupa hubungan suami istri di kawasan pura yang berlokasi di Banjar Saraseda, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Rabu (6/3).

Suami-istri yang tinggal di vila di sekitar Monkey Forest, Kecamatan Ubud, itu sempat mandi di kolam dekat pura dalam keadaan telanjang bulat. Katrin selama ini bekerja sebagai guru yoga di Ubud. Setelah menjalani pemeriksaan selama 24 jam, pasangan bule yang berhubungan seks di Pura Mengening, Tampaksiring, Gianyar, dibebaskan dari Polres Gianyar. Kedua bule tersebut diserahkan ke konsulatnya.
Kapolres Gianyar Ajun KOmisaris Besar Polisi  Hadi Purnomo mengatakan, pembebasan bule tersebut dilakukan karena telah ada surat pernyataan dari masyarakat, dalam hal ini desa pakraman, untuk tidak menempuh jalur hukum positif. Dari paruman, masyarakat memilih jalur hukum adat sehingga nanti pasangan bule itu dikenakan sanksi adat.
Berkenaan dengan tidak dijeratnya dengan hukum positif, Kapolres Hadi Purnomo menjelaskan, polisi tidak mempunyai dasar karena masyarakat sendiri dalam peristiwa itu tidak ada keberatan dan tidak ada laporan polisi dari masyarakat. ''Polisi membebaskannya karena tidak ada dasar laporan dari masyarakat,'' jelasnya.

Kapolres juga mengatakan, pengembalian pasangan bule itu dikarenakan visa kunjungan miliknya telah habis. Untuk itulah mereka diserahkan ke konsulatnya. Dipidanakan
Kasus warga asing asal Estonia yang tertangkap kedapatan melakukan hubungan badan di Pura Mengening mengundang perhatian pakar hukum Prof Dr IGN Wairocana, SH, MH. Akademisi Universitas Udayana ini mengecam perbuatan tersebut yang dianggapnya telah melecehkan umat Hindu.

''Ini bisa dipidanakan, karena sudah termasuk pelecehan. Jika awig-awig tidak bisa menjerat karena diperuntukkan bagi masyarakat adat, paling tidak mereka (warga asing) harus dilaporkan ke kedutaan atau konsul perwakilan yang ada di Bali supaya pemerintahnya tahu,'' ungkap Wairocana.

Wairocana juga mengatakan, untuk mengembalikan kesucian pura, Pemkab Gianyar harus membebankan kepada pasangan mesum tersebut untuk memberikan efek jera. ''Jangan sampai setiap wisatawan yang berlibur dan melakukan kesalahan serupa mengaku tidak tahu hal seperti itu. Kepolisian harus bertindak tegas,'' katanya.

Anggota Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) Nyoman Kandia mengatakan, perilaku warga asing tersebut tidak bisa ditoleransi. Apalagi, diberikan kemudahan oleh pemerintah dengan membantu mereka mengembalikan kesucian pura. ''Warga kita saja yang melanggar kesepakatan dikenakan sanksi adat, nyarunin desa, bahkan kasepekang. Kalau  ada turis yang melanggar mesti dikenakan sanki juga. [137]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!